************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** Soal Kelulusan dan Budi Pekerti Jangan Terjebak Nostalgia Pendidikan Masa Lampau ------------------------------------------------------ Malang, Kompas Mata pelajaran dan evaluasi terhadap budi pekerti siswa, hendaknya tidak terjebak pada nostalgia pendidikan masa lampau yang seolah-olah diasosiasikan bahwa budi pekerti siswa masa lalu baik lantaran ada pendidikan budi pekerti. Zaman dan tuntutan kini sudah jauh berbeda. Situasi ini diyakini akan berpengaruh dalam pembentukan karakter budi pekerti siswa. Demikian pendapat Ibrahim MSc, pengajar senior di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP-UM, dahulu IKIP Malang) dalam percakapan dengan Kompas, Senin (24/4) lalu. Pada tahun 1950-an, Ibrahim pernah mengajar mata pelajaran budi pekerti di sekolah dasar (SD) selama tujuh tahun. Dihubungi secara terpisah, Rm Benny Susetyo yang dikenal sebagai pemerhati masalah kemanusiaan dan aktivis Forum Komunikasi antar-Umat Beragama menilai, dengan ketiadaan otonomi sekolah dan guru, sekarang ini pendidikan tidak lagi punya kemampuan yang cukup untuk memberikan pendidikan budi pekerti. Pengaruh masyarakat dan orangtua, misalnya, tidak memberikan iklim yang baik bagi otoritas guru untuk memberikan teladan budi pekerti. Juga perlu dipertanyakan, kata Benny, dengan kesibukan mengajar guru yang amat padat, apakah ada waktu yang cukup bagi guru memberikan pendidikan dan teladan budi pekerti ? Faktor guru Menurut Ibrahim, pelajaran budi pekerti tidak mutlak diperlukan, apalagi diajarkan secara khusus. Saat ini mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Agama dinilai sudah memberi porsi waktu yang cukup bagi pendidikan budi pekerti. Hanya saja, masalahnya praktik belajar-mengajar pada kedua mata pelajaran ini belum melangsungkan proses internalisasi budi pekerti yang diajarkan. "Justru ini yang harus diperbaiki," kata Ibrahim. Bertolak dari pengalaman selama tujuh tahun mengajarkan budi pekerti di SD pada tahun 1950-an, Ibrahim berpendapat, hal terpenting pada pendidikan budi pekerti bukan pembentukan dimensi afektif siswa. Faktor terpenting justru terletak pada guru, antara lain dengan kepintarannya mendongeng dan memberi pitutur yang otomatis juga diteladankan oleh sikap dan tindak-tanduk gurunya. "Dulu, jika ada siswa tidak masuk sekolah guru akan bertanya kepada para siswa lainnya: kapan kita akan menengok si sakit? Bahkan sore harinya si guru langsung menengok siswa yang sakit tadi di rumahnya, menyapa, memeriksa panas di dahinya, dan berdialog dengan orangtuanya. Kemudian esok harinya ia mengkoordinir kelompok siswa untuk menengok. Adakah kesempatan guru sekarang melakukan itu, mengingat beban kurikulum dan kesibukannya mengajar di sekolah lain, serta usahanya memenuhi kebutuhan rumah tangganya? "kata Ibrahim. Benny Susetyo bahkan mempertanyakan, "Jika tidak ada standar evaluasi dan pendidikan budi pekerti, tidakkah nanti sekolah yang diberi kewenangan mengevaluasi lantas akan terhinggapi perasaan subyektif. Faktor like and dislike menjadi menonjol. Internalisasi nilai-nilai Menurut Ibrahim, lantaran kurikulum lebih menekankan proses transfer of knowledge, guru menjadi demikian terikat dengan tujuan operasional pendidikan yang didefinisikan oleh departemen. Akibatnya, sasaran yang tercapai hanyalah pengajaran kognitif yang rendah, bukan internalisasi nilai-nilai luhur. Ini bukan semata salah guru, namun karena pengaruh pola behavioristik pendidikan masa kini yang secara cepat berusaha mencetak tenaga siap pakai dan terampil. "Mereka hafal dan cepat sekali menyebut tentang butir-butir Pancasila, tetapi sama sekali tidak punya kesempatan mengamalkannya. Mestinya yang berlangsung adalah proses pemahaman. Jika proses ini yang terjadi, maka tidak harus ada mata pelajaran khusus budi pekerti. Melalui PMP dan pelajaran agama sesungguhnya sudah cukup," kata Ibrahim. Prosesnya menjadi makin berat bila pendidikan budi pekerti itu tidak didukung oleh kondisi masyarakat, bahkan oleh orangtua siswa. Menurut Benny Susetyo, orangtua masa kini belum tentu bisa digugu dan diteladani. Pengaruh masalah-masalah non-kependidikan, yang amat menekankan produktivitas material, membuat proses pendidikan budi pekerti menjadi semakin sulit. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
