**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Bila Rusuh Pasca Kedatangan Laskar Jihad
"GUBERNUR - PANGDAM HARUS TANGGUNG JAWAB"
--------------------------------------------------------------------
Ambon, Siwalima
Sikap 'welcome' Gubernur Maluku, Dr. Ir. Saleh Latuconsina dan Pangdam XVI
Pattimura Brigjen TNI Max Tamela  untuk menerima para Laskar Jihad ke Ambon
menyulut reaksi sejumlah kalangan. Kali ini datang dari Ketua DPRD Ambon
Drs MJ Papilaya MS.
Menurut Papilaya, kehadiran Laskar Jihad yang kini tengah berada di Ambon
secara langsung telah memperuncing keadaan. Apalagi jauh sebelum kedatangan
mereka sudah terbentuk wacana publik bahwa mereka sudah sudah dilatih ala
militer untuk mendukung misi ini.
Karena itu, katanya dampak kehadiran ini harus segera dipikirkan. Karena,
kalau saja menimbulkan konflik, maka yang paling bertanggung jawab adalah
Gubernur dan Pangdam. Sebab, apa artinya mereka menerima orang-orang luar
sebanyak itu ke Ambon dalam kondisi Maluku seperti sekarang ini.
Penyelesaian Maluku, katanya, bukan dengan cara mengirim pasukan Jihad.
Sebab itu tidak membantu masyarakat Maluku dalam menyelesaikan
persoalannya.
Alhasil, katanya, Gubernur Latuconsina dan Pangdam Tamela yang sudah
bersedia menerima kehadiran mereka harus konsisten. Artinya, kalau terjadi
sesuatu, karena ulah para Laskar Jihad ini, maka, aparat keamanan harus
bertindak tegas. Sebab kondisi Maluku yang sudah mulai membaik ini, jangan
lagi dihancurkan, apalagi oleh mereka yang datang dari luar Maluku.
Saya pegang apa yang dinyatakan Gubernur dan Pangdam waktu itu bahwa Laskar
Jihad boleh datang ke Ambon asal tidak membuat masalah. Secara tidak
langsung mereka sudah menjamin, bahwa tidak akan terjadi kekacauan berada
di Ambon. "Tapi kalau sampai terjadi sesuatu, dan korban berjatuhan kembali
makarakyat harus meminta pertanggungjawaban kedua petinggi daerah Maluku
ini.
Dikatakan, kedatangan orang-orang sebanyak itu ke Ambon, justru hanya akan
menambah masyarakat Ambon, paling tidak soal penampungan dan makan.
"Soal pengungsi saja kita lagi pusing, koq, pemerintah menerima lagi
orang-orang sebanyak itu ke sini, ini kan menambah beban," tegas Papilaya
yang juga Ketua ISEI Cabang Maluku ini.
Baginya kedatangan sejumlah orang tak dikenal (Laskar Jihad) ke Kodya Ambon
beberapa hari belakangan ini perlu dipertanyakan. Sebab, kalau hanya untuk
memberi bantuan sosial, sebagaimana dikatakan Gubernur Maluku, apakah harus
datang dalam jumlah besar seperti itu.
"Kalau kedatangan mereka ke Maluku,  khususnya Kodya Ambon, untuk memberi
bantuan sosial, apakah harus dalam jumlah sebanyak itu ?. Ini kan hanya
akan menimbulkan ketegangan dan keresahan dalam masyarakat," tanya
Papilaya.
Masih menurut Papilaya, yang dibutuhkan masyarakat Ambon saat ini adalah
ketenangan, bukan ketegangan dan keresahan. Sebab, apakah aparat keamanan
bisa mengkontrol aktivitas mereka atau tidak. Karena ada beberapa kasus
terakhir yang belum dapat diungkap oleh aparat keamanan, seperti kasus
Waihaong, Mardika, Batu Merah, kasus Buleng, dan Kota Jawa. Kini, tercatat
aparat keamanan belum mengungkap dengan jelas, siapa otak di balik kasus
itu. Pula, siapa yang memulainya dan siapa para pelakunya, semuanya belum
terpecahkan.
Dia sendiri mengaku bingung, akibat kehadiran Laskar Jihad ini. Sebab,
katanya, orang Maluku bisa menyelesaikan konfliknya sendiri. Koq, kenapa
justru harus mendatangkan orang luar untuk menyelesaikannya.
Apakah mereka (orang luar) mampu untuk menyelesaikan masalah ini. Apa bukan
sebaliknya, mereka justru membuat kegaduhan.
Ketidakjelasan inilah, kata Papilaya, yang kemudian menyulut keresahan
maupun ketegangan dalam masyarakat.
"Terus terang saja, saya sendiri was-was dengan kedatangan orang-orang luar
dalam jumlah banyak seperti ini," ujarnya dan menjelaskan dengan semakin
banyak kedatangan orang yang tidak dikenal itu, maka akan makin menambah
beban psikologis masyarakat. Sebab itu, dia mempertanyakan konsistensi
pemerintah, baik di pusat maupun di daerah. Apalagi, Presiden Gus Dur,
pernah mengatakan, bahwa yang dapat menyelesaikan masalah Ambon adalah
orang Ambon (Maluku) sendiri. Tapi, ternyata, dalam perjalanannya, banyak
orang luar yang justru ikut campur dalam hal ini.
Dia menambahkan, konsistensi dari pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid ini
harus didukung oleh aparat keamanan dan bukan saja di Maluku, tetapi juga
di daerah-daerah asal para Laskar Jihad itu. Artinya, setiap pelabuhan di
mana para Laskar Jihad akan menuju Ambon, paling tidak harus dicegat
aparat. Namun, ternyata nuansanya menjadi lain. Di sinilah pernyataan
Presiden Gus Dur itu patut dipertanyakan, apakah sudah didukung oleh aparat
keamanan ataukah belum.
Menyinggung soal ratusan Laskar Jihad, yang nama-namanya sudah terdaftar di
Polres Pulau Ambon. Papilaya menegaskan, apakah dengan nama-nama yang
terdaftar di kepolisian itu sudah menjadi jaminan untuk mereka tidak
membuat rusuh di Ambon ?.
Karena itu dia menyerukan agar pemerintah dan aparat keamanan untuk segera
melakukan tindakan pencegahan, bukan sudah terjadi konflik, baru melerai
pertikaian. "Itu tak ada gunanya."

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke