'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''""'
SARI BERITA : Kamis, 11 Oktober 2000
===================================
^ Tolak Panggilan, Gus Dur Diancam Di-SI-kan
^ Eurico Ancam Minta Suaka Politik
^ Tak Perlu Lagi Toleransi
   Kepada Satgas dan Dewan Papua
^ GAM Terlibat Peledakan BEJ
^ Asing Senang RI Hancur: Obok-obok TNI
^ Gus Dur "Menikmati" Serangan Elite Politik
^ UU PKB Perlu Dikaji Kembali
````````````````````````````````````````

Tolak Panggilan, Gus Dur Diancam Di-SI-kan
------------------------------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Penolakan Presiden Abdurrahman Wahid terhadap kemungkinan pemanggilannya
oleh Pansus DPR mengenai Buloggate dan Bruneigate, telah membuat gusar
Ketua MPR Amien Rais. Kalau Gus Dur bersikeras menolak panggilan DPR,
dalam pandangan Amien, sama halnya dengan cari perkara, karena Kepala
Negara bisa dihadapkan pada Sidang Istimewa (SI) MPR. Kemungkinan SI ini
juga diisyaratkan oleh pengamat politik.
Menurut Amien, jika Presiden tidak memenuhi panggilan tersebut, sangat
mungkin timbul ketegangan baru antara legislatif dan eksekutif, karena DPR
merasa disepelekan. ''Gus Dur harus memberikan klarifikasi sejauh mana dia
mengetahui Buloggate dan Bruneigate itu. Jadi kalau memang tidak bersalah
atau tidak terlibat, ya... datang saja. Begitu saja kok repot-repot,'' ujar
Amien ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya di gedung MPR/DPR Senayan,
Jakarta, Rabu (11/10) kemarin. Selengkapnya:
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/10/12/p3.htm

Eurico Ancam Minta Suaka Politik
----------------------------------------
Jakarta (Bali Post) -
Meski berada di dalam tahanan Mabes Polri, ternyata mantan Wakil Panglima
Pasukan Pejuang Integrasi (PPI) Eurico Guterres masih terus memikirkan
nasib 130.000 pengungsi asal Timtim dan puluhan eks milisi yang kini masih
berada di Atambua dengan kondisi sangat menyedihkan. ''Jika kondisi
pengungsi dan eks milisi itu masih tak karuan, Eurico Guterres sempat
mengancam akan meminta suaka politik ke negara ketiga bersama anak buahnya.
Di samping itu, pemerintah Indonesia mesti memperhatikan dan bersedia
menerima kehadiran eks milisi serta pengungsi Timtim yang kini masih berada
di perbatasan Atambua,'' kata Asnawi Latief, anggota Komisi I DPR, di
Jakarta, Rabu (11/10) kemarin. Anggota DPR dari Komisi I terdiri atas
Yasril Ananta Baharudin (F-PG), Paulus (F-PDI Perjuangan), Astrid C.
Soetanto (F-PDKB) dan Asnawi Latif (F-PDU), Rabu petang kemarin berkunjung
ke ruang tahanan Guterres di Mabes Polri. Pertemuan nonformal itu
berlangsung mulai pukul 15.30 WIB dan berakhir pukul 17.45 WIB.
Selengkapnya: http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2000/10/12/p1.htm

Tak Perlu Lagi Toleransi
Kepada Satgas dan Dewan Papua
----------------------------------------
Jakarta, 11/10 (ANTARA) - Pemerintah Indonesia tidak akan lagi memberi
toleransi kepada aksi-aksi separatis di Irian Jaya, termasuk kepada Satgas
Papua, Presidium Dewan Papua dan kebijakan pengibaran bendera bintang
kejora.
Menteri Koordinator Politik Sosial dan Keamanan (Polsoskam) Susilo Bambang
Yudhoyono mengatakan hal tersebut seusai bertemu Wakil Presiden Megawati
Soekarnoputri di Istana Wapres Jakarta, Rabu.
"Pemerintah pada prinsipnya tidak akan memberi toleransi lagi, karena niat
baik berupa izin pengibaran bendera (Bintang Kejora) yang tidak
memanifestasikan kedaulatan politik, ternyata mengalami distorsi dan
dianggap sebagai lambang kedaulatan Papua," katanya.
Dengan meletusnya kasus di Wamena, kata Susilo, maka pemerintah perlu
segera "mereview" kebijakan tersebut.
Mengenai Satgas Papua dan Presidium Dewan Papua, Susilo Yudhoyono
mengatakan bahwa keberadaan organisasi tersebut juga harus ditinjau lagi
dan diatur dengan jelas.
Selengkapnya: http://www.antara.co.id/topstory.asp?id=20001011163312D110455

GAM Terlibat Peledakan BEJ
-----------------------------------
koridor.com [12 Oct, 3:05] Kadispen Polri Senior Superintendent Saleh Saaf
mengatakan, sembilan orang tersangka utama kasus peledakan bom di Gedung
BEJ ternyata mempunyai hubungan atau terikat erat dengan GAM serta
gerombolan bersenjata di Aceh. Ini terbukti dengan adanya aliran dana dari
para tersangka yang disita polisi.
"Setelah kita selidiki ternyata sembilan pelaku utama peledakan bom di BEJ
ada linknya dengan GAM. Kita memiliki bukti yang memperkuat itu. Kita
sedang mengembangkan penyelidikan dan sangat mungkin akan ada tersangka
baru," ujarnya kepada pers di Pekanbaru, Rabu.
Kadispen berada di Pekanbaru, mendampingi Kapolri Jenderal S Bimantoro pada
acara pencanangan Riau Antinarkoba.
Selengkapnya:
http://koridor.com/artikel.php3?token=af6e6617ffc2e3dd0e2aac0b2709d3c51&rnd
=971305617&in_no=102839

Asing Senang RI Hancur: Obok-obok TNI
--------------------------------------------------
koridor.com [12 Oct, 4:25] Peranan Presiden Gus Dur yang cukup besar dalam
menggulirkan mutasi besar-besaran pada posisi-posisi strategis dalam
struktur kepemimpinan TNI dapat menjebak TNI untuk kembali pada tradisi
masa lalu dimana militer menjadi alat kekuasaan.
"Sebagai Presiden, Gus Dur sah-sah saja ikut menentukan kebijakan di tubuh
TNI, namun bila untuk kepentingan pribadi dapat membawa TNI pada kondisi
masa lalu, yaitu militer menjadi alat kekuasaan," ujar Pengamat Politik
Universitas Bung Hatta (UBH) Padang Boy Y Tamin SH MH di Padang, Rabu.
Menurut dia, keterlibatan Gus Dur dalam proses mutasi para petinggi TNI
diharapkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan TNI yang profesional, bukan
dengan tujuan lain dalam upaya memperkokoh kekuasaan.
Ia melihat peranan Gus Dur dalam menggulirkan mutasi di tubuh TNI nampaknya
cenderung untuk memperkokoh kekuasaannya. Selengkapnya:
http://koridor.com/artikel.php3?token=af6e6617ffc2e3dd0e2aac0b2709d3c51&rnd
=971305371&in_no=102826

Gus Dur "Menikmati" Serangan Elite Politik
----------------------------------------------------
JAKARTA - KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menilai serangan yang ditujukan kepada
Presiden Abdurrahman Wahid oleh elite politik adalah satu keharusan. Dengan
begitu, mantan Ketua Umum PBNU tersebut bisa bekerja secara baik.
Dia mengungkapkan hal itu ketika muncul serangan elite politik akhir-akhir
ini, termasuk pernyataan Ketua DPR RI Akbar Tanjung untuk menggelar Sidang
Istimewa MPR, pascarapat konsultasi dengan DPR di Istana Negara.
Ulama dan budayawan yang dikenal orang dekat Gus Dur itu justru
berpendapat, Presiden bisa menghadapi serangan serta berbagai manuver elite
politik seperti itu, karena bisa bekerja lebih giat.
"Saya kira Gus Dur biasa dan senang-senang saja. Malah dia menikmati
serangan serta tembakan itu," katanya kepada wartawan di sela-sela jumpa
pers peluncuran serta pergelaran antologi Sajak Gandrung karya Gus Mus, di
Jakarta, kemarin. Selengkapnya:
http://www.suaramerdeka.com/harian/0010/12/nas5.htm

UU PKB Perlu Dikaji Kembali
-----------------------------------
TEMPO Interaktif, Jakarta: Penerapan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB)
dinilai masih akan mengalami kesulitan di lapangan. Sebagai contoh, untuk
memutuskan status darurat sipil seperti di Maluku Utara, sesuai UU tersebut
harus mendapat persetujuan dari DPRD. Sementara di provinsi tersebut belum
ada DPRD. Demikian dikatakan Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza
Mahendra, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR, di Gedung
MPR/DPR Jakarta, Rabu (11/10).
Menurut Menkeh, ada beberapa hal yang perlu dikaji dalam UU PKB. Seperti
kebijakan penerapan darurat sipil, hal tertebut tidak mudah mengingat di
beberapa tempat fungsi DPRD belum berjalan maksimal. "Yang paling penting,
negara akan mengalami kesulitan dalam mengatasi berbagai masalah di
daerah," ujarnya. Untuk masalah tersebut, Yusril merencanakan akan
melakukan pembahasan dengan Menteri Pertahanan dan Sekretaris Kabinet.
Selengkapnya: http://www.tempo.co.id/harian/fokus/50/2,1,6,id.html

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke