'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''
 SARI BERITA : Jumat, 20 Juli 2001
==================================
- Golkar Terlalu Nafsu Untuk Berkuasa Lagi
- Masyarakat Indonesia Otoriter dan Primordial
- Ratusan Komputer dan Senjata FBI Dicuri
- Dekrit Hari Ini Pukul 18:00
- Beranikah Gus Dur Memaklumkan Dekrit Jum'at Ini?

Golkar Terlalu Nafsu Untuk Berkuasa Lagi
-----------------------------------------------
Pencalonan Akbar Jadi Wapres Merugikan
koridor.com [20 Jul 2001, 0:35] Pencalonan Ketua Umum DPP Partai Golkar
Akbar Tandjung sebagai Wakil Presiden, apabila Megawati naik menjadi
Presiden setelah Sidang Istimewa MPR; justru merugikan citra parpol itu
sendiri, kata analis politik Dr Ari Pradhanawati.
Pakar dari Universitas Diponegoro ini di Semarang, Kamis, mengemukakan,
pencalonan Akbar oleh sebagian besar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai
Golkar menunjukkan parpol itu terlalu bernafsu untuk kembali ke panggung
kekuasaan.
"Dalam situasi penuh hujatan dan upaya memperbaiki citra akibat sepak
terjang Golkar di masa lalu, seharusnya partai ini bisa tampil rendah hati
(low profile)," kata staf pengajar FISIP Undip itu.
http://www.koridor.com/artikel.htm/114837

Masyarakat Indonesia Otoriter dan Primordial
---------------------------------------------------
Padang, CyberNews. Demokrasi yang sedang dikembangkan tidak akan mungkin
mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis, karena landasan masyarakat
sosial Indonesia yang majemuk memiliki potensi otoriter dan bercorak
primordial.
"Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menjadi seorang otoriter,"
ujar antropolog Universitas Indonesia (UI) Parsudi Suparlan di hadapan 300
peserta Simposium Internasional II yang bertemakan "Globalisasi dan
Kebudayan Lokal, Suatu Dialektika Menuju Indonesia Baru" di Padang, Kamis
(19/7).
Ia menjelaskan, dalam mengeliminir potensi otoriter dan primordial, corak
masyarakat Indonesia yang majemuk harus diubah menjadi bercorak
keanekaragaman kebudayaan atau masyarakat multi budaya (multicultural
society).
Dalam hubungan ini, pondasi kehidupan masyarakat yang dikenal dengan
Bhineka Tunggal Ika, harus bergeser dari ideologi dipersatukannya
kelompok-kelompok suku bangsa, menjadi ideologi keanekaragaman kebudayaan
dan kekuatan sosial politik.
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0107/19/nas16.htm

Ratusan Komputer dan Senjata FBI Dicuri
-----------------------------------------------
Washington - Surabaya Post
Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat. Para pejabatnya mengakui
sekitar 184 laptop dan 449 senjata mereka hilang.
Menurut pejabat FBI dan Departemen Kehakiman yang enggan disebut namanya,
Rabu (18/7), laptop-laptop yang hilang termasuk sebuah laptop berisi
informasi rahasia dan 3 lainnya diperkirakan memiliki data-data yang sama
rahasianya. Sebanyak 13 dari 184 laptop yang hilang itu diperkirakan telah
tercuri. Mereka juga mengatakan sebanyak 184 senjata tercuri sementara 265
lainnya hilang. Salah satunya diketahui digunakan untuk pembunuhan.
Senjata-senjata yang hilang itu kebanyakan laras panjang, namun ada juga
sebagian senjata semi mesin. Aib baru FBI ini terungkap dalam dengar
pendapat di Capitol Hill (gedung Kongres) ketika para petinggi FBI akan
memberi keterangan. Sebelumnya sudah banyak ketidakberesan dan kegagalan
FBI yang sebenarnya tidak layak menimpa sebuah badan intelijen sebesar
mereka. http://www.surabayapost.co.id

Dekrit Hari Ini Pukul 18:00
RI Dalam Keadaan Bahaya
-----------------------------
KEDIRI (Antara): Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan kembali bahwa
dirinya akan tetap mengumumkan dekrit negara dalam keadaan bahaya pada hari
Jumat 20 Juli pukul 18:00, bila sampai pada hari itu tidak tercapai
kompromi.
"Tanggal 20 Juli jam enam sore besok, saya akan umumkan negara dalam
keadaan bahaya, kalau tidak terjadi kompromi politik sampai besok," kata
Presiden di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim, Kamis (19/7), dalam
acara Munas I Himpunan Alumni Pesantren Lirboyo dan Temu Alim Ulama Jatim.
Sebelumnya, Presiden Wahid mengatakan, pihaknya pernah minta fatwa dari
Mahkamah Agung (MA) apakah penyelenggaraan SI MPR itu sah atau tidak.
Namun, katanya, fatwa MA tersebut memerlukan waktu yang cukup lama,
sehingga perlu ditempuh dengan cara sendiri. Cara sendiri tersebut, kata
Presiden, adalah mengeluarkan dekrit. Presiden mengatakan, keadaan bahaya
tersebut baru berlaku efektif pada Selasa 31 Juli 2001 jam 18:00. Sebelum
tanggal 31 Juli itu, kata Presiden, dekrit negara dalam keadaan bahaya itu
tidak berjalan.
http://www.waspada.com/news/2001/07/19/200107191h.asp

Beranikah Gus Dur Memaklumkan Dekrit Jum'at Ini?
----------------------------------------------------------
Jum'at, 20 Juli 2001, Radio Nederland
Pimpinan MPR masih mencermati perkembangan bagi kemungkinan
mempercepat pelaksanaan Sidang Istimewa (SI) MPR, atau tetap mengacu
pada 1 Agustus 2001 berkaitan dengan rencana Presiden Abdurrahman
Wahid mengeluarkan dekrit pada 20 Juli 2001 pukul 18.00 WIB.
Koresponden Syahrir mengirim laporan berikut dari Jakarta:
"Kita lihat apakah setelah 20 Juli memang ada dekrit atau tidak.
Kalau ada bisa saja dipercepat," kata Wakil Ketua MPR Sutjipto kepada
pers di Gedung MPR/DPR Jakarta, Kamis. Dalam pertemuannya dengan para
ulama dan santri di Kediri kemarin Presiden Abdurrahman Wahid
menegaskan kembali bahwa dekrit akan dikeluarkan 20 Juli 2001 pukul 6
sore Waktu Indonesia Barat. Tetapi dekrit itu isinya antara lain
menetapkan pembubaran parlemen akan berlaku mulai 31 Juli 2001. Para
santri dan ulama sudah menyatakan akan mendukung ikhtiar presiden
demi kemaslahatan negara. Mereka juga berharap TNI dan Polri kembali
menjalankan fungsi utamanya. Para ulama dan santri di Kediri
menyatakan juga akan berdiri di belakang rakyat. "Allah beserta
dengan orang-orang yang bersabar," kata Gus Dur. Karena itu ia
meminta para santri untuk bersabar dan mendukungnya dengan tidak
berangkat ke Jakarta. Langkah-langkah Gus Dur ini sangat menyakitkan
bagi sementara ulama muda yang selama ini ikut menggerakkan massa ke
Jakarta. "Inkonsistensi Gus Dur ini yang mematahkan semangat
pendukungnya," ujar seorang ulama. Gus Dur tetap percaya pada
cara-cara kompromi. Tetapi jika kompromi itu di Sidang Istimewa buat
apa, katanya. "Saya tidak yakin," ujarnya. **

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke