**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Salam sejahtera,
Para netters yang terhormat, berikut kami postingkan  sebuah analisis kasus
Ambon oleh sdr. Faried Basalamah, diperoleh dari milis "apakabar".
Mudah-mudahan bermanfaat.

Salam dan Doa,
Redaksi Eskol
------------------

"KASUS AMBON DIMULAI 10 TAHUN YANG LALU"
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Seorang tokoh politik terkenal pernah berceritera 10 tahun yang lalu,
betapa mengerikan yang akan terjadi di Ambon dikemudian hari. Jadi apa yang
terjadi hari ini adalah skenario 10 tahun yang lalu, suatu isyarat ramalan
yang mengerikan. Waktu itu ICMI berhasil menempatkan ketua ICMI cabang
Ambon dan Maluku sebagai gubernur Maluku. Tokoh Ketua Cabang tersebut ialah
Mohamad Akib Latuconsina yang terpilih menjadi gubenrnur Maluku tahun 1992.
Dengan berapi-api ia mengatakan bahwa Ambon akan menjadi Islam dan halangan
untuk berdirinya negara Islam Indonesia sudah tidak ada lagi. Seluruh
pejabat pemerintahan diganti dan yang paling mencolok ialah naiknya pejabat
Muslim dengan marga Tuasikal, Latuconsina, dan Marabessy menggantikan
pejabat-pejabat Kristen dari marga Wattimena, Tutupoli, Manuhutu dan
Talaut.

Pola kekuasaan ini dilanjutkan oleh penggantinya ialah Soleh Latuconsina.
Dan sang gubernur Mohamad Akib Latuconsina mulai mengganti semua aparat
pemerintah yang sebelumnya dijabat oleh pribadi yang beragama Kristen
menjadi pejabat-pejabat yang beragama Islam. Pergantian besar-besaran
dilakukan atas restu Jakarta dari wakil gubernur, wali kota, sekda dan
semua yang bukan beragama Islam dirontokkan dengan keji. Demikian juga
dengan Panglima Komando Militer dijabat oleh jenderal yang beragama Islam.
Kemudian didatangkan secara besar-besaran kelompok  masyarakat dari
Sulawesi yang beragama Islam, dengan demikian diharapkan bahwa Maluku
terutama Ambon akan mayoritas penduduknya beragama Islam. Suatu strategi
yang mengakibatkan terganggunya kerukunan beragama dan menyebabkan
hilangnya toleransi beragama dan yang paling fatal ialah rontoknya moral
beragama. Agama bagi sebagian orang berarti menghalalkan segala cara,
menghalalkan penindasan dan tujuan menghalalkan segala cara inilah yang
menhancurkan Maluku serta negara ini. Ini adalah konspirasi pemerintah dan
panglima ABRI termasuk Kasad Hartono, mendagri, menteri agama, menteri
pendidikan. Pendek kata Maluku harus di-Islamkan dan disinilah asal muasal
"kiamat" Ambon dan Maluku hari ini. Kita yakin bahwa tidak semua umat Islam
setuju dengan cara-cara ini, terbukti bahwa Piagam Jakarta serta
kefanatikan tidak pernah langgeng. Hanya
bagian kecil saja yang menginginkan negara agama. Justru disini peranan
ICMI yang sebetulnya merupakan kendaraan politik kelompok "keblinger" dan
sangat tidak Islami, sangat tidak  memperhatikan kepentingan umat, hanya
ambisi kelompok dengan mengorbankan negara dan bangsa. Gubermur Latuconsina
sepuluh tahun yang lalulah dengan ICMI-nya yang harus bertanggung jawab
atas kerusuhan serta pembunuhan di Ambon. Gubernur Latuconsina yang rela
terjadinya pembunuhan dan anarki didaerahnya, hanya karena alasan yang
dikobarkan oleh Islam garis keras yang diotaki oleh pimpinan ICMI dan
petinggi negara di Jakarta.

Latar belakang perjuangan Islamisasi Indonesia oleh ICMI dimulai jauh
sebelum pengangkatan Habibie dan sejarahnya dimulai sewaktu Bung Hatta
almarhum mencoret deklarasi kemerdekaan Indonesia dan Undang Undang Dasar
1945 dengan bagian yang ada bunyi negara agama ialah kata-kata "
Menjalankan syariah agama"atau lebih tepat yang tercantum pada"Piagam
Jakarta" yang dapat dianggap usaha menjadikan negara Indonesia sebagai
negara agama. Pada waktu akan  dideklarasikan teks proklamasi kemerdekaan,
utusan dari Ambon yang menamakan utusan dari negara Indonesia Timur
mendatangi Bapak Mohammad Hatta dan menyatakan bahwa Indonesia Timur tidak
akan bergabung dengan RI sebab penduduk Ambon mayoritas beragama Kristen.
Oleh Bung Hatta kata-kata "menjalankan Syariah agama" dicoret sehingga
Indonesia terhindar sebagai negara agama. Hal inilah yang sangat
mengecewakan sekelompok garis keras dan mereka tetap bertekad untuk
membentuk negara Islam terbukti dengan gerakan Darul Islam dengan TII atau
Tentara Islam Indonesia. Gerakan ini berhasil dibentuk di Aceh dipimpin
oleh Daud Beureuh, di Jawa Barat dipimpin oleh Sekarmaji Kartosuwiryo, di
Makasar dipimpin oleh Kahar Muzakar. Mereka
melakukan pemberontakan berdarah dan pengacauan , tetapi pembentukan negara
agama tidak kunjung berhasil. Justru pada tahun 1998 terjadi gerakan 13- 15
Mei sebetulnya adalah gerakan penerus kearah pembentukan negara agama,
meskipun sampai saat ini belum pernah dibahas dengan tuntas. Kekuatan
gerakan yang didukung oleh TNI dan ditengarai sebagai digerakkan oleh elite
kekuasaan terutama pengaruh ICMI di Kopassus selama Prabowo menjadi
komandan dan kemudian Kostrad dimana Prabowo sebagai panglima. Boleh jadi
Prabowo merupakan korban karena berdiri digaris depan serta korban ambisi
menjadi orang nomor satu di Republik ini. Ingat ucapan Prabowo bahwa ia
rela Indonesia mundur 30 tahun asalkan warga negara keturunan Cina tidak
ada lagi di Indonesia dan ada indikasi bahwa gerakan 13-15 Mei adalah
semacam gerakan "etnic cleansing" dengan perencanaan agar seluruh warga
keturunan Cina mengalami ketakutan dan meninggalkan bumi Indonesia. Inilah
kesalahan fatal karena hal ini tak mungkin terjadi mengingat jumlah
masyarakat keturunan non pribumi berjumlah 7 atau 8 juta jiwa dan mana
mungkin meninggalkan negaranya ? Mungkin ideenya dari manusia perahu dari
Vietnam atau pembasmian orang-orang keturunan Cina yang dilakukan oleh
Vietnam atau Kamboja yang gagal total dan menjadikan negara tersebut hancur
lebur. Itulah sebabnya baik Kamboja maupun Vietnam mengharapkan kembalinya
orang-orang Cina untuk membangkitkan perekonomian negara tersebut. Aneh
sekali di Indonesia dengan umat beragama , melakukan rekayasa yang keji dan
sangat kejam hanya karena ulah sekelompok orang ambisius dengan menggunakan
"agama" sebagai kendaraan politik. Keanehan lainnya ialah bahwasanya
seorang Letnan Jenderal yang berpendidikan tinggi berpikir untuk menjadikan
Indonesia mundur 30 tahun, mundur dari peradaban. Sangat jelas bahwa
Afganistan, Sudan, atau Somalia bukanlah negara yang boleh ditiru. Justru
negara-negara maju tidak pernah mempermasalahkan agama dan tidak pernah
berdalih untuk menjadikan negara agama yang mungkin akan mengakibatkan
keterbelakangan. Itulah kegagalan ICMI yang sangat tidak disetujui oleh
mayoritas umat Islam maupun cerdik cendekiawan Muslimin,ini sangat diyakini
oleh kita semuanya.

Kekuasaan Islam garis keras dimulai dengan diangkatnya Panglima ABRI
Jenderal Faisal Tanjung dan KASAD Jenderal Hartono, disitulah berjayanya
sekelompok kecil ICMI sebagai pemikir kearah negara Islam, kearah negara
agama dan dimulailah penghancuran secara besar-besaran apa saja yang berbau
Kristen dan mulailah "Grand Strategy" penghancuran warga negara keturunan
Cina yang kebanyakan anggautanya adalah beragama non-Islam dan kebetulan
"match" dengan policy pemerintahan Suharto. Pemerintahan yang pada 10 tahun
terakhir hanya memikirkan kepentingan uang atau duit untuk kekayaan
keluarganya. Sampai-sampai diantara anak-anak keluarga Suharto-pun terjadi
perebutan proyek tanpa mementingkan kerukunan keluarga besar. Jadi
kebijakan Angkatan Darat selama 30 tahun yang menghalangi membaurnya
keturunan Cina dengan memplot orang-orang keturunan agar bekerja dibidang
bisnis saja. Universtitas dibatasi penerimaan mahasiswa golongan keturunan
Cina, kepangkatan ABRI keturunan Cina hanya dibatasi sampai Letnan Kolonel
setelah itu pensiun, pembatasan untuk menjadi pegawai negeri dan terutama
untuk menjadi dosen atau staf pengajar. Dengan suksesnya mereka dibidang
bisnis dan ada semacam "paksaan" agar mau bergabung dengan kelompok
Cendana.

Akademi Militer Nasional yang sejak tahun 1960-an menjadi populer dengan
masuknya banyak warga keturunan Cina mulai dibatasi atas kecurigaan atau
memang policy anti pembauran. Dengan demikian masyarakat keturunan
diplotkan agar terpisah dari masyarakat pribumi. Suatu "grand Strategy"
dari sebagian perwira-perwira tinggi Angkatan Darat yang sangat berbau
sara. Hampir semua
konglomerat adalah gabungan dengan anggauta keluarga Cendana atau dengan
kelompok keluarga pejabat lainnya. Barito Pacific adalah kelompok Tutut,
BCA dengan saham keluarga cendana dan menempatkan anak-anak Suharto sebagai
pemegang saham atau sebagai komisaris perusahaan. Bob Hasan sangat jelas
mengelola bisnis bapak, ingat kasus Bre-X yang sangat memalukan dimana
terjadi juga perebutan antara anak-anak Suharto dan akhirnya diputuskan
bahwa Bob Hasanlah yang mengelola "pepesan kosong" tersebut. Suatu
peristiwa memalukan dengan terjadinya "skandal kelas dunia" ialah tambang
emas yang kosong dan banyak orang merugi besar-besaran di Canada dengan
penipuan saham perusahaan kosong tersebut. Jadi skenario13-15 Mei 1998
sangat tepat bagi ICMI dengan kelompok Islam garis keras untuk dilaksanakan
dengan kejam dan sangat bertentangan dengan agama.

Salah satu orang muda yang sangat brilyan otaknya ialah Fadly Son yang
sangat fanatik bagi terbentuknya negara agama, ia bertugas mempengaruhi
Prabowo dan merupakan orang dekat dengan Letnan Jenderal Prabowo bahkan
dalam tugasnya mengembangkan peristiwa keji yang lazim disebut tragedi 13 -
15 Mei. Sempat juga gara-gara salah memberikan peta "kerusuhan" Fadly Son
kabarnya digaplok oleh Prabowo . Akibat dari peta yang salah sejumlah
korban tewas dibunuh dikawasan Klender, betapa tidak bertanggung jawabnya
Fadly Son dan menyebabkan terbunuhnya penduduk Klender sebanyak lebih dari
400 orang di Plaza Jogya. Ini kesalahan operasi pembakaran pusat
perdagangan tersebut  gara-gara keliru memberikan peta daerah yang harus
di-"bom", suatu istilah operasi 13 - 15 Mei tersebut. Beberapa hari setelah
peristiwa tersebut dalam wawancara dengan Far East Economic Review, Letnan
Jenderal TNI Prabowo Subianto menyatakan bahwa ia rela Indonesia mundur 30
tahun, asalkan Cina-Cina tidak ada dinegeri ini. Yang dimaksud dengan Cina
disini ialah warga negara Indonesia keturunan Cina dimana direncanakan
untuk "dibasmi habis" dengan kerusuhan rasial politik tersebut.

Sayang sekali kelompok ICMI sama sekali tidak memikirkan betapa kerugian
negara, betapa sengsaranya rakyat kecil sebagai akibat dari kerusuhan
tersebut. Ada lebih dari 2200 orang terbunuh dan mayoritas adalah rakyat
Indonesia kelas bawah dan ada 150 lebih wanita keturunan Cina yang
diperkosa. TGPF atau Tim Gabungan Pencari Fakta mendapatkan banyak data
kerusuhan dan adanya pemerkosaan terhadap etnis Cina, tetapi bantahan demi
bantahan dikeluarkan , bahkan oleh pejabat penting. Inilah salah satu
"strategi kebohongan" ICMI dan keterlibatan pengurus-pengurus ICMI sangat
jelas dan arahnya ialah pemerintahan Republik ini. Pernyataan dari
perwakilan PBB serta tokoh Hak Asasi Manusia Mary Robinson mengenai
perkosaan tersebut sangat jelas dan sangat keras menyebabkan sulitnya bagi
Indonesia untuk mengelak seplah-olah peristiwa perkosaan tidak ada. Jelas
sekali dengan dihancurkannya bisnis warga negara keturunan Cina
mengakibatkan kehancuran bagi seluruh perekonomian, apalagi dengan
kebijakan menteri Adi Sasono yang sangat rasialis dan Adi Sasono
menggunakan isu populis yang gampang mempengaruhi masyarakat yang
pendidikannya kepalang tanggung, bahkan yang berpendidikan tinggipun dengan
gampangnya terpengaruh isu sara tersebut. Isunya bahwa perekonomian
dikuasai 90 % oleh Cina , bahwa cukong-cukong menghancurkan perekonomian
sangat merasuk kekalangan masyarakat. Secara tidak sadar masyarakat
digiring keposisi sara dan kebencian dan bukannya membangkitkan
perekonomian dengan gairah kerja keras. Yang dinamakan redistribusi aset
merupakan perampokan terselubung dan kemalasan untuk bekerja keras. Dengan
membagi-bagikan kekayaan dan aset masyarakat keturunan Cina saja sudah ada
modal. Ini kegilaan yang betul betul menghancurkan fundamental
perekonomian.

Dengan berhasilnya Habibie menjadi presiden transisi makin muluslah
kelompok ICMI untuk menuju era baru Negara Agama dan era ekonomi kerakyatan
yang sangat eksprimentil . Rekayasa yang menyatakan bahwa perekonomian
dihancurkan oleh konglomerat betul-betul sangat berhasil dan selalu keluar
ucapan bahwa 90 % perekonomian dikuasai oleh "Cina" ,padahal bukti bahwa
angka tersebut ada sebetulnya berbau kebohongan dan "fitnah". Mana mungkin
90 % dikuasai sedangkan perusahaan-perusahaan besar adalah perusahaan
negara : Pertamina, Telkom, Indosat, Bank-bank BUMN, Tambang-tambang
dikuasai BUMN, perkebunan-perkebunan negara, belum lagi perusahaan asing
Barat seperti Caltex, Mobil Oil, Freeport, Unilever, BAT, dan banyak lagi
yang besar dan jauh lebih besar dari kebanyakan perusahaan milik Warga
Negara keturunan Cina. Belum lagi perusahaan-perusahaan raksasa milik
keluarga Suharto yang terlalu diatur dengan rekayasa salah: kelompok
Bimantara, kelompok Humpuss, kelompok Tutut bahkan sampai cucu presidenpun
Ari Sigit mendirikan berbagai bisnis dengan cara-cara "potong kompas".
Kesemua isu dan fitnah terhadap warga keturunan Cina arahnya jelas
"kebencian". Mungkinkah negara akan maju kalau ada kebencian, banyak fitnah
dan ini dilakukan oleh pejabat-pejabat dari lurah sampai menteri dan
kobaran kebencian dilakukan juga pada hari Jum'at dalam berbagai acara
sembahyang di mesjid-mesjid. Coba kita simak dengan kepala dingin betapa
banyaknya kuliah subuh yang isinya sangat memalukan umat Islam yang
dilakukan oleh pengkhotbah tukang fitnah ? Bahkan Kyai Sejuta Umat ialah
Kyai Zainuddin M.Z sempat mengeritik gara-gara Gus Dur ingin menyatukan
umat beragama pada acara Natalan. Kyai kondang yang main uang dan
bermewah-mewahan ini memang alat penguasa lama dan memang ia
menjadi kaya raya dalam pemerintahan Suharto. Bagaimana seorang kyai hanya
bermewah-mewahan dari penghasilan khotbah yang setiap kali berharga puluhan
juta Rupiah. Kenapa ia tidak peduli kepada kemelaratan umat ? Kyai yang
selalu berkumpul dengan aktris-aktris Sinetron dan merupakan simbol sukses
meraih kekayaan duniawi. Justru umat Islam mayoritas menganggap Gus Dur
adalah Kyai yang benar-benar ingin membangun negara ini. Kyai Gus Dur yang
berkorban untuk negara sejak ia dilecehkan, ditindas dan hampir saja
digilas habis oleh rezim Suharto. Kecerdasan dan pengalamannya yang banyak
saja yang memungkinkan ia terhindar dari kebinasaan. Kyai Gus Dur tidak
dapat disamakan dengan Kyai Sejuta Umat yang ber-mewah-mewahan sejak zaman
Suharto dan apakah ini Islami ? Sayang sekali anugerah Allah dengan
keberhasilannya tidak menjadikan kyai Zainuddin M.Z menjadi manusia santri,
ia terlalu tergoda dengan keduniawian dan masalah Gus Dur sebagai presiden
mengayomi umat Kristen sebetulnya wajar-wajar saja, jangan digunakan untuk
membangkitkan permusuhan, jangan digunakan untuk menebar kebencian. Agama
Islam tidak mengajarkan kebencian dan fitnah, Islam adalah keluhuran dan
akhlak. Bagi umat Islam, fitnah berarti kekejian yang bertentangan dengan
agama itu sendiri dan merupakan pembodohan dalam memperalat politik.

Sangat disayangkan bahwa umat Kristen Ambon terpengaruh oleh provokasi
sehingga terjadi  pertumpahan darah yang dahsyat, pembunuhan serta
penganiayaan dilakukan oleh kedua pihak dengan alasan agama. Padahal mana
ada agama yang menganjurkan kekerasan dan pembunuhan ? Sebetulnya acara
kekacauan dimulai oleh preman-preman bayaran yang sangat boleh jadi diatur
oleh kelompok pro status quo. Nama-nama Yorys Roweyai, Ongen
Sangaji,Yoseano Waas, Dicky Watimena bahkan seorang Jenderal ialah Kivlan
Zein dimunculkan sebagai biang kerusuhan Ambon. Entah apa betul atau cuma
rekayasa politik, tetapi nama-nama tadi sangat santer disebut banyak pihak.
Disitulah sukses rekayasa adu domba antara warga Ambon Kristen melawan
Ambon Islam dan dibarengi dengan kelompok pendatang dari Sulawesi. Suatu
"Grand Strategy" yang tidak masuk akal dan selalu dikobarkan oleh kelompok
provokator.

Tetapikita hendaknya berpegang kepada inisiator penggusuran pejabat-pejabat
karena alasan agama yang dilakukan sebagai strategi ICMI untuk membuat
Ambon dan Maluku mayoritas Islam. Terlalu dipaksakan dan terlalu rapuh dan
effek yang luar biasa busuknya dengan pertentangan agama yang akan berlaku
lama sekali dan sulit mengobatinya. Disinilah sangat disesalkan pemikiran
kelompok
garis keras yang tidak lagi mementingkan persatuan bangsa. Provokator
Kristen, provokator Muslim serta kelompok bayaran lainnya tumpang tindih
menghancurkan bagian dari negara yang dulunya aman dan damai. Perlu
diperhatikan bahwa pusat gerakan kerusuhan Ambon dan Maluku di Jakarta dan
bukan aneh lagi kalau hasutan untuk memperkeruh keadaan berlangsung terus
dalam bentuk demo pembela umat dan semacamnya. Siapakah dibelakang gerakan
tersebut dan siapakah penyandang dananya ?

Cocok juga ungkapan Jenderal Wiranto bahwa masalah Maluku adalah masalah
politik dan berbagai sinyalemen sebagai digerakan di Jakarta. Setiap ada
ketidak puasan TNI selalu berkobar kerusuhan di Ambon. Setiap ada hujatan
kepada TNI , makin maraklah kerusuhan dan bunuh-bunuhan di Ambon. Ada
indikasi penggerak kerusuhan ialah kelompok preman Jakarta seperti ada
suara-suara yang mengatakan bahwa tokoh utamanya ialah Ongen Sangaji dan
Yorys Roweyai, kenapa tidak ditangkap saja dan diinterogasi ? Seperti juga
demo-demo di Jakarta oleh Front Pembela Islam, kemudian KISDI, atau front
lainnya yang menggunakan atribut-atribut seolah-olah Islam atau Muslim dan
ada kerja sama dulunya dengan Panglima Komando Letnan Jenderal Djaja
Suparman, kenapa ada isu semacam ini. Perlu dicatat bahwa suara-suara yang
menyatakan keterlibatan Letjen Djaja Suparman luar biasa banyaknya, kenapa
justru Wiranto mengangkat Djaja sebagai Panglima Kostrad ? Jadi dugaan
banyak pihak bahwa Wiranto merupakan salah satu petinggi yang berpengaruh
pada banyak peristiwa bukanlah omong kosong. Tak ada satu peristiwapun yang
menyangkut segi kerusuhan yang pernah dituntaskan oleh Jenderal Wiranto.
Dan sudah waktunya Jenderal ini digusur agar kabinet bisa bekerja dengan
keamanan yang bagus. Masalah kerusuhan Maluku sesungguhnya merupakan
tanggung jawab Wiranto , demikian juga kasus-kasus lainnya. Kabarnya dalam
reshuffle kabinet ini tokoh Wiranto merupakan pejabat nomor satu yang akan
diganti. Setelah kelompok poros tengah mengeritik Gus Dur sebagai lamban
mengatur pemerintahan dan kemudian ada sentilan bahwa supaya tidak lamban,
pemerintah akan melakukan perubahankabinet. Barulah kelompok garis tengah
kebingungan dan mengatakan tidak perlu ada pergantian, nah ketemu batunya
atas ucapannya sendiri. Bagaimana menteri-menteri tidak diganti kalau oleh
ulah mereka kabinet tidak sanggup menuntaskan banyak hal ?

Demo besar-besaran yang digelar menjelang hari Raya Idul fitri dan
dikomandoi oleh Trio Amien Rais - Hamzah Haz - Ahmad Sumargono dengan judul
SEJUTA UMAT kemungkinan sebagai lanjutan skenario kerusuhan Ambon. Demo
Jihad semacam ini hanya menghamburkan tenaga dan berpotensi malah
merunyamkan daerah Maluku tersebut. Sangat tidak bijaksana ucapan Ketua MPR
yang malah
meributkan masalah tersebut dari sudut pandang Islam saja. Ketua MPR adalah
mewakili rakyat Indonesia dan Amien bukan mewakili cuma umat Islam.
Presiden Gus Dur menyatakan bahwa kasus Ambon hampir selesai, nyatanya
berpindah ke Maluku Utara. Sangat jelas ada usaha-usaha untuk menjatuhkan
pemerintah, mau diakui atau tidak. Disinilah kita sangat kecewa akan Amien
Rais, seorang Profesor Doktor tetapi tidak menghayati akan kebutuhan
keamanan dan kedamaian. Ia hanya memikirkan kursi kepresidenan saja dan
ambisinya yang kelewat tinggi. Rakyat Indonesia  membutuhkan pemerintahan
yang bersih dan didukung rakyat, isu agama sangat tidak relevan dan sangat
berbau adu domba. Mudah-mudahan pemerintah mampu menyelesaikan kasus
bunuh-bunuhan di Ambon dan Maluku Utara dan sangat jelas bahwa "jihad"
adalah hal yang makin memperkeruh keadaan. Kalau mau percaya , Gus Dur
selalu berpikir untuk menyelesaikan semua persoalan dengan Win-Win
Solution, bukannya dendam atau ambisi.
-------------------------

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke