JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah memastikan harga jual bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar bisa diturunkan pada Januari 2009 bila perkembangan harga minyak dunia terus menunjukkan penurunan.
Saat ini pemerintah masih mengkaji secara intensif besaran penurunan harga jual kedua jenis bahan bakar itu dan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia, terutama menunggu hasil pertemuan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 15 Desember mendatang. Menurut Wakil Presiden M Jusuf Kalla, harga premium dan juga solar akan diturunkan pada bulan depan. Namun, besaran penurunannya belum bisa disampaikan hingga menjelang pergantian tahun nanti. "Untuk premium, ya Januari-lah, juga solar," ujar Kalla, usai menyerahkan hewan kurban, di kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Senin (8/12). Pemerintah per 1 Desember sudah menurunkan harga premium Rp 500 menjadi Rp 5.500. Harga tersebut sudah mencapai keekonomiannya. Sementara harga solar hingga kini Rp 5.500 per liter. Dirjen Migas Evita Legowo beberapa waktu lalu mengatakan, harga solar tersebut masih cukup jauh dari harga keekonomiannya yang mencapai Rp 6.900 per liter. Wapres mengakui, harga premium memang sudah tidak disubsidi lagi. Hal ini dikarenakan konsumen premium umumnya mobil-mobil pribadi milik orang mampu. "Memang sekarang kita tidak akan subsidi lagi, kita akan subsidi sektor yang benar-benar komersial, itu ada di solar. Sedangkan premium kan lebih banyak ke mobil pribadi kalau yang komersial ada truk pengangkut, mana ada sedan yang memakai solar?" ujar Wapres. Lebih jauh Wapres menjelaskan, penurunan harga BBM mempertimbangkan sejumlah hal, antara lain harga internasional dan berapa besar subsidi. Hal lain yang menjadi faktor penentu penurunan harga adalah hasil pertemuan OPEC pada 15 Desember mendatang. "Mengenai perhitungannya nanti kita tetapkan kemudian setelah ada rata-rata dari harga terakhir yang dihitung, tapi kita tunggu juga harga tanggal 15 Desember ini, OPEC mau apa. Jadi, harga belum bisa ditentukan sekarang," kata Wapres. Terkait rencana penurunan harga BBM pada Januari 2009, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan, penetapan harga baru (penurunan-Red) BBM bersubsidi akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009 yang besar kemungkinan bisa dilakukan penghematan lebih banyak. Sebab, asumsi harga minyak Indonesia (ICP) APBN 2009 yang lebih rendah, yakni 80 dolar AS per barel, dibandingkan asumsi ICP APBNP 2008 sebesar 95 dolar AS per barel. Dia memperhitungkan besaran penghematan yang bisa dicapai sebesar Rp 3.200 per liter dari tiga jenis bahan bakar yang disubsidi. "Tentunya penurunan harga untuk solar dan premium bisa lebih signifikan. Tetapi, dari Rp 3.200 itu dialokasikan 50 persen atau setara Rp 1.600 untuk subsidi BBM dan 50 persen sisanya untuk dana cadangan," kata dia. Dalam perhitungannya, dia memerinci dari Rp 1.600 dibagi untuk dua jenis harga, yakni masing-masing Rp 800 per liter untuk solar dan Rp 800 untuk premium. "Nantinya harga jual solar bisa turun Rp 800 per liter menjadi Rp 4.700 dan premium menjadi Rp 5.200. Premium kita hitung kembali pada harga masih Rp 6.000 dikurangi Rp 800, karena penurunan baru beberapa hari saja," kata Harry Azhar. Saat ini, pemerintah tetap menggunakan patokan harga jual produk BBM di pasar Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS) plus alpha yang mencakup biaya pengadaan dan biaya operasi dengan menggunakan persentase. Menurut dia, jika harga minyak mentah dunia bisa bertahan di level 40 dolar AS per barel selama Januari 2009 nanti, maka penghematan yang bisa diperoleh dalam sebulan mencapai Rp 2,5 triliun. "Dana itu bisa setengahnya digunakan lagi untuk subsidi harga dan menambah dana cadangan. Perlunya dana cadangan ini karena memang tidak ada yang bisa memastikan harga minyak tidak bergejolak lagi. Belum lagi kita harus melihat bagaimana dampak dari kebijakan OPEC yang akan memangkas produksinya nanti. Ini juga menjadi suatu kekhawatiran kita bersama" ujarnya. Diakuinya, menghadapi situasi minyak dunia yang kini mengalami tren penurunan dan sebelumnya sempat mengalami lonjakan tinggi dalam sejarah minyak dunia, mengharuskan pemerintah untuk mencadangkan dana yang siap digunakan untuk menjaga pasokan BBM di dalam negeri bisa terus terkendali (terjangkau-Red). Harry Azhar juga mengatakan, sepanjang 2008 diperoleh hitungan penghematan subsidi Rp 10 hingga Rp 15 triliun. "Tetapi, pemerintah justru enggan mencadangkan sisa dana yang dihemat dengan menyatakan terganjal kurs dolar, padahal kurs dalam hitungan rata-rata setahun Rp 9.700, berbeda sedikit sekitar Rp 4.000 rupiah dari asumsi kita," ujarnya. Berdasarkan perdagangan di pasar internasional, harga minyak mentah jatuh ke posisi terendah empat tahun. Kontrak minyak mentah light sweet untuk pengiriman Januari ditutup pada 40,81 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, turun tajam 2,86 dolar AS dari penutupan Kamis lalu. Kontrak New York bersentuhan batas psikologis 40 dolar AS dalam perdagangan harian, menyusut menjadi 40,50 dolar, level terendah sejak Desember 2004. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Januari merosot tajam 2,54 dolar AS menjadi mantap pada 39,74 dolar AS, posisi terendah yang terakhir terlihat pada Januari 2005. Harga minyak memulai pekan dengan penurunan tajam setelah OPEC yang memproduksi 40 persen dari minyak mentah dunia pada akhir pekan lalu menunda keputusan pemotongan produksi hingga pertemuan 17 Desember mendatang. (A Choir/M Kardeni) Sumber : Suara Karya

