No matter where the sources. :D Aku setuju di bagian faktor ke dua, dimana senioritas masi menjadi "pembenaran" dalam pelbagai hal.. dimana itu juga "kadang" dan "sering" terjadi juga di kehidupan sehari hari di Indonesia. Tanpa melepas embel2 saling menghormati senior atau kaum yang lebih dahulu dari kita. Namun, kekuan akan senioritas terkadang mengkungkung kreativitas "anak muda" yang mempunyai ide yang seabrek di kepalanya.
Dan FGMI salah satunya , tempat dimana kita bisa "mengumbar" ide-ide liar kita. Mungkin berbeda perpektif dengan bahasan utama di atas, mungkin judul yang bisa kita inisiasi menjadi "The Geoscientist Resurrection" cheers, cheery drink a cup of coffee.. 2015-10-15 8:44 GMT+07:00 Prihatin Tri Setyobudi <[email protected]>: > Sumbernya faktanya dan datanya ada kah? Untuk memperjelas bukan pesan > sponsor... > > Sepengetahuan saya sharp dan tosihba... Masih rame aja dipasaran... > > Salam > PTS > On 15 Oct 2015 08:39, "Aveliansyah" <[email protected]> wrote: > >> Mengapa PEREMAJAAN, RENEGERASI dan INOVASI dlm suatu organisasi ataupun >> perusahaan begitu penting. Simak ulasan ini. >> >> The DEATH of SAMURAI >> >> Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo. >> >> Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada >> kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang >> disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, >> pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih. >> >> Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian >> trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo >> bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp >> berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan >> mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi >> notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga >> mati). >> Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa >> kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa >> Jepang itu? Di pagi ini, kita akan coba menelisiknya. >> >> Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang >> Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah >> meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk >> elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah >> juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital >> gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol. >> >> What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti >> pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik >> sebagai pelajaran. >> >> Faktor 1 : Harmony Culture Error. >> Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in >> decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan >> persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya >> mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus. >> >> Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja >> yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat >> berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang >> akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah >> keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa >> melongo. >> >> Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang >> lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). >> >> Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal >> nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal >> demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch. >> >> >> Faktor 2 : Seniority Error. >> Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang >> terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan >> budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. >> >> Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya >> senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak >> akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah >> Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan. >> >> Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. >> Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan >> Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu >> tempat sampai pensiun adalah kelaziman. >> >> Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya >> senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan >> kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati. >> >> >> Faktor 3 : Old Nation Error. >> Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga >> dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih >> dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. >> >> Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang >> masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. >> >> Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun >> bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan >> >> >> salam, >> Avel >> >> -- >> Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA >> forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id >> >> * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected] >> >> > -- > Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA > forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id > > * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected] > > -- Regards, I Putu Ary Wijaya -- Milis FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA forum.iagi.or.id | fgmi.iagi.or.id * Untuk bantuan terkait milis silakan email ke [email protected]
