*******************************************
Bila anda ingin membagi berkat
Manfaatkan ruang "Wacana Mingguan" Eskol-Net
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
*******************************************
Wacana Mingguan : 5 Februari 2000
================================
Berdoa bagi Bangsa
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Oleh: Pdt Antonius Setiawan
Menyambung renungan terdahulu, Ester berkata kepada raja dengan menangis,
dan inti tangisannya adalah "bagaimana hamba dapat melihat malapetaka
yang menimpa bangsa hamba, bagaimana hamba dapat melihat kebinasaan sanak
saudara hamba?" (Ester 8:6). Tangisan ini menyebabkan Raja Ahasyweros
menghukum Haman, orang yang merencanakan kecelakaan bagi orang Yahudi;
serta menyuruh Ester menuliskan atas nama raja apa yang ia pandang baik
tentang orang Yahudi dan memeteraikan surat itu dengan cincin meterai
raja. (Ester 8:7-8).
Kejadian itu menunjukkan bahwa secara phenomena Ester datang pada orang
yang tepat, yang mempunyai kuasa untuk merubah nasib orang Yahudi. Tetapi
di balik daripada pelepasan yang dilakukan oleh raja Ahasyweros, ada
campur tangan Allah yang maha kuasa, karena sebelum Ester menghadap raja,
dia meminta Mordekhai: "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang
terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan
janganlah minum tiga hari lamanya, aku serta dayang-dayangkupun akan
berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun
berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku
mati." (Ester 4:15-16.
Pada hari ini, krisis yang dialami oleh bangsa kita tidak berbeda dengan
krisis orang Yahudi di masa Ester. Kita tidak tahu siapakah yang
berperanan sebagai Haman, kita juga tidak tahu siapa yang akan dipakai
Tuhan sebagai raja Ahasyweros, tetapi satu hal yang kita tahu dan
percaya, bahwa Allah yang mendengar doa dan puasa Ester dan Mordekhai
serta semua orang Yahudi adalah Allah yang sama dengan Allah yang kita
sembah. Dia mempunyai kuasa yang sama untuk melepaskan bangsa kita dari
krisis yang ada.
Pertanyaan kita renungkan sekarang ialah, adakah perasaan ---"bagaimana
hamba dapat melihat malapetaka yang menimpa bangsa hamba, bagaimana hamba
dapat melihat kebinasaan sanak saudara hamba ?"--- di dalam hati saudara?
Adakah situasi di Indonesia menyebabkan engkau menagis di hadapan Allah?
Percayakah engkau, bahwa Allah berkuasa untuk melepaskan bangsa kita?
Jikalau jawaban di atas adalah positif (ya), maka saya percaya, saudara
akan bertindak seperti Ester, Mordekhai dan orang Yahudi, berpuasa dan
berdoa bagi bangsa kita.
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l