**************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
**************************

SETELAH DUA TAHUN, KAPAN KONFLIK MALUKU BERAKHIR?
````````````````````````````````````````````````````
Rabu, 20 Desember 2000
Radio Nederland Wereldomroep

Sama seperti di Aceh dan Irian dimana kekuatan-kekuatan militer Orde Baru
masih giat bermain, maka di Maluku pun perdamaian sulit bisa diwujudkan,
karena apa yang disebut sebagai tentara disersi masih
terus melakukan kegiatan maut mereka. Berikut laporan koresponden Syahrir
dari Jakarta:

Meski Hari Natal dan Idul Fitri akan dirayakan di Indonesia beberapa hari
mendatang ini, namun konflik berdarah di  Maluku  masih terus berlangsung.
Gus Dur sendiri dalam wawancaranya dengan pers Eropa
sudah menjamin bahwa masalah Maluku ini dapat diselesaikan tahun 2001. Ia
pun melihat bahwa Laskar Jihad dari luar Malukulah yang kini menjadi
ganjalan bagi perdamaian di Maluku. Tetapi pemerintah sudah mengetahui cara
sebaiknya menyelesaikan pertikaian di Maluku. Namun pada saatnya nanti
pemerintah akan membukanya, jelas Gus Dur.

Konflik di Maluku telah berjalan hampir dua tahun. Dan meski pemerintah
telah memberlakuan keadaan darurat sipil namun konflik bernuansa SARA di
sana belum juga dapat diredam. Padahal, sebagian besar masyarakat sudah
bosan berperang dan menginginkan perdamaian yang lestari. Karena keinginan
ini maka di Maluku Utara hampir saja terjadi konflik antara ummat Islam
setempat dengan Laskar Jihad yang sebenarnya datang di sana untuk membantu
mereka. Kini Maluku Utara sama halnya dengan Maluku Tenggara dalam keadaan
relatif tenang. Praktis ketegangan itu hanya berlangsung di Maluku Tengah.
Para pengungsi di Ambon misalnya, sesuai laporan pers ibukota, berharap
menjelang Hari Natal dan Idul Fitri bisa dijadikan momentum terbaik
untuk melupakan segala kesalahan dan saling memaafkan. Namun, dalam kondisi
yang senantiasa siaga seperti di Maluku, akankah momentum perayaan natal
dan lebaran itu mampu menyatukan mereka ?

Sosiolog asal Maluku Utara, Thamrin Amal Tomagola kepada pers Jakarta
menyatakan, upaya perdamaian di Maluku Tenggara kini sudah mencapai tahap
rekonstruksi sosial. Jaringan perekat sosial yang hancur mulai
ditata kembali dengan melibatkan tokoh-tokoh agama. Sementara berdasarkan
perkiraan kasar, 80% wilayah Maluku Utara, sudah aman. Kedua pihak yang
biasa disebut kelompok merah dan putih atau Acang dan Obet, sudah sepakat
untuk menghentikan pertikaian secara fisik. Hanya saja, 20% kelompok
masyarakat lainnya dari kedua belah pihak, masih tetap menyimpan berbagai
senjata. Niatnya sebenarnya hanya untuk jaga-jaga. Tapi hal itu sangat
rentan, sebab jika provokasi masuk, bukan tidak mungkin di wilayah tersebut
perang dapat kembali pecah.

Berbeda dengan keadaan di Maluku Utara dan Tenggara, maka di Maluku Tengah,
utamanya di Ambon, Saparua dan sebagian kecil Seram masih terjadi
kejar-kejaran di laut. Baku tembak pun hingga saat ini juga
belum dapat dihentikan. Menurut Thamrin, ada banyak faktor yang membedakan
keadaan Maluku Tengah dengan Maluku Utara dan Tenggara. Pertama di kedua
wilayah Maluku selain Maluku Tengah, telah ada pembagian teritorial yang
jelas antara kelompok merah dan putih. Faktor kedua adalah faktor
efektifitas penguasa darurat sipil. Di Maluku Utara, penguasa darurat
sipilnya adalah seorang Mayor Jendral, Gubernur  Muhyi Effendi. Sehingga
secara struktural penguasa itu bisa bertindak efektif di lapangan karena
dia bisa memerintah bawahannya, termasuk Pangdam dan Kapolda. Selain itu,
penguasa darurat sipil di Maluku Utara orangnya persuasif. Ia secara
efektif mendekati masyarakat untuk melakukan rekonsiliasi, sehingga
akhirnya
mendapatkan legitimasi dan diterima kedua kelompok yang bertikai. Sementara
di Maluku Tengah, Gubernur Saleh Latuconsina yang sipil, tidak berdaya
terhadap penguasa militer. Perintahnya hampir tidak pernah dikerjakan.

Faktor ketiga adalah adanya unsur luar yang masuk. Unsur luar yang masuk ke
wilayah Maluku ada dua, yaitu Laskar Jihad dan tentara yang disersi. Di
Maluku Utara, jumlah Laskar Jihad yang masuk hanya 200
orang. Tentara disersi juga tidak ada di wilayah ini. Sementara di Ambon
dan Saparua, jumlah Laskar Jihad yang masuk ada 2000 orang. Sementara
tentara yang disersi mencapai 280 orang. Karena itu Thamrin
menganjurkan agar elit politik di Jawa  yang selama ini bermain, harus
berhenti memainkan rakyat Maluku. Sejauh ini, aliran dana dari Jawa yang
masuk kepada Laskar Jihad dan tokoh-tokoh agama di Maluku
serta para tentara yang disersi itu nyata sekali terlihat. Pendanaan itu,
selain dilakukan kelompok militer yang sakit hati, kelompok rezim Orde Baru
yang terkait dengan Golkar, juga dilakukan kelompok Islam moderen progresif
yang selama ini dikenal sebagai rival kelompok Islam tradisional yang
diwakili Gus Dur. Kelompok sejenis ini ada pada barisan ICMI atau HMI,
katanya.

Kelompok-kelompok itu berusaha mengambil keuntungan dengan "bermain" di
Maluku. Tujuannya satu, destabilisasi pemerintahan. Dilihat secara politik,
ekonomi dan militer jelas mereka memiliki tujuan terencana untuk
menjatuhkan pemerintahan. Bahkan, dilihat secara ekonomi, kelompok yang
terkait dengan Orde Baru ini punya tujuan yang lebih luas. Kelompok Orde
Baru yang memilik utang begitu besar terhadap
negara ini sengaja melakukan hal itu di Maluku. Dengan terus berlangsungnya
kerusuhan, mereka mengandalkan alasan tidak dapat beroperasi, setelah itu
mereka berharap dinyatakan pailit sehingga dapat dibebaskan dari
hutang-hutang. Kalau langkah-langkah mengganti penguasa darurat sipil,
pengembalian tentara disersi pada kesatuannya dan menghentikan permainan
para elit bisa dilakukan, barulah bisa diwujudkan formula Presiden
Abdurrahman Wahid, bahwa masalah Maluku hanya bisa diselesaikan oleh
masyarakat Maluku.[gp]

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke