************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** Maluku Report 60 Laporan Perkembangan dan Situasi Ambon 30 Juni 2000 --------------------------------------------------------------------- I. Evaluasi pelaksanaan situasi darurat Sipil Memasuki hari keempat pemberlakuan situasi gawat darurat, Komando Banmil (Bantuan Militer) mulai mengadakan gerak konsolidasi pasukan dan pengamanan. Strategi pengamanan yang dirumuskan komando Banmil ialah dengan membentuk [1] pos jaga di sejumlah wilayah, [2] melakukan penyisiran wilayah dalam rangkan razia senjata dan [3] mengadakan pertukaran aparat jaga 3 hari sekali. Salah satu berita yang menarik dalam proses ini ialah penempatan satuan Kostrad 303 sebanyak 150 orang di wilayah Kristen di pebukitan Batu Gajah Atas yang berdampingan dengan desa Kus-kusu. Bukan cerita baru bahwa warga Kristen sekota Ambon alergi dengan Satuan Kostrad 303 yang selama menjalankan tugas pengamanan, selalu berpihak dan terlibat dalam proses penyerangan masa perusuh muslim ke wilayah pemukiman Kristen. Penempatan satuan 3030 di lokasi pos jaga wilayah Kristen menyebabkan warga Kristen di wilayah itu mengajukan protes & penolakan. Namun protes itu tidak digubris bahkan warga diancam lagi oleh Wakanyon 303, aseter Budiatman, yakni apabila warga menolak maka bisa saja tentara bergabung dengan pihak Muslim. Pada sisi pemegang kendali dalam situasi darurat sipil yakni Gubenur Maluku, kelihatannya tidak memeliki team kerja yang bisa merumuskan kebijakan yang kondusif bagi terciptanya pemulihan kamtibmas. Di Hari hari keempat situasi darurat sipil, situasi kota Ambon relatif tenang walaupun masih terdengar ledakan bom dan mortir di sejumlah tempat termasuk di kawasan Batu-gantung. II. Peralatan Medis Rumah Sakit Khatolik Otto Kwik disembunyikan di posko Mesjid Al-fatah Peralatan medis Rumah sakit Otto Kwik, satu-satunya Rumah Sakit milik gereja Khatolik di kota Ambon, yang diserang, dijarah dan dirusakkan oleh massa Jihad pada beberapa hari yang lalu, diketahui dibawa ke posko Al-Fatah. Informasi ini diperoleh dari saksi mata seorang suster Rumah Sakit tersebut. Kondisi Rumah sakit Otto Kwik sendiri dikabarkan mengalami pengrusakkan hebat akiabt ulah perusuh laskar Jihad. III. Sikap Pangdam Pattimura yang baru terhadap RMS dan keterlibatan aparatnya Pangdam Kodam Pattimura yang baru, kol. Inf. I Made Yasa, menyatakan bahwa ia tidak melihat kebenaran isu RMS di Ambon walaupun pernah ada kabar pengibaran bendera RMS di pulau Seram. Penegasan Pangdam ini dengan sendirinya meruntuhkan alasan aksi laskar Jihad di Maluku. Perlu dicatat bahwa Pangdam sendiri bukan orang baru di Maluku sebab sebelumnya ia pernah bertugas sebagai Komandan Yonif 733 selama 4 tahun sehingga ia tahu betul kondisi Maluku dan isu-isu RMS yang direkayasa oleh pihak-pihak tertentu. Pada sisi lain, Pangdam pun mengakui adanya anggota aparat keamanan yang terlibat dalam kerusuhan walaupun tidak semua aparat menurutnya. Saat ini, Pangdam tengah mengupayakan konsolidasi pasukannya yang kini telah berjumlah 7000 orang. Konsolidasi yang dimaksudkan adalah memberikan penyadaran dll. IV. Bank Indonesia Kembali Beroperasi di Ambon Bank Indonesia yang tadinya telah ditutup karena alasan keamanan, akhirnya kembali beroperasi atas desakan dan tekanan gubenur Maluku. Walaupun demikian, BI maluku tetap melakukan pembatasan pelayanan V. Inflasi di Kota Ambon meroket: terjadi Kelangkaan bahan pangan & BBM Belum pulihnya situasi keamanan di kota Ambon telah menyebabkan tingkat inflasi di kota itu, khususnya harga bahan pangan meroket harganya. Lihat saja harga minyak tanah yang kini 1000/liter, Sayur Sawi Rp.4000. kacang panjang Rp.4000, , kangkung Rp.2000, Telur rp.750-1000/butir. Tidak semua pasar kaget yang ada menyediakan bahan pangan. Kelangkaan bahan pangan menyebabkan warga Kristen harus menempuh perjalanan laut dan darat untuk bisa memperoleh bahan pangan di pasar di wilayah lain yang kebetulan buka hari itu. Sebagai contoh, warga kristen desa Poka harus menyeberangi laut menuju ke desa Galala, dari situ mereka menuju ke Passo dengan menggunakan angkutan darat. Setelah itu mereka harus berganti kendaraan menuju ke desa desa Hutumuri &Leihari, setelah itu mereka terpaksa harus jalan kaki meyusuri desa Kilang, Hatali selama 3 jam baru tiba di wilayah Batu Gajah kota Ambon. Perjalanan normal ke kota Ambon yang tadinya berkisar 30 menit kini berubah menjadi 6 jam sekali jalan dengan jarak tempuh sekitar 20 Km. Bukan hanya itu saja, cuaca kota Ambon yang terus diguyur hujan memperparah penderitaan warga dan para pengungsi yang ada. VI. Peta lintasan jalan kota Ambon berubah Akibat kerusuhan intensif dalam seminggu lalu, sejumlah jalan dalam kota Ambon menjadi tertutup. Jalan raya menghubungkan Wilayah Batu gantung - pohon Puleh hingga Jl.Said perintah (wilayah Pardes), menjadi tertutup akibat berkeliarannya snipers di jalur tsb. Akibatnya warga Krsiten harus menempuh jalan pebukitan di lingkar luar kota untuk bisa tiba di wilayah lain di tepi kota. Tak heran bila Kapolda sendiri harus berjalan kaki mengikuti jalur itu dari rumah dinasnya di wilayah Mangga dua menuju Polda di daerah Batu Meja. VII. Kondisi pengungsi Jatuhnya daerah kampung Kolam batu-gantung melengkapi daftar penggusuran warga kristen yang tadinya berdiam di tengah kota ke wilayah pebukitan-pengunungan. Tak heran bila sindiran dari pihak muslim tertuang dalam lagu "naik-naik ke puncak gunung" dengan syair plesetannya "Obed lari ke pucak gunung, dingin-dingin sekali". Fakta di lapangan membuktikan bahwa tidak semua desa Kristen di wilayah pegunungan siap menerima arus ledakan pengungsi. Di desa Siwang misalnya, banyak pengungsi yang akhirnya terpaksa keluar meninggalkan desa tersebut akibat keterbatasan air untuk MCK. Belum pulihnya situasi keamanan juga mengakibatkan krisis pangan di kalangan pengungsi. Sementara Satkorlak sebagai salah satu badan pemerintah penanggung jawab urusan pengungsi, belum bisa menyalurkan bantuan beras akibat gudang pangannya berada di daerah yangt belum aman. VIII. Sikap Kapolda Baru atas hancurnya Kompleks Brimob di Tantui dan di asrama polisi Perigi Lima Kapolda Baru yang menegaskan bahwa Kapolreslah yang bertanggung jawab atas hancurnya Kompleks Brimob di Tantui dan di asrama polisi Perigi Lima sebab menurutnya Kaporles seharusnya melengkapi anak-buahnya dengan senjata dan mempertahankan wilayah miliknya. (Provided By Masariku Network 2000.) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 atau BCA Cab. Darmo Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
