Sumbernya faktanya dan datanya ada kah? Untuk memperjelas bukan pesan sponsor...
Sepengetahuan saya sharp dan tosihba... Masih rame aja dipasaran... Salam PTS On 15 Oct 2015 08:39, "Aveliansyah" <[email protected]> wrote: > Mengapa PEREMAJAAN, RENEGERASI dan INOVASI dlm suatu organisasi ataupun > perusahaan begitu penting. Simak ulasan ini. > > The DEATH of SAMURAI > > Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo. > > Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada > kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang > disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, > pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih. > > Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian > trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo > bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp > berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan > mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi > notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga > mati). > Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan > demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di > pagi ini, kita akan coba menelisiknya. > > Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang > Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah > meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk > elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah > juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital > gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol. > > What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti > pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik > sebagai pelajaran. > > Faktor 1 : Harmony Culture Error. > Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in > decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan > persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya > mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus. > > Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja > yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat > berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang > akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah > keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa > melongo. > > Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang > lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). > > Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal > nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal > demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch. > > > Faktor 2 : Seniority Error. > Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus > mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya > kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. > > Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya > senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak > akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah > Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan. > > Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. > Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan > Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu > tempat sampai pensiun adalah kelaziman. > > Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya > senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan > kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati. > > > Faktor 3 : Old Nation Error. > Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga > dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih > dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. > > Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk > dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. > > Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun > bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan > > > salam, > Avel > > -- > Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA > forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id > > * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected] > > -- Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected]
