**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

Para pembaca yang terhormat,
Memang jika negara sedang menghadapi persoalan rumit maka pihak yang
pertama menjadi sorotan ialah kepala pemerintahan, dalam hal ini Presiden.
Sebab hal ini menyangkut bagaimana "policy" pemerintah dalam mengatasinya.
Akan tetapi menjadi sebuah ironi ketika beban persoalan sepenuhnya
ditimpakan kepada pemerintah semata, tanpa ada upaya dari lembaga
kenegaraan lainnya untuk mencari solusi dan melakukan tindakan konkrit
dalam mengatasi setiap persoalan negara ini. Lebih parah lagi, ketika elit
politik sekedar menjadikan persoalan negara sebagai komoditi politik untuk
menjatuhkan pemerintah yang sedang berupaya membenahi kekacauan dan
kebobrokan sistem pemerintahan peninggalan Orde Baru ini.

Persoalan Aceh dan Irian Jaya bukanlah persoalan ringan. Penanganannya
butuh proses dan kearifan, sehingga para elit politik sebaiknya tidak hanya
asal ngomong. Lakukanlah sesuatu tindakan konkrit. Misalnya, kalau dulu di
waktu kampanye pemilu (1999), Partai Golkar dan beberapa partai politik
lainnya begitu gencar dalam mempropagandakan persatuan tanpa memandang
perbedaan, di TV, mengapa saat ini tidak lagi ?.  Di mana ketulusan hatimu
dalam memperjuangkan persatuan di negeri ini ?

Memulai kehidupan demokrasi, khususnya di Irian Jaya, tentu tidak lagi asal
"melibas " para pihak yang sedang mengungkapkan aspirasinya di daerahnya.
Tidak jamannya lagi menggunakan cara-cara Orde Baru, yang menggunakan
pendekatan militer dalam menangani rakyat yang sedang mengungkapkan
aspirasinya, seperti penerapan DOM (Daerah Operasi Militer). Apakah
keinginan mengibarkan bendera Bintang Kejora harus dihadapi dengan militer
?.  Dalam hal ini pemerintah harus terlebih dahulu berpikir dua kali
sebelum melakukan itu, karena isu HAM (Hak Asasi Manusia) sedang
'mengintai', isu yang siap dipakai sebagai senjata untuk memecah-mecah nega
ra kesatuan RI.

E s k o l   N e t

--------------------------
Presiden Tidak Salah
Berkaitan Dengan Insiden Wamena
``````````````````````````````
koridor.com [11 Oct, 15:33] Pihak Gereja Kristen Injili (GKI) Irian Jaya
menilai, kasus Wamena berdarah yang menelan korban 30 jiwa penduduk bukan
merupakan kesalahan Presiden Abdurrahman Wahid, walaupun Kepala Negara
mengijinkan pengibaran bendera Bintang Kejora.

Ketua Sinode GKI Irja, pendeta Herman Saud STh mengatakan di Jayapura,
Selasa, kasus Presiden memberikan ijin Bintang Kejora telah berkibar di
mana-mana atas perintah Presidium Dewan papua (PDP).

"Agar bendera tidak diturunkan aparat keamanan, Eluay menghadap Presiden,
dan dengan berbagai dalih merayu Presiden akhirnya Presiden memberi
residen," katanya.

Ia mengatakan, Eluay juga yang memerintahkan Satgas Papua mengibarkan
bendera Bintang Kejora di seluruh pelosok Irian Jaya. Karena itu Eluay
harus bertanggung jawab atas korban jiwa dan harta benda yang timbul akibat
nama Irian Jaya diganti Papua dan ijin pengibaran bendera.

"Walaupun begitu Presiden tidak perlu disalahkan, sebab yang sangat
berperan dalam kegiatan melepaskan Irja dari lingkungan Negara Kesatuan RI.

"Tapi suara gereja kalah dengan suara Theys Eluay, hingga warga Irian Jaya
termasuk warga GKI ikut-ikutan mengibarkan bendera Bintang Kejora.
Akibatnya jatuh korban di mana-mana seperti di Wamena yang menyebabkan
puluhan penduduk meninggal dunia," katanya.

Sementara itu Theys Hiyo Eluay menurut JPO mengatakan, sesuai kesepakatan
antara Muspida Irian Jaya dengan PDP pada pertemuan tanggal 3 Oktober,
penurunan bendera Bintang Kejora di seluruh Irian Jaya diundurkan.

"Secara moral mungkin PDP salah, tapi secara fisik Polres Wamena salah.
Jadi tuduhan PDP bersalah dan harus bertanggung jawab sangat keliru," kata
Theys Hiyo Eluay.

Kondisi keamanan di kota itu sudah pulih setelah pihak kepolisian berhasil
menahan puluhan penduduk yang diduga menjadi otak kerusuhan. (heru / hr)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke