**********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis
Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
P A N C A S I L A
(Refleksi di 1 Oktober 2000)
````` ````````````````````
Oleh: Augustinus Simanjuntak, S.H
Pancasila bukanlah agama. Sehingga menentang Pancasila dengan
membandingkannya dengan agama merupakan pemikiran yang keliru. Pancasila
harus dipandang sebagai hasil perpaduan pemikiran para pendiri Republik ini
dalam tataran nilai-nilai universal, di mana mereka juga adalah orang-orang
yang beragama. Pancasila bukanlah sesuatu hal yang sakral, tetapi perlu
sebagai dasar untuk hidup bersama bagi seluruh warga negara yang sangat
majemuk.
Implementasi Pancasila haruslah diisi oleh nilai-nilai universal
sebagaimana diajarkan oleh masing-masing agama. Agama berkewajiban untuk
'menggarami' atau mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan
nilai-nilai kasih, kebaikan, kedamaian, kebenaran, keadilan, dan
sebagainya. Fungsi agama dalam mewarnai itu idealnya tidak perlu
menampakkan simbol-simbol atau jargon-jargon keagamaan. Kalau itu yang
terjadi maka gejala disintegrasi bangsa akan muncul.
Walaupun pada dasarnya nilai-nilai dalam agama itu memiliki hakekat baik
namun akan bernuansa
tidak baik ketika ia harus diwujudkan dengan jargon-jargon agama, karena
agama lain juga akan melakukan hal yang sama, sehingga fenomena "perang"
simbol keagamaan akan terjadi sebagai pemicu potensi konflik.
Ibarat suatu hidangan, kalau garam itu bergumpal-gumpal (garamnya masih
tampak) tentu akan menimbulkan rasa jengkel/ tidak mengenakkan bagi yang
menghidangkan masakan itu. Hidangan yang baik ialah keadaan dimana tidak
bisa lagi dibedakan mana garam mana bumbu dan mana asam, akan tetapi yang
terasa ialah bahwa masakan itu lezat dan enak. Begitu juga dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, apabila simbol-simbol keagamaan itu ditonjolkan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu itu bisa menimbulkan gesekan-
gesekan dalam kehidupan antar umat beragama.
Idealnya nilai-nilai universal dari semua agama sudah tidak perlu/tidak
bisa lagi dibedakan mana nilai-nilai dari Kristen mana nilai dari Islam,
mana nilai dari Budha, Hindu dan kepercayaan, bahkan nilai universal dari
kaum tak beragama pun. Semua telah menyatu menjadi suatu kehidupan yang
mencerminkan suatu negara yang religius, bukan mencerminkan negara barbar.
Hal-hal yang prinsip (fundamental) dalam masing-masing agama harus
dihormati sehingga umat beragama harus bijaksana dalam menempatkannya dalam
kehidupan bersama sebagai bangsa yang majemuk. Justru nilai-nilai
universal-lah yang semestinya sebagai sarana pembuktian kebenaran nilai
fundamental agama dalam realita kehidupan, bahkan sebagai sarana dalam
rangka memperkenalkan nilai-nilai fundamental itu kepada orang
lain. Bagaimana orang lain bisa yakin sesuatu yang fundamental itu benar
kalau umat beragama tidak bisa mencerminkan suatu kehidupan yang damai,
kasih, adil dan benar dalam tataran nilai universal.
Jadi, antara agama dan Pancasila tak terpisahkan, karena ajaran agamalah
(Sila I) yang mendasari setiap warga negara dalam mewujudkan sila II
(Kemanusiaan), III (Persatuan), IV (Demokrasi), dan Sila V (Keadilan).
Tanpa ajaran agama akan sulit mewujudkan suatu negara Pancasila.
Perkecualian bagi mereka yang salah dalam penafsiran ajaran agamanya, atau
mempolitisir agama untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. **
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l