'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
SARI BERITA : Jumat, 17 Maret 2000
===================================
*Kasus HAM Aceh Bisa Dibawa ke Tribunal Internasional
*Nasib Pengungsi di Maluku Utara Mengenaskan
*Hubungan Militer Indonesia-AS masih Bermasalah
*Pangdam Jaya Bantah Akan Makar
-----------------------------
*A Shrew-Size Primate
45-Million-Year-Old Foot Bones Fill in Evolutionary Tree
++++++++++++

Kasus HAM Aceh Bisa Dibawa ke Tribunal Internasional
--------------------------------------------------------------------
TEMPO Interaktif, Jakarta: Ada 7,727 kasus pelanggaran HAM di Aceh semasa
Daerah Operasi Militer yang harus disidik, dan ribuan kasus lainnya dalam
masa operasi sadar rencong I sampai III. Namun hingga saat ini baru satu
kasus dari banyaknya kasus pelanggaran HAM pasca DOM yang akan diperiksa,
yaitu kasus pembantaian pimpinan pesantren Tengku Bantaqiah beserta
muridnya di Desa Beutong Ateuh, Kab. Aceh Barat. Itu pun akan digelar di
peradilan koneksitas, April nanti. Kasus-kasus berat seperti tragedi Idi
Cut, Simpang KKA, Pusong, Samadua dan Penembakan demonstran di Mapolres
Aceh Selatan, misalnya, hanya jadi igauan aktivis kemanusiaan di Aceh.
Hal itu membuat banyak kalangan di Aceh merasa pesimis akan kesungguhan
pemerintah untuk menghukum pelaku kejahatan kemanusiaan di pengadilan. Oleh
karena itu, menurut Direktur Eksekutif Forum Peduli HAM Syaifuddin
Bantasyam, SH. MA, perlu diupayakan cara lain misalnya dengan melobi dewan
keamanan PBB dan masyarakat internasional, agar bisa diadakan peradilan
khusus untuk para penjahat kemanusiaan. Peradilan koneksitas, menurut
Syaifuddin, secara prosedural itu memang sudah memenuhi, karena selain
belum ada UU HAM secara khusus, juga belum ada peradilan HAM. Namun memang
masih banyak yang meragukan peradilan koneksitas tersebut, apalagi
tambahnya, Sujono sebagai sumber informasi kasus Bantaqiah sudah hilang.
"Dengan hilangnya Sujono dapat dibaca ada orang lain di atas dia yang ingin
dilindungi. Ini akan menghilangkan kesempatan hukum untuk mengadili
orang-orang yang merancang kasus ini terjadi," kata Syaifuddin, Rabu (15/3)
pagi.
Lengkapnya:
http://www.tempo.co.id/harian/include/index.asp?file=1632000-363

Nasib Pengungsi di Maluku Utara Mengenaskan
--------------------------------------------------------
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pangdam XVI Pattimura Brigjen Max Tamaela,
Kapolda Brigjen (Pol) I Wayan Dewa Astika, dan rombongan Rabu (15/3)
berangkat menuju Kecamatan Morotai Selatan di Maluku Utara. Di sana mereka
akan mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat, terutama
agar kelompok putih (Islam) maupun merah (Kristen) bisa menghentikan
pertikaian.
Sampai saat ini tercatat sejumlah 1,250 rumah dan 21 rumah ibadah yang
terbakar di Morotai utara dan selatan. Sementara di kota Buho-buho, Morotai
Utara, ada 3,596 pengungsi. Mereka telah menetap di sana sejak 21 Januari
lalu. Semua berasal dari tujuh desa Kristen (Daruba, Darame, Loc, Sabatai
baru, Daeo, Sambiki baru dan Tobelo) di Morotai Selatan.
Menurut Komandan Landasan Udara (Lanud) Mayor Udara Nanang Narotomo, para
pengungsi yang sementara ini tinggal di Lanud Kompleks Morotai itu sangat
kekurangan pangan dan obat-obatan. "Mungkin disebabkan kesulitan
transportasi," katanya. Ini dibenarkan Camat Morotai Selatan, Salim Ali.
Sejak Januari, mereka baru mendapat lima ton beras dan beberapa dus
supermie. Lebih parah lagi, "[Banyak pengungsi] sudah tidak bisa bertahan
lagi karena kondisi tempat pengungsian yang sesak dan tidak memadai,"
tambahnya. Mereka tidur memang hanya beralaskan tanah. Tenda di atas kepala
mereka bukanlah tenda permanen, melainkan tenda plastik dan beratapkan
rumbia. Untuk urusan kebersihan, cuma ada 4-5 tempat mandi, cuci, kakus
(MCK) darurat. Sementara ini, sekitar 20 orang sudah terkena penyakit
muntaber dan tiga orang meninggal dunia. Bantuan medis pun sangat terbatas,
hanya ada satu dokter dan tiga paramedis.
Lengkapnya:
http://www.tempo.co.id/harian/include/index.asp?file=1632000-802

Hubungan Militer Indonesia-AS masih Bermasalah
------------------------------------------------------------
New York - 17 Mar 00 00:58 WIB (Astaga.com)
Asisten Menlu AS Rust M Deming menegaskan bahwa hubungan militer Indonesia
AS masih mengalami hambatan. Namun AS menyatakan mendukung penuh
upaya-upaya Presiden KH Abdurrahman Wahid untuk melakukan dominasi sipil
atas militer, termasuk upaya Gus Dur untuk mereformasi TNI.
Penegasan itu disampaikan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk kawasan Asia
Timur dan Pasifik Rust M Deming dalam pernyataan yang diterima antara hari
Kamis (16/3) malam.
Berbicara sebelum mengikuti sebuah kongres mengenai hubungan internasional,
Deming mengingatkan bahwa hubungan AS-Indonesia di bidang militer "masih
dalam situasi yang sulit."
"Setiap upaya perbaikan hubungan militer AS-Indonesia haruslah
merefleksikan perubahan yang nyata di Indonesia, termasuk kecenderungan
positif dalam rangka reformasi TNI," tegas Deming.
Lengkapnya: http://www.astaga.com/Article/1,4177,4332,00.html

Pangdam Jaya Bantah Akan Makar
Gus Dur: Boleh Tidak Setuju
Fachrul Razi Juga Klarifikasi
-------------------------------------
JAKARTA - Pangdam Jaya Mayjen Riyammizard Riyacudu nenegaskan, pihaknya
tidak akan melakukan perbuatan makar. Jadi, dirinya bukan yang
disebut-sebut oleh Presiden Abdurrahman Wahid dalam Dialog Interaktif
"Secangkir Kopi'' di TVRI, 14 Maret lalu. Dalam acara tersebut, menjawab
pertanyaan penelepon, Gus Dur mengatakan, ada pangdam yang akan mempereteli
kepemimpinannya.
"Yang jelas bukan kami, Pangdam Jaya,'' kata Riyacudu saat menjawab
pertanyaan wartawan selesai salat Idul Adha di Jakarta, Kamis kemarin.
Pangdam Jaya menyatakan, pihaknya tidak mungkin melakukan perlawanan
terhadap atasannya, yaitu Panglima Tertinggi ABRI atau Presiden.
Tepisan juga disampaikan Wakil Panglima TNI Jenderal Fachrul Razi yang
mengatakan semua pangdam loyal kepada pemerintah Presiden Gus Dur. Gus Dur
pada kesempatan tersebut tidak menyebut langsung pangdam mana dan siapa.
Lengkapnya: http://suaramerdeka.com/harian/0003/17/nas1.htm
____________

A Shrew-Size Primate
45-Million-Year-Old Foot Bones Fill in Evolutionary Tree
---------------------------------------------------------------------
March 15 - Some ancestors of monkeys, apes and humans were so tiny that
they could have stood atop a person's thumb - a new finding astonishing
even to anthropologists.
     Fossilized foot bones from two species smaller than any other known
creature on the primate family tree were found at a limestone mine in
eastern China. The bones are each about the size of a grain of rice.
     "This discovery reinvents our definition of what the primate order is
all about and how it arose," said Richard Stucky, curator at the Denver
Museum of Natural History. He said he was "almost at a loss for words."

Smaller Than Smallest
At one-third of an ounce - the weight of a couple of pencils - the smaller
of the two species is dwarfed by the 1-ounce Madagascar mouse lemur, the
smallest known primate alive today. The two lived in a rain forest about 45
million years ago, feeding on insects and sap.
     Scientists from Carnegie Museum of Natural History, Northern Illinois,
Northwestern and the Chinese Academy of Sciences in Beijing detail the
species in this week's Journal of Human Evolution.
More: http://abcnews.go.com/sections/science/DailyNews/fossil000315.html
++++++++++++++++++

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke