**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
Para pembaca yang terhormat,
Berikut ini hasil investigasi Tim Harian Siwalima tentang penyerangan
daerah Mardika kemarin Jumat 11 Agustus 2000. Berita ini melengkapi data
posting Eskol Net kemarin. Semoga bermanfaat.
Salam,
Eskol Net
-----------

BERITA HARIAN UMUM SIWALIMA AMBON
Edisi: Sabtu, 12 Agustus 2000

Perbatasan Mardika - Batumerah Berkecamuk
Lima Warga Sipil Tewas
-----------------------------
Ambon, Siwalima
Situasi tenang Kota Ambon, Jumat siang kemarin, terusik kembali. Ketegangan
antar warga terpusat di perbatasan kawasan Mardika dan Batumerah. Sonatk,
warga kedua kubu terkonsentarsi di perbatasan wilayah masing-masing,
dihadang aparat keamanan. Namun sekitar pukul 19.30 WIT terjadi hujan
tembakan dan menewaskan lima warga sipil serta belasan lainnya luka-luka
berat dan ringan.

Informasi yang dihimpun Siwalima dari Posko Majelis Ulama Indonesia (MUI),
tadi malam, menyebutkan, lima korban adalah anak remaja. Sayangnya
identittas mereka tidak berhasil diperoleh. Yang pasti mereka adalah siswa
SLTP dan SMU.  Menurut sumber di Rumah Sakit Al-Fatah, diantara para korban
tewas, ada yang kondisinya sangat mengenaskan. Ada yang tewas dengan tiga
dan empat lubang tertembus timah panas di sekujur tubuh. Sedangkan 17 orang
lainnya mengalami luka-luka serius dan amsih dirawat intensif. Ikhwal
ketegangan itu ada dua versi. Menurut sumber di Posko MUI Maluku, pemicu
konflik tersebut adalah warga Mardika. Sumber itu menuturkan, Jumat sore,
ada seorang wanita bernama Tum (25) mengendarai sepeda motor dari arah
Batumerah
menuju Mardika. Di kawasan Mardika, ia  dihadang dua orang pemuda. Tum,
kata sumber itu, sempat dintanya "kamu Acang atau Obet". Ketika dijawab
"saya Acang", sepeda motor yang dikendarainya langsung dirampas. Spontan
saja Tum melarikan diri ke Batumerah dan melaporkan kejadian yang
dialaminya.

Sumber tersebut mengakui bahwa Pendeta AZE Pattinaya mau memberikan motor
pribadinya sebagai jaminan, sambil mencari sepeda motor milik Tum yang
dibawa kabur. Namun saat dicek ke markas Komando Sektor, sepeda motor yang
dijanjikan itu tidak ada. Mendengar kisah Tum, massa langsung
terkonsentarsi di perbatasan Desa
Batumerah dan Mardika. Umumnya mereka adalah anak-anak  berusia belasan
tahun yang tidak melengkapi diri dengan perlengkapan perang. "Mereka
ramai-ramai menuju perbatasan karena sangat emosi," ujar sumber tersebut.
Di kawasan itu, massa dari Batumerah secara brutal terus merengsek maju
sampai ke sekitar bekas Gedung Apotik Sari Farma dan sekitarnya. Buntutnya,
terdengar rentetan tembakan yang dimuntahkan aparat keamanan," tambahnya.
"para tokoh dan umat Muslim sangat marah dan mengutuk tindakan aparat
keamanan itu. Mungkin besok (Sabtu hari ini - Red), kami akan melakukan
aksi ke markas komando sektor," ujar sumber tersebut.
Sementara, informasi yang diperoleh Siwalima dari Posko Darurat Sipil
menyebutkan, korban tewas akibat ketegangan di perbatasan Batumerah -
Mardika teridentifikasi sebanyak empat orang  dan 20 orang lainnya
mengalami luka-luka. Ia cukup memastikan, korban tewas tertembak oleh
aparat keamanan. Sebab massa sangat brutal dan sehingga tidak bisa
ditolerir lagi oleh aparat.

Aparat yang bertugas mengamankan kawasan Mardika, Karangpanjang dan
Batumerah adalah Yonif 141. Namun, kata sumber itu, yang terlihat bukan
hanya aparat dari Yonif 141. Ada juga dari satuan lain yang ditugasi
Komandan Sektor yang bermarkas di jalan AY Patty. Jarah Senk Penyebab
ketegangan versi Ketua Klasis Kota Ambon, Pdt AZE Pattinaya, agak berbeda.
Menurut Pattinaya berdasarkan laporan dari warga Mardika - penghadangan
wanita yang bersepeda motor itu merupakan kompensasi terhadap penjearahans
enk di
rumah-rumah warga warga Mardika yang telah musnah terbakar, dekat Hotel
Amnas.

Jumaat siang kemarin, kisahnya ada warga Muslim yang menjarah sejumlah senk
atap rumah penduduk di Mardika. Para pemuda yang melihat aksi itu langsung
melaporkan kepada aparat keamanan yang nepos disitu. Namun laporan tersebut
tidak ditanggapi. Tidak puas dengan sikap aparat, warga kembali lagi
melapor ke pos aparat
setempat dan meminta ketegasan mereka, tapi jawaban yang diperoleh sangat
tidak nyaman. Nah, kebetulan saat itu seorang wanita lewat dengan sepeda
motor dan ia langsung dihadang. Sepeda motor jenis bebek - Yamaha bernomor
POlisi DE 4452 A langsung dirampas. Hingga tadi malam, kata Pattinaya,
pihaknya masih melacak pemuda
yang merampas motor. Kendati begitu, Pdt Pattinaya telah memberikan sepeda
motornya sebagai jaminan. "Saya sudah memberikan sepeda motor saya sebagai
jaminan sambil mencari motor yang dirampas itu. Saya telah menyerahkan
sepeda motor jaminan itu langsung kepada Kapten Suri dari Yonif 141. Tapi
kabarnya mereka tidak mau terima," ujar Pattinaya. (enu/lai)
(Siwalima daily News)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke