**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Teror bom, siapa dalangnya?
---------------------------------
Oleh: Leo Cahyo

Lagi-lagi sebuah ledakan keras mengguncang Jakarta, tepatnya gedung Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Diduga keras ledakan berasal dari bom mobil yang
diparkirkan di parkiran P2 gedung BEJ. Kali ini korbannya bukan main-main,
15 orang tewas dan puluhan luka-luka. Dan, lagi-lagi, semua jari menunjuk
ke arah sidang HMS sebagai penyebab terjadinya ledakan. Seakan-akan
kejadian ini 'memenuhi harapan' masyarakat yang dari awal sudah di'cekoki'
analisa/ pendapat para elit politik bahwa bila HMS di seret ke pengadilan,
maka akan terjadi kekacauan nasional.

Apa memang HMS dalangnya? Apa dampak kasus ini terhadap persidangan
HMS? Apakah hanya HMS yang saja yang punya kemampuan menciptakan teror
massa? Siapa lagi yang diuntungkan dari kekisruhan ini?

Untuk mengetahui secara pasti siapa-siapa yang terlibat (dan yang tidak
terlibat), sangatlah sulit. Kalaupun pelakunya
tertangkap akan sulit mengusut sampai kepada dalangnya. Karena umumnya
aksi-aksi teror yang berdampak pada politik pasti digarap dengan sangat
hati-hati, dan dalangnya tidak akan dikenali oleh pelaku (agar tidak bisa
diusut).
Untuk itu yang bisa dilakukan masyarakat awam adalah mempersempit daftar
nama pihak-pihak yang mungkin terkait dengan teror bom ini. Mempersempit
daftar bisa dilakukan dengan melihat 2 faktor:
-Modus Operandi (MO)
-Motif

MO peledakan BEJ sampai saat ini masih terus diselidiki Polri. Namun dari
kesaksian beberapa orang diketahui:
- terjadi pada hari Rabu
- terjadi pada jam kerja (pk.15.15 WIB)
- terjadi ditempat tertutup
- kemungkinan bom dipasang di salah satu mobil yang parkir
- bom menghancurkan pipa air, dan menimbulkan genangan air setinggi mata
kaki di TPK

Dari fakta di atas, hanya bisa dibuat perkiraan:
-pelaku sudah memperhitungkan moment (hari dan waktu peledakan) dengan
cermat. Hari kerja BEJ adalah dari Senin - Jumat, artinya pelaku sudah
memperhitungkan bahwa setelah bom meledak, maka bursa akan lumpuh dan tidak
mungkin segera pulih pada hari Kamis atau Jumat. Sementara pasar
internasional sudah bereaksi.
Selain itu, ledakan pada
pk.15.15, membawa dampak psikologis bagi para pelaku pasar. Karena saat itu
menjelang penutupan transaksi bursa lokal (pk.16.00) sehingga transaksi di
lantai
bursa sedang ramai-ramainya. Dan ledakan tersebut paling tidak telah
meninggalkan trauma bagi para pelaku pasar; paling tidak pemulihannya akan
memakan waktu.
-Bom dipasang di ruang tertutup yang padat dengan kendaraan dan terdapat
banyak orang (sopir, karyawan gedung, staff keamanan). Artinya, pelaku
adalah seorang profesional berdarah dingin yang (kemungkinan) sudah
terbiasa melakukan kegiatan ini--tidak lagi memperhitungkan kemungkinan
jatuhnya korban jiwa.
- genangan air yang ditimbulkan oleh pipa yang rusak akan ikut 'membantu'
merusak/ mengaburkan jejak/ barang bukti di TKP. Hal ini sudah
diperhitungkan oleh pelaku.

Dari MO ini bisa dipastikan bahwa:
- pelaku adalah orang/ kelompok terlatih
- pelaku sudah melakukan survey, atau paling tidak mengerti jadwal
aktifitas BEJ

Kelompok yang punya potensi sebagai pelaku:
- satuan khusus dalam TNI yang terlatih melakukan sabotase
- teroris internasional

Mencari tahu satuan TNI yang berpotensi agak sukar, karena rata-rata satuan
(AD,AL, AU) punya sub unit penyusupan dan sabotase. Namun bila dilihat dari
track record yang ada, maka kemungkinan kelompok dari AD lah yang terlibat.
Karena selama
pemerintahan Orba, AD lah yang paling dekat dan berkepentingan dalam
mempertahankan kekuasaan Orba.
Ada juga kemungkinan terlibatnya teroris internasional dalam kasus ini.
Namun sulit untuk dibuktikan. Bila benar pihak luar terlibat, maka ini
adalah bukti kelemahan intelijen Indonesia (BIA dan BAKIN) dalam mendeteksi
masuknya kekuatan asing. Atau bisa juga BIA dan BAKIN sengaja
merahasiakannya dari publik.


Motif:
I. motif ekonomi; secara keseluruhan, peledakan BEJ adalah bentuk teror
terhadap salah satu simbol ekonomi. BEJ yang memiliki akses ke pasar
internasional adalah 'gerbang' bagi investor luar. Ibarat jaring laba-laba,
maka getaran di BEJ sudah pasti terasa di seluruh pasar modal dunia.
Ujung-ujungnya adalah makin menipisnya tingkat kepercayaan pasar
internasional terhadap Indonesia.
II. motif politik; ada beberapa motif:
a. Untuk merongrong stabilitas keamanan yang pada akhirnya memberi jalan
untuk 'mempreteli' jajaran 'orang-orang' Presiden Abdurrahman Wahid dalam
institusi keamanan (Polri dan TNI). Salah satu wujudnya adalah desakan yang
mulai santer agar Kapolri dan Kapolda mengundurkan diri. Dengan makin
seringnya terjadi teror bom dan makin menumpuknya kasus-kasus bom yang
tidak terungkap, maka masyarakat dibuat menjadi tidak sabar terhadap Polri
dan TNI (yang sering diisukan beberapa oknumnya terlibat).

b. Ledakan tersebut adalah 'peringatan' HMS terhadap pihak-pihak yang
terlibat dalam pemeriksaan dan pengadilan HMS. Ini bisa jadi merupakan
'penegasan' terhadap 'teror terselubung' yang (menurut isu) sudah melanda
para jaksa sejak mulai diperiksanya HMS. Targetnya tentu saja agar jaksa
dan hakim terpengaruh dan terjadi 'perubahan' yang menguntungkan dalam
proses persidangan HMS. Namun agar pesan ini benar-benar 'dipahami' oleh
pihak yang dituju, mungkin saja sebelumnya sudah ada 'pemberitahuan awal'
dari pihak HMS. Dan untuk memastikan bahwa masyarakat tidak serta merta
menuding HMS yang mendalangi, maka dibuatlah skenario tentang ancaman bom
terhadap gedung tempat kantor pengacara HMS, Juan Felix Tampubolon, tak
lama setelah bom di BEJ meledak (Surya 13/9/00). Bila benar demikian, maka
kasus BEJ memperkuat posisi 'bargaining power' HMS terhadap pemerintah.

c. Menjadikan HMS sebagai 'kambing hitam'. Dalam pengertian ini, bisa saja
si dalang ingin memperkuat imej masyarakat bahwa memang HMS lah yang
mendalangi semua teror ini. Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat;
-kemungkinan dalangnya sendiri terlibat masalah/ kasus yang menjadi sorotan
publik, sehingga merasa perlu mem 'blow up' kasus HMS sebagai pengalih
perhatian.
-citra HMS sebagai 'pendana teroris di Indonesia' akan melekat di hati
masyarakat. Sehingga dalam menilai kasus serupa yang lainnya pun masyarakat
akan dengan mudahnya menuding HMS
-dengan menunjukkan bahwa HMS 'terlalu kuat', diharapkan tidak ada lagi
pihak yang berani 'mengutak-utik' kasus-kasus lama Orba (paling tidak
mengurangi 'semangat' mengusut kasus lama).

Kelompok-kelompok yang 'memenuhi syarat' dilihat dari motif-motif di atas:
1. Keluarga Cendana (motif II.b)
2. Kroni HMS--pejabat dan ex-pejabat, pengusaha yang dekat dengan HMS
(motif I, dan II.c)
3. Salah satu kelompok dalam TNI (motif I, II.a, c)

Sang dalang bisa saja berdiri sendiri, atau koalisi dari kel. 1 dan 2, atau
2 dan 3, atau 1,2 dan 3. Bila memang si dalang adalah dalang koalisi, maka
bom tersebut memang memiliki 'multi purpose'.


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke