**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
---------------------
Artikel Eskol-Net:
---------------------
Analisa Situasi Politik Saat Ini
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Oleh: Drs. Kris Nugroho, M.A*
Ancaman terjadinya keruntuhan tatanan sosial dan politik menjadi makin
besar semenjak meletus konflik SARA di Ambon yang kemudian menyebar ke
berbagai pulau bahkan membakar propinsi Maluku Utara, tak dapat
dikendalikan oleh pemerintah daerah dan pusat. Konflik ini sedemikian
mendalam, baik dalam skala korban tewas yang ditimbulkannya mau pun dalam
skala kualitas permusuhannya. Korban konflik SARA ini diperkirakan sudah
mencapai ribuan jiwa di kedua belah pihak. Trauma psikologi dan emosional
diperkirakan akan sulit untuk dipulihkan dalam jangka pendek. Juga, dampak
konflik ini akan meluluhlantakan hubungan antar umat beragama di tingkat
lokal dan nasional.
Yang menjadi titik keprihatinan saat ini adalah jika konflik SARA di Maluku
ini dijadikan komoditas politik oleh kelompok elite politik tertentu, baik
di tingkat lokal mau pun nasional. Berbagai skenario politik muncul.
Konflik SARA di Maluku rupanya sudah dirancang dengan matang dengan
memanfaatkan konstelasi sosio politik komunitas lokal yang sangat rentan.
Isu persaingan kekuasaan politik lokal, terjadinya pergeseran komposisi
elite dan marginalisasi (ketersingkiran) secara ekonomi kelompok tertentu,
merupakan faktor kondusif bagi meledaknya suatu konflik sosial. Pematangan
situasi konflik ini makin mendalam manakala dihubungkan dengan segregasi
agama dan afiliasi politik masing-masing komunitas yang dulunya mampu hidup
berdampingan dengan damai. Dengan "membonceng" situasi konfliktual ini,
"para prvokator" memanfaatkan melancarkan aksi mereka guna meraih
kepentingan politik tertentu.
Konflik SARA ini makin kompleks manakala dikaitkan dengan situasi pra
konflik yang terjadi berbagai tempat di luar Ambon sebelumnya, seperti aksi
pembakaran dan pengrusakan gereja di Ketapang, Jakarta Nopember 98,
dibalas aksi pembakaran dan pengrusakan masjid di Kupang Nopember 98, lalu
meledak kerusuhan besar SARA di Poso, Sulteng Desember 98. Benang merah
Konflik SARA ini transparan, yaitu kekristenan cenderung diperlakukan
sebagai variabel teraniaya ('christian persecution'). Sejak pengrusakan dan
pembakaran sejumlah gereja di Surabaya, Situbondo dan Tasikmalaya 96,
gerakan 'christian persecution' makin gencar dilancarkan.
"Rantai" konflik SARA makin panjang dengan meledaknya konflik serupa di
Ambon Januari 1999. Untuk sementara kasus Ambon bisa dianggap sebagai
"induk" dari konflik-konflik SARA berikutnya. Terbukti Maluku Utara ikut
meledak. Disusul 17 Januari 2000 di Mataram terjadi pengrusakan dan
pembakaran sekitar 10 gedung gereja oleh massa yang usai menghadiri Rapat
Akbar memperingati kasus Ambon. Sebelumnya sejumlah ormas Islam menyerukan
jihad ke Ambon menyusul kasus Ambon. Di Madura sempat beredar selebaran
yang
memberi waktu sekian jam agar umat kriten menginggalkan Madura. Entah
daerah mana lagi yang akan meledak sebagai dampak psikologi dan politik
konflik SARA di Ambon. Yang jelas, aksi 'christian persecution' akan gencar
dilancarkan baik secara fisik dan non fisik, terutama di daerah-daerah
dimana kristen minoritas. Bila daerah-daerah lain ikut bergolak, aksi bals
terjadi, keruntuhan tatanan sosial dan politik kita akan luluh lantak.
Pada saat itulah suatu kekuatan politik akan muncul dan mengambil alih
kekuasaan.
Konflik SARA di Ambon dan kepulauan Maluku harus dicermati secara jernih.
Apakah ada skenario kepentingan politik besar yang melbatkan secara tak
langsung eks rezim Soeharto - BJ Habibie, apakah ada skenario politik
elite-elite politik lokal yang saling memperebutkan sumber-sumber kekuasaan
politik yang memanfaatkan keluguan massa dan apakah ada skenario dari faksi
dalam militer yang sengaja menjadikan variabel konflik SARA untuk
memperkuat posisi tawar mereka terhadap pemrintahan sipil guna melancarkan
aksi balas dendam akibat ketersingkiran mereka dari panggung politik
nasional, semuanya dapat saja dipertimbangkan sebagai sebagai faktor yang
politis langsung atau tak langsung atas kasus Ambon. Tanpa ada skenario,
dana, jaringan dan kemampuan manuver yang sangat rapi, tak mungkin kasus
Ambon mampu bertahan sedemikian lama.
Dari imbas kasus Maluku terlihat, tekanan terhadap kekristenan mulai
gencar dilancarkan, Seperti kasus Mataram, Yogyakarta dan belum lagi
intimidasi dan ancaman-ancaman pengrusakan dan penutupan gereja di banyak
tempat. Tetapi berbagai tekanan ini biarlah menjadi ujian bagi kita umat
Kristiani, dan semakin memperkokoh dan mendewasakan iman kita di hadapan
Tuhan.
------------------------------
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l