DARI MAJALAH FILM "F" EDISI 03 FEBRUARI-MARET 2006

BOLA  LAMPU 200 LILIN
Nuruddin Asyhadie

Pernah ia menulis sebuah karangan berkepala "Bola Lampu", dan 
dipublikasikan pertama kali dalam majalah Siasat, Th. II No. 55, 21 
Maret 1948.  Karangan itu pendek belaka, barang 762 kata tanpa 
spasi, berkisah tentang sahabatnya yang mencintai bola lampu, yang 
pada akhirnya menyesal karena kecintaan itu membuatnya 
kehilangan "bola lampu" lain, yang paling tidak 200 lilin nyalanya, 
yang mampu memberikan kekuatan untuk mengarang sebuah cerita 300 
halaman tebalnya,  yaitu gadis yang dicintainya. 

Entah siapa yang disebutnya sahabat di sana. Mungkin Chairil, 
mungkin Rivai Apin, yang dua tahun kemudian bersama dengannya 
menerbitkan kompilasi Tiga Menguak Takdir (1950).  Mungkin juga 
karibnya yang lain, sebuah nama yang tak beruntung tercatat sejarah. 
Atau dirinya sendiri, yang saat itu sebagai remaja 21 tahun tentu 
disibukan dengan masalah percintaan, di samping gelora menciptanya. 

Sampai 11 Januari 2004, ketika ia mangkat, orang baru menyadari 
bahwa sahabat dalam karangan itu adalah diri mereka sendiri, negeri 
ini sendiri. Selama bertahun-tahun, terutama semenjak Ufuk Timur, 
dewa mereka, melakukan blunder politik, dan si Tuan Janur Kuning, 
setelah 3 periode pertama pemerintahannya, terjerat jaring laba-
laba, mereka telah terjangkiti penyakit cinta lampu. Hati mereka 
selalu diliputi dengki melihat rumah lain memiliki lampu yang besar 
dan benderang. 

"Ada Bung Kecil di sebelah, yang mencintai dan meniru segala sepak 
terjang Bung Besar kita, senangnya hati andai ia memancar di rumah 
kita," atau, "Indah benar matahari perempuan di Tanah 1000 Pagoda." 

Begitulah selalu. Apalagi para pendeta di padepokan mereka,  yang 
karena terus-terusan berpuasa, telah demikian sakti hingga tak lagi 
mandraguna tarafnya, tapi sudah nirguna saja. Bersinar tanpa 
bersinar.   

Di depan jenasahnya, mereka juga menyadari bahwa sebagaimana sang 
sahabat yang karena kecintaannya terhadap bola lampu itu, mereka 
telah kehilangan bola lampu 200 lilin, yang mampu menyiramkan tenaga 
gaib dalam diri mereka, tenaga gaib yang membukakan gembok tabut-
tabut terkunci otak mereka. 

Bola lampu yang hilang itu adalah Asrul Sani, penyair, cerpenis, 
esais, penulis/penerjemah/penyadur naskah drama dan skenario, 
sutradara teater dan film, dan masih banyak lagi. 

Asrul  lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1927. Meraih doktorandus 
di bidang Kedokteran Hewan pada tahun 1956. Antara 1951-53 sempat 
belajar di Akademi Seni Drama di Amsterdam, Belanda, lalu belajar 
film di University of Southern California, Amerika tahun 1955-56. 

Orang mengenangnya sebagai anak bangsa yang tampan, cerdas dan bijak 
dalam mengartikulasikan pikirannya. Logikanya sangat kuat, 
pikirannya terseterika rapi, jarang ada yang menandinginya dalam 
debat. Ia memiliki perhatian dan bacaan yang luas, menguasai banyak 
bahasa, dari Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, konon juga Spanyol, 
dan tentu saja Minang dan Indonesia Tuturnya katanya jernih (sesuatu 
yang disukai oleh orang-orang negeri ini, sebab hidup mereka telah 
terlalu rumit, terlalu susah, untuk memahami pernyataan-pernyataan 
yang penuh anak kalimat atau bersayap), baik tulisan maupun lisanan, 
membuat mereka selalu hanyut dalam orasi-orasinya. 

"Kalau pembicaraan asrul tanpa teks direkam dan kemudian rekamannya 
ditranskrip, niscaya tak banyak koreksi yang musti dibuat," kenang 
Ajip Rosidi, orang pintar lain yang telah mengumpulkan dan 
menerbitkan sajak-sajak, cerpen-cerpen, dan esei-esei Asrul. 

Semasa PKI hendak menasakomkan semua lembaga di tanah air, dengan 
mendesak agar mereka dapat menempatkan wakil-wakilnya, ia muncul 
dengan konsep "Nasakom jiwaku", yang artinya kenasakoman tak perlu 
dinyatakan secara fisik berupa adanya wakil dari ketiga unsur 
Nasakom. Konsep itu disetujui oleh Sang Ufuk Timur, yang menyebut 
dirinya sendiri Pemimpin Besar Revolusi. Dia pula yang menyusun 
Surat Kepercayaan Gelanggang yang menjadi dasar Angkatan 45 dalam 
sejarah seni republik ini. Dia juga menulis Surat Kepercayaan 
Gelanggang lain yang menjadi konsep fundamental Lesbumi (Lembaga 
Seniman dan Budayawan Mulismin Indonesia) yang ia dirikan bersama 
Usmar Ismail, nama yang juga bergandeng tangan dengannya mendirikan 
ATNI (Akademi Teater Nasional), yang telah melahirkan nama-nama 
besar seperti Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Sukarno M.Noor, Ismed M. 
Noor, Tatiek Maliyati, dan sebagainya. Asrul juga merupakan salah 
satu peletak batu pertama Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang meliputi 
Akademi Jakarta (AJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail 
Marzuki (TIM), dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)—ia menjadi 
anggota AJ, pernah menjabat sebagai ketua DKJ, dan rektor IKJ.

Awal tahun 50-an ia mulai tertarik dengan dunia film. Terimalah 
Laguku (1952) menjadi langkah pertamanya memasuki dunia ini. Di 
sana, ia bertindak sebagai pengarang cerita.

Tahun 1954, bekerjasama dengan Usmar Ismail, ia menggarap Lewat Djam 
Malam. Kali ini selain pengarang cerita, ia turut menggarap 
skenarionya bersama Usmar, sang sutradara. Film ini mendapat Catatan 
Istimewa FFI 1955 untuk dialog yang digarapnya.

Sampai tiga film selanjutnya Asrul Sani tak berani melangkah lebih 
jauh dari bidang tulis-menulis. Ia kembali menjadi penulis skenario 
pada film Pegawai Tinggi yang ceritanya diadaptasi dari 
cerpen "Kalung" karya sastrawan Perancis, Guy de Maupassant, dan 
film Lagak Internasional (1955), serta pengarang cerita untuk Buru 
Bengkel (1956). 

Baru pada tahun 1959, lewat Titian Serambut Dibelah Tudjuh ia berani 
menyutradarai sendiri. Lakon ini yang cerita dan skenarionya digarap 
sendiri oleh Asrul, kemudian difilmkan kembali oleh Chaerul Umam 
pada tahun 1982, dibiayai oleh Dewan Film Nasional, dan mendapat 
penghargaan PWI Jaya sebagai Film Drama Terbaik 1983.

Dari tahun 1952-1992, Asrul terlibat dalam 49 produksi film—belum 
termasuk film televisi yang kemudian hari lebih dikenal sebagai 
sinetron—baik sebagai penulis cerita, skenario, maupun sutradara, 
antara lain yang belum disebutkan adalah: Pagar Kawat Berduri 
(1961), Balada Kota Besar (1963), Pilihan Hati (1964), Fadjar 
Menyingsing di Permukaan Laut (1966), Apa yang Kau Tjari, Palupi? 
(1969), Malin Kundang (1971), Akhir Cinta di Atas Bukit (1971), Desa 
di Kaki Bukit (1972), Mutiara dalam Lumpur (1972), Salah Asuhan 
(1972), Bulan di Atas Kuburan (1973), Ibu Sejati (1973), Segenggam 
Harapan (1973), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Ateng Mata 
Keranjang (1975), Tiga Sekawan (1975), Chicha (1976), Al Kautsar 
(1977), Gara-Gara Istri Muda (1977), Istriku Sayang Istriku Malang 
(1977), Kemelut Hidup (1979), Para Perintis Kemerdekaan (1977), Dr. 
Siti Pratiwi Kembali ke Desa (1979),  Bawalah Aku Pergi (1981), 
Sorta (1982), Ke Ujung Dunia (1983), Kejarlah Daku Kau Kutangkap 
(1985), Sebening Kaca (1985), Bintang Kejora (1986), Keluarga Markum 
(1986), Naga Bonar (1986), Takdir Marina (1986), Yang Perkasa 
(1986), Bunga Desa (1988), Gema Kampus 66 (1988), Istana Kecantikan 
(1988), Noesa Penida (Pelangi Kasih Pandansari) (1988), Kepingin Sih 
Kepingin (1990), Nanti Kapan-Kapan Sayang (1990), Nada & Dakwah 
(1991),  Kuberikan Segalanya (1992), Pelangi di Nusa Laut (1992).

Dari seluruh produksi itu, Asrul mendapatkan 8 piala Citra. Tiga 
piala untuk pengarang cerita di film Sorta (FFI 1982), Naga Bonar 
(FFI 1987), dan Nada & Dakwah (FFI 1992). Lima lainnya untuk 
penulisan skenario Kemelut Hidup (FFI 1979), Bawalah Aku Pergi 
(1982), Titian Serambut Dibelah Tudjuh (FFI 1983), Kejarlah Daku Kau 
Kutangkap (FFI 1986), dan Naga Bonar (FFI 1987). Menerima 
penghargaan Terpuji untuk skenario Nada & Dakwah dalam Festival Film 
Bandung (FFB) 1993.  

Selain itu ia masih diunggulkan sebagai pengarang cerita, 
untukTitian Serambut Dibelah Tujuh (FFI 1988), Istana Kecantikan 
(FFI 1988), dan Kuberikan Segalanya (FFI 1992); unggulan sutradara 
terbaik untuk Kemelut Hidup (FFI 1979), Para Perintis Kemerdekaan 
(FFI 1979); serta nominasi untuk skenario Para Perintis Kemerdekaan 
(FFI 1979), Istana Kecantikan (FFI 1988), Noesa Penida (FFI 1989), 
dan Kuberikan Segalanya (FFI 1992).   

Sebagai intelektual, Asrul tak hanya berhenti sebagai pekerja film, 
ia juga pemikir perfilman nasional. Sinematek Indonesia, sering 
diidentikan dengan H. Misbach Yusa biran, karena memang semenjak 
perintisan pada tahun 1971, peresmiannya pada tahun 1975, dan 
seterusnya dikelola oleh Yusa, namun ide lembaga itu tercetus dari 
kepala Asrul. Semasa menjabat Ketua Dewan Film Nasional (1971-1981), 
Asrul berusaha mengembalikan negative film-film Indonesia yang 
tersimpan di lab Hongkong dan Tokyo. Dalam upaya itu, ia menemukan 
kenyataan pahit. 150 judul telah musnah, termasuk  Apa yang Kau 
Tjari, Palupi? (1969), film yang penyutradaraan dan skenarionya ia 
garap berdasarkan cerita Satyagraha Hoerip dan menjadi Film Terbaik 
Festival Film Asia tahun 1970. Saat ia menjabat kembali pada periode 
selanjutnya (1981-1983), Dewan Film menunjuk panitia LJN Hoffman 
dengan SK No. 022.Kp/DPH/tgl. 31 Juli 1981 untuk mengembalikan induk 
negative yang belum dimusnahkan. Usaha ini pun terbentur masalah 
biaya, karena negative itu kena pajak bila dimasukan kembali ke 
Indonesia.  Baru 10 tahun kemudian, terbitlah SK Menteri Keuangan 
No. 1929/KM.5 tgl. 4 Oktober 1994, yang membebaskan Bea Masuk bagi 
induk negative yang tersimpan di lab Hongkong dan Jepang, hingga 
masyarakat dapat menyaksikan lagi film-film lama dari masa 1970/1980-
an.

Tak salah jika pada Pekan Asrul Sani 2004, penyair, eseis, dan 
pengamat teater "Yang Berdiam dalam Mikropon", Afrizal Malna, 
menyebutnya sebagai "Tukang Jahit yang Ingin Menjahit Sejarah", dan 
citranya membentuk gambaran sebuah spons yang besar yang mempunyai 
daya hisap luar biasa, karena ketenangannya yang bak air danau. 

Mata Afrizal memang jeli. Asrul tak pernah datang dengan gagasan-
gagasan besar, meskipun dialah orang selain Wiratmo Soekito yang 
menyebarkan teori dan pemikiran baru dari Barat pada masanya. Pernah 
dalam sebuah kesempatan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, ia 
berkata pada penyair Leon Agusta, bahwa orang sebaiknya melakukan 
apa yang bisa dilakukan, tak usah memikirkan dan bicara muluk-muluk. 

Melakukan apa yang bisa dilakukan, tampaknya sepele saja, tapi 
melihat terjemahannya, lakon, roman, dan buku-buku lainnya, baik 
yang sudah diterbitkan maupun belum, atau yang memenuhi Bank Naskah 
DKJ, serta karya-karya yang lain, orang melihat sebuah energi 
raksasa yang mendirikan bulu kuduk.

Sebagaimana si gadis, Asrul telah menghadiahi kita lampu 60 lilin, 
yang akan menambah nafsu makan kita, menyehatkan otak kita, dan 
melelapkan tidur kita. Bukan karena ia tak mau lagi melihat tampang 
kita, tapi karena ajal menjemput. Tugas kita adalah menambah watt 
kita, agar lampu itu bisa terpasang, agar kita mampu menulis 300 
halaman tebalnya, meski tanpa lampu 200 lilin. Jika mungkin menjadi 
lampu 200 lilin yang lain. ***


   











******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke