**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************
Para pembaca yang budiman,
Setelah masyarakat Minahasa, Papua dan NTT menolak dimasukkannya
Piagam Jakarta dalam UUD 1945, kini giliran warga Nias yang menolaknya.
Daerah mana yang akan menyusul ?
Redaksi Eskol Net

Masyarakat Nias Tolak Masuknya Piagam Jakarta
dalam Pembukaan UUD �45
Minggu, 13 Agustus 2000, @14:46 WIB
...........................................................................
....
Jakarta -- Sebanyak 50 orang perwakilan masyarakat Nias yang datang ke
Jakarta, melakukan aksi unjuk rasa, mereka menolak masuknya Piagam Jakarta
dalam Pembukaan UUD �45.
Menurut Koordinator Rombongan, Drs Sokhiatulo Laoli, mereka menolak sikap
tersebut, karena dengan memasukan tujuh kata Piagam Jakarta, sama saja
memicu disintegrasi bangsa. �Itu jelas tidak sesuai dengan nilai-nilai
demokrasi yang ingin kita tegakkan,� cetusnya kepada wartawan di loby
Gedung Nusantara V MPR RI, siang ini.

Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi tersebut kepada para
anggota MPR, yang sedang bersidang. Utamanya Komisi A yang sedang membahas
masalah amandemen UUD �45.

Terlihat banyak spanduk dan poster yang mereka bentangkan, dimana spanduk
tersebut berisikan sikap tegas mereka, yang menolak dimasukkannya Piagam
Jakarta dalam amandemen UUD �45, ada juga kata-kata �sidang MPR janganlah
membelokan arah dari dasar negara�.

Para pengunjuk rasa sebagian mengenakan baju adat Nias, yang mereka sebut
�Baruhada�, yaitu rompi yang berlatar dua warna, dominan hitam dan merah.
Serta dipenuhi oleh motif khas Nias, dimana pada setiap pinggir lengan dan
ujung lehernya berbentuk zig zag melingkar dengan warna kuning.

Selain itu, Laoli pun mengingatkan, tujuan reformasi bukan berarti merubah
dasar negara. Tapi yang dirubah adalah sistem dan tatanan kehidupan
barbangsa yang selama ini telah rusak.

Hal senada diungkapkan pula oleh masyarakat Nias lainnya, Firman Harefa.
Dia menegaskan, agama sebaiknya hanya sebagai inspirasi, bukan aspirasi,
karena berbicara agama adalah tanggung jawab masing-masing pribadi kepada
tuhannya, bukan bertanggung jawab kepada negara sebagai institusi publik.

Sampai berita ini diturunkan, mereka sedang diterima oleh FPDKB di lantai
2, samping kanan Gedung Nusantara V. Mereka juga akan menyampaikan
aspirasinya kepada FPDIP. *** (rin)


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke