*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************

Gereja Protestan Maluku Anggota PGI
Klasis Pulau Ambon Majelis Jemaat Waai
'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
Nomor : 05/111-56/E;4/7/2000
Lampiran :
Perihal : Tindakan Pangdam XVI Pattimura
              Sebagai penyebab hancurnya
              Negeri Jemaat GPM Waai.

Kepada Yth : Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Di Jakarta.

1. Dengan hormat kami menyampaikan laporan kepada bapak Panglima TNI bahwa
sesungguhnya serangan kaum Muslim yang didukung oleh pasukan Jihad dan TNI
dan beberapa anggota POLRI pada tanggal 6 Juli 2000, dan menyebabkan
jatuhnya Negeri Jemaat GPM Waai adalah "Kesalahan Kebijakan" dari Panglima
Kodam XVI Pattimura Brigadir Jenderal I Made Yasa. Oleh karena itu melalui
bapak panglima TNI kami memintakan pertanggung-jawaban Panglima Kodam XVI
Pattimura.

2. Sebenarnya penyerangan kaum Muslim yang berasal dari desa Tulehu, Liang
dan mitranya nari desa-desa lain serta didukung oleh pasukan Jihad dan TNI
AD dan anggota POLRI (salah satunya adalah Sersan Samardin Ohorela, yang
pada serangan 23 dan 24 Februari 1999 telah juga menembak Sdr Joseph
Manuputty almarhum yang sudah diperiksa, bahkan saksi-saksi peristiwa
penembakan telah diperiksa tetapi tetap bebas tanpa tuntutan hukum
selanjuntnya), masih bisa dihindari, tetapi Panglima Kodam XVI Pattmura,
walaupun sebagai orang baru di Kodam XVTI Pattimura tidak pernah mendengar
saran dari orang lain.

3. Bahwa sesungguhnya pada tanggal 30 Juni 2000, ada sebuah TIM Kecil dari
Negeri/Jemaat GPM Waai yang terdiri dari Pejabat Kepala Desa Waai, Bapak E.
Ririhatuela, Ketua Majelis Jemaat GPM Waai, Pdt. A.J.Jamborrnias, S.Th, dan
Ny. P. de Fretes/J, telah bertemu dengan Panglima Kodam XVI Pattimura yang
pada waktu itu berpangkat Kolonel Infantri I Made Yasa, sekarang Brigjen,
seraya n-menyampaikan saran-saran dan pendapat kepada Panglima Kodam XVI
Pattimura agar pasukan keamanan yang ada di daerah-daerah rawan konfilk
seperti desa Waai, Poka - Rumah Tiga, tidak boleh di tarik.

4. Menurut pengakuan Panglima Kodam XVI Pattimura Brigjen I made Yasa,
bahwa Gubemur Maluku sebagai Penguasa Darurat Sipil di Maluku juga telah
memintakan kepada Panglima agar Pasukan Keamanan yang ada pada titik-titik
rawan konflik jangan ditarik.

5. Menurut Panglima Kodam XVI Pattimura bahwa Mantan Danrem Pattimura
Kolonel Karel Rahhallo telah memintakah saya untuk tidak rnenarik pasukan
dari daerah-daerah rawan konflik

6. Apa jawaban Panglima terhadap saran dan permintaan tersebut:

6.1. Menjawab Kolonel Rahallo, Panglima XVI Pattimura menjawab: kalau Bang
tidak percaya kepada saya, silahkan datang untuk atur sendiri.

6.2 Menjawab Gubenur Maluku selaku penguasa Darurat Sipil, pangdam katakan
jika pak gubenur tidak percaya saya, silahkan atur sendiri.

6.3 Menjawab permintaan Tim dan Waai, panglima mengatakan: Saya mohon maaf
jika jawaban saya tidak memuaskan sebab jika saya terima satu orang maka
semua orang akan minta hal yang sama dan karena itu pasukan tetap ditarik.

7.  Agar lebih lengkap, maka kami rangkaikan sebagian percakapan dengan
Pangdam XVI Pattimura.
Inilah rekaman percakapan yang menunjukkan bahwa Pangdam XVI Pattimura
Brigjen TNI   I Made yasa juga terlibat kerusuhan di Waai

7.1    tiba di Markas Komando Kodam XVI Pattimura dari Dermaga Fery Galala,
pukut 15.10 WIT, lalu  melapor kepada Ajudan. Kami diminta Menunggu
sebentar, dan pukul 15.15 kami dipersilahkan masuk. Kami yang hadir saat
itu adalah, Pdt. A.J. Jambormias, sebagai juru bicara, Pejabat Kepala Desa
Waai, E. Ririhatuela, dan Ny. Paulina de FreteS / Jambormias (istri
pendeta).

7.2. Perkenalan karni dengan Pangdam dilanjutkan dengan penyampaian maksud
karni menghadap Pangdam, yang rekaman percakapannya kami rangkaikan sebagai
berikut :

7.2.1. Kami menanyakan Pangdam, apakah Bapak memerintahkan penarikan aparat
keamanan dari Desa Waai?Panglima menjawab : bahwa dirinyalah yang
memerintahkan penarikan pasukan. Panglima melanjutkan menjelasannya, bahwa
maksud saya menarik pasukan itu adalah untuk membangun penguatan militer
TNI pada pos-pos tertentu, sebab yang lakukan oleh Jenderal Tamaela itu
salah.

7.2.2 Kami menjawab penyataan Panglima, bahwa kami sama sekali tidak ingin
mendikte Bapak dalam policy yang dikembangkan, namun kami memberi saran
agar Bapak Panglima jangan menarik pasukan dari desa-desa yang rawan
konflik, antara lain - desa Waai, Desa Poka dan Rumah Tiga.

7.2.3 Panglima lalu berbicara lagi, sebagai berikut : Saya mohon maaf,
kalau saya tidak mengabulkan permintaan Bapak Pendeta dan Bapak Kepala
Desa. Bila saya mengabulkan permintaan bapak-bapak, maka semua orang akan
memintakan hal yang sama.Panglima lalu menunjuk kepada permintaan bapak
Gubemur Maluku agar pasukan di daerah-daerah rawan konlfik jangan ditarik.
Beliau menjelaskan kepada Bapak Gubernur Maluku, bahwa kalau Bapak tidak
mempercayai saya, biarlah bapak mengaturnya sendiri. Seterusnya Pangdam
juga menjelaskan bahwa Kolonel Ralahallo, mantan Danrem Pattimura meminta
hal yang sama dengan Bapak Gubernur, namun jawaban Panglima adalah kalau
bung tidak percaya saya, silahkan datang lalu atur sendiri

7.2.4 Kami menanggapi penjelasan Pangdam bahwa sekali lagi kami tidak
bermaksud untuk menolak strategi yang dibangun oleh Bapak. Bila ada kesan
bahwa kami mendikte Bapak, kami mohon maaf. Tetapi hal yang pertu kami
percakapkan dengan bapak Panglima ialah, bahwa jika aparat keamanan di
tarik dari Waai, maka Negeri/Jemaat GPM Waai akan diserang, kami menunjuk
pada pengalaman berharga, bahwa tatkala pasukan Brimob ditarik dari
perbatasan Waai-Tutehu tanggal 17 Agustus 1999, maka pada tanggal 18
Agustus 1999 pagi, Negeri/Jemaat GPM waai diserang dari arah Desa Tulehu.

7.2.5 Sementara percakapan berlangsung ada telepon yang masuk dari Rindam
XVI Pattimura. Pangdam menerima telepon tersebut, sementara kami
mengikutinya secara cermat, Dalam percakapan, kami mendengar kata-kata yang
diucapkan oleh Pangdam XVI Pattimura sebagai berikut :. Di sini ada Bapak
Pendeta Waai yang nampaknya kuatir sekall. Karena itu siapkan amunisi dan
senjata di mobil dan siapkan pula anggota anggota agar apabila terjadi
sesuatu dengan Waai, segera meluncur untuk membantu. Pangdam kembali ke
tempat percakapan dan percakapan dilanjutkan. Dengan lega hati pangdam
berkata : Saya sudah mintakan pasukan disiapkan, agar bila ada apa-apa,
maka merekan langsung membantu ke Waai.

7.2.6 Mendengar pembicaraan tersebut, saya katakan bahwa itu baik dan
karena itu kami berterima kasih tetapi ada pengalaman yang kami kemukakan
bahwa pada tanggal 23 dan 24 Februari 1999, kami diserang puluhan ribu
warga muslim. Pada saat serangan semua jalan diblokade, sehingga tidak satu
pun aparat yang datang ke Waai untuk membantu, tiba tepat waktu. Karena
itu, jika terjadi serangan lagi terhadap negeri/Jemaat GPM Waai, maka semua
rencana yang Bapak lakukan tidak kesampaian.

 8.    Sudah sejauh mungkin, kami mengemukakan berbagai pengalaman namun,
Bapak Panglima Kodam XVI Pattimura tidak bergeming sedikitpun untuk merubah
sikapnya yang keras, dan tetap pada komitmennya untuk menarik pasukan dari
daerah-daerah rawan konflik. Pada akhimya kami pamit untuk pulang, tetapi
sebelumnya saya meminta dari Beliau untuk berdoa bersamanya. Beliau
menyetujuinya, lalu kami pun berdoa. Setelah berdoa, kami menuju ke pintu,
dan tatkala tiba di depan pintu, kami mengarahkan perjalanan ke luar menulu
peta pulau Ambon yang terpampang pada dinding ruangan Panglima. Di sana
saya menunjukkan kepada Beliau deretan Desa-desa Liang, Waai dan Tulehu,
sambit berkata: Ini Desa Liang, sebelah utara Waai, dan sebelah barat
terdapat Desa-desa Hitu, Mamala, Morela dan Wakal yang sangat agresif. Di
sebelah selatan ada Desa Tulehu dan di selatannya ada Desa Tengah-Tengah
yang juga sangat radikal. Di depan Desa Waai ada Desa-Desa besar Islam yang
selam ini melakukan serangan di mana-mana. Desa-desa itu adalah : Pelauw,
Kailolo, Rohomoni, Kabauw. Itu berarti Desa Waai sangat terancam dan
sewaktu-waktu akan diserang. Setelah percakapan itu pun, Panglima tetap
mempertahankan keputusannya untuk menarik pasukan, termasuk penarikan
pasukan dari Waal, sambil membisikan kepada saya bahwa : pasukan jihad
diperintahkan dar Jakarta untuk tidak menyerang dalam kondisi sekarang ini.

 9.  Tanggal 6 Juli 2000, serangan di mulai pukul 05,30. oleh masyarakat
muslim dari Tulehu dan mitra-mitranya, kemudian pukul 07.45, serangan
dibangun lagi dari desa Liang dan mitra-mitranya, di dukung oleh pasukan
jihad dan anggota-anggota TNI Angkatan Darat yang sangat banyak. Jenis
senjata yang digunakan adalah : Mortir berbagai kaliber, MK 3, LMJ, Granat,
Bom Api, SSI, M16, AK, Ruger, SKS, Sten, dll. Pertanyaannya adalah dari
mana mereka memperoleh senjata dan amunisi sebanyak itu untuk menghancurkan
bukan saja Waai, tetapi juga Ambon dan sekitarnya yang selama ini menjadi
sasaran.
Mohon pelacakan Bapak Panglima untuk mendapatkan sumber pengadaan senjata
dan amunisi yang sangat banyak tersebut.

 10.   Akibat dari kebijakan yang tidak mengena dari Pangdam XVI Pattimura
tersebut di atas, maka Negeri/Jemaat GPM Waai musnah terbakar. Jumlah
korban manusia dan korban harta benda sangat banyak. Untuk sementara yang
dapat kami laporkan sebagai berikut :

23 orang meninggal dunia
19 orang luka-luka berat maupun ringan
2 gedung gereja habis terbakar
1 gedung SLTP ler)gkap habis terbakar
 1 gedung Taman Kanak-Kanak habis terbakar
1 Gedung sekolah Dasar habis terbakar
1 Puskesmas habis terbakar
1 kantor desa habis terbakar
semua sarana ekonomi habis terbakar.
Rumah-rumah penduduk musnah dimakan api, dan tersisa 16 rumah saja.
Dan masih banyak lagi yang tidak sempat kami laporkan.

Dengan mengemukakan Semuanya di atas maka kami minta dengan penuh
kerendahan hati  dari Panglima TNI untuk :
1. Menindak tegas Pangdam XVI Pattimura TNI I Made Yasa melalui jalur-jalur
hukum yang ada pada TNI.
2. Membangun Sarana ibadah, yaitu gedung gereja, sarana penddikan dan
sarana kesehatan serta kantor desa.
3. Membantu pembangunanrumah rakyat yang porak-poranda sebagai.... (tidak
terbaca)
4. Membantu masyarakat mengembangkan ekonominya.
5. Menyediakan obat-obatan untuk kepentingan masyarakat banyak di sertai
penyediaan sarana Puskesmas Waai.
6. Bantuan-bantuan lain yang dirasakan perlu untuk masyarat Waai yang
jumlah KK 1364 dan jumiah jiwanya 6224 orang.
Demikian laporan kami kiranya ditanggapi dengan sungguh-sunggoh demi
kepentingan masyarakat banyak

      Waai, 27 Juli 2000
Majelisa Jemaat GPM Waai
               Ketua
Pdt, A. J. Jamborrnias, S.Th

Tembusan kepada Yth
1. Kepala Staf Angkatan Darat di Jakarta
2. Kepala Pusat Polisi Mfliter di Jakarta
3. Gubernur Maluku/Penguasa Darurat Sipil Maluku Di Ambon
4. Arsip.

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke