saya kutip dari http://networkedblogs.com/KW6J8 untuk para calon induksemang 
generasi Indonesia, cekitdot..L
 
Sekolah di Jepang VS Sekolah di Indonesia


Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, 
Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk  menghadiri acara "open school" di 
sekolah tersebut. Kalau di Indonesia,  sekolah ini mungkin seperti SD Negeri 
yang banyak tersebar di pelosok  nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan 
lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di  Jepang 
belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat  proses belajar 
mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena  saya meyakini bahwa 
kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari  bagaimana bangsa tersebut 
mendidik anak-anaknya.

Melihat  bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, 
bagaimana  mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan 
 bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan,  
tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan  sesuatu 
yang terjadi "by default", namun pastilah "by design". Ada satu  proses 
pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus  menerus di 
masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana  anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran 
itu terlihat nyata. Fokus  pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih 
menitikberatkan pada pentingnya  "Moral". Moral menjadi fondasi yang ditanamkan 
"secara sengaja" pada  anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang 
mengajarkan  anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata  
pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di  Jepang, Shinto, Buddha, dan 
Confusianisme, serta spirit samurai dan  bushido, memberi landasan bagi 
pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi  yang diajarkan adalah bagaimana 
menaklukan diri sendiri demi  kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini 
sangat memengaruhi serta  menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.

Anak-anak diajarkan  untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka 
juga dididik  untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Di  sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat  aspek, 
yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang  Lain 
(Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation  to Nature 
& the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas  (Relation to Group & 
Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan  pada setiap anak sehingga 
membentuk perilaku mereka.

Pendidikan  di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak 
bisa  semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu  
memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran  kalau kita 
melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling  menghargai. Di kendaraan 
umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka  saling memperhatikan 
kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah  ditanamkan sejak mereka berada 
di tingkat pendidikan dasar.

Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan  pekerjaan-pekerjaan 
rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC,  menyapu dapur, dan 
mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa  kecuali, harus melakukan 
pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa  lebih mandiri dan menghormati 
orang lain.
Kebersahajaan juga  diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai 
moral jauh  lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah 
menunjukkan  atau bicara tentang materi.

Anak-anak di SD Jepang tidak ada  yang membawa handphone, ataupun barang 
berharga. Berbicara tentang  materi adalah hal yang memalukan dan dianggap 
rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang  ditanamkan di 
rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah  membersihkan WC, 
maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila  anak di sekolah bersahaja, 
maka orang tua di rumah juga mencontohkan  kebersahajaan. Hal ini menjadikan 
moral lebih mudah tertanam dan  terpateri di anak.

Dengan kata lain, orang tua tidak  "membongkar" apa yang diajarkan di sekolah 
oleh guru. Mereka justru  mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang 
anak.

Saat  makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang  
bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani  oleh 
mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur  umum sekolah 
untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian  mereka melayani 
teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan  menyajikan minuman.

Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak  tentang pentingnya melayani orang 
lain. Saya yakin, apabila anak-anak  terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi 
pejabat publik, pasti  nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta 
dilayani.

Saya  sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun  
sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar  di SD 
Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya  "berat" dan 
kerap di-"paksa" harus hafal di SD kita, tidak terlihat di  sini. Satu-satunya 
hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf  Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi  canggih, 
hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu  semua ada sebuah 
perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter.  Ibarat pohon besar 
yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari  satu petak akar. Dan akar 
itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.

Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di  seluruh 
sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di  semua sekolah 
hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga  sekolah yang 
mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang  bagus. Namun selama 
dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem  nasional, anak akan 
mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi  kalau sekolah mahal sudah 
menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu  nilai moral sudah berkurang di 
sana.

Di Jepang, masalah  pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, 
Kebudayaan, Olah Raga,  dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan 
Monkasho.  Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses 
didik  anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat  
dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak  diajarkan 
budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan  dikeluarkannya kata "Budaya" dari Departemen "Pendidikan dan 
Kebudayaan"  sehingga "hanya" menjadi Departemen "Pendidikan Nasional" di 
negeri  kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan "Budaya", 
yang  di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.

Hakikat  pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi 
pekerti,  bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai  
ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau  masih 
melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral  dan budi 
pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi  nilai-nilai moral saat 
SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita  untuk menghafal ilmu-ilmu 
"penting" lainnya.

Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.

Kirim email ke