*******************************
Wacana Mingguan : 14 Juli  2001
===============================

S E B U A H   P E L A J A R A N
```````````````````````````

Hanya kami saja yang membawa anak di restoran itu. Aku mendudukkan Erik di
kursi khusus untuk anak dan mulai memperhatikan orang-orang yang dengan
tenang makan sambil berbincang-bincang. Erik memekik gembira dan berteriak
"Halo!". Dia menepuk-nepukkan tangan bayinya yang montok ke nampan di
kursinya. Matanya membelalak gembira dan ia tersenyum lebar memperlihatkan
mulutnya yang masih belum bergigi. Dia menggeliat-geliat dan tertawa-tawa
kesenangan.

Aku melihat ke sekeliling dan segera menemukan sumber kegembiraannya. Ada
seorang pria dengan jas yang compang-camping, kotor, berminyak, dan usang.
Dia memakai celana baggy dengan resleting yang setengah terbuka dan jempol
kakinya menyembul dari sepatunya yang sudah hampir hancur. Bajunya kotor
dan rambutnya yang kotor tidak disisir. Cambangnya terlalu pendek untuk
bisa disebut sebagai jenggot, dan hidungnya penuh guratan sehingga tampak
seperti peta jalanan.

Kami duduk cukup jauh sehingga tidak mencium baunya, tapi aku yakin dia
pasti bau sekali. Dia melambaikan dan menggoyang-goyangkan tangannya.
"Halo, sayang. Halo anak pintar. Ciluk ba!", dia berkata pada Erik. Suamiku
dan aku saling berpandangan, "Apa yang harus kami lakukan?" Erik terus
tertawa dan menjawab "Halo, Halo." Semua orang di restoran memandangi kami
dan pria itu. Orang tua yang aneh sedang mengganggu bayi manisku.

 Makanan kami datang dan pria itu mulai berteriak dari seberang ruangan.
"Kamu tahu kue pastel? Kamu bisa cilukba? Hei, dia bisa ciluk ba." Tak ada
seorangpun yang menganggap pria itu lucu. Menurutku dia pasti mabuk.
Suamiku dan aku sangat malu. Kami makan dengan diam, kecuali si Erik, yang
mulai menyanyikan semua lagu yang dikenalnya untuk si gembel yang
mengaguminya, yang memberikan komentar yang lucu-lucu.

Akhirnya kami selesai makan dan beranjak pulang. Suamiku membayar ke kasir
dan menyuruhku menunggu di tempat parkir. Pria tua itu duduk di antara
kamidan pintu keluar. "Tuhan, biarkan aku keluar dari sini sebelum dia
sempat berbicara dengan aku atau Erik." doaku. Saat mendekati pria itu, aku
berjalan menyamping untuk menghindari baunya. Saat aku melakukan itu, Erik
menyandar pada lenganku dan merentangkan kedua tangannya minta digendong.
Sebelum aku sempat menghentikannya, Erik sudah meronta dari tanganku dan
menuju tangan pria itu. Tiba-tiba, pria tua yang sangat bau dan seorang
bayi yang masih kecil mewujudkan rasa sayang mereka. Erik, dengan penuh
kepercayaan, sayang, dan pasrah merebahkan kepalanya yang mungil ke atas
pundak pria itu. Mata pria itu terpejam dan aku bisa melihat air mata
menggenang di bawah bulu matanya. Tangan tuanya yang kotor dan penuh
tanda-tanda kepenatan karena terlalu sering dipakai untuk bekerja keras,
dengan lembut, sangat lembut menimang bayiku dan mengelus punggungnya.
Belum pernah ada dua insan yang dapat menyayangi dengan begitu dalam hanya
dalam waktu sesingkat itu.

Aku terpaku. Pria tua itu menggoyang dan menimang Erik di pelukannya selama
beberapa saat, dan kemudian matanya terbuka dan memandangku dalam-dalam.
Dia berkata dengan tegas, "Jaga bayi ini dengan baik." Kerongkonganku bagai
tersumbat batu. Entah bagaimana caranya, aku berhasil menjawab, "Baik". Dia
menjauhkan Erik dari dadanya, dengan tak rela, dan berlama-lama, seolah
merasakan nyeri yang mendalam. Aku menerima bayiku dan kemudian pria itu
berkata, "Tuhan memberkati anda, Nyonya. Anda telah memberiku hadiah
Natal." Aku tidak dapat berkata apapun selain menggumamkan terima kasih.
Dengan memeluk Erik, aku berlari ke mobil.

Suamiku bertanya kenapa aku menangis sambil memeluk Erik dengan eratnya,
dan berkomat-kamit, "Ya Tuhan, Tuhanku, ampunilah aku." Aku baru saja
menyaksikan kasih Yesus terpancar melalui kepolosan seorang anak kecil yang
tidak memandang dosa, tidak menghakimi; seorang anak yang memandang jiwa,
dan seorang ibu yang hanya melihat penampilan luar saja. Aku adalah seorang
Kristen yang buta, memeluk seorang anak kecil yang dapat melihat. Aku
merasakan Tuhan bertanya kepadaku, "Apakah engkau bersedia membagi anakmu
untuk beberapa saat saja?" bukankah Ia telah membagi anakNya untuk
selama-lamanya. Gembel tua itu, tanpa disengaja, telah mengingatkanku
"Untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus menjadi seperti
anak-anak." Theresa Hunt: Matius 22:39 "Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri"

Penerjemah: Mey Febriana
Kiriman: Kristanto W (Milis UK3 UA)

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke