Lari Dari Takdir
 
Sudah lama aku tidak bertemu dengan Johny tetanggaku, dia seorang pelukis, selain melukis kegiatan sehari-harinya merangkap sebagai peternak ayam aduan. Banyak sekali jenis ayam yang diternakan, diantaranya  ayam Bangkok, dan ayam Jawa dari jenis wareng sampai ayam jalak. Sebelum di daerah Tangerang merebak penyakit flu burung, aku sering datang ke peternakannya, suasana di sana, alami, dan nyaman, karena masih banyak pepohonan yang rindang. Tak kalah menariknya adalah melihat pertarungan antara ayam yang sedang 'berebut umur'. (Untuk menyaksikan pertarungan ayam yang sudah saya rekam di atas kanvas, silakan klik http://ferrydjajaprana.multiply.com/market/item/27).
 
 
Kenapa aku tertarik melihat peternakan ayam? Bisa jadi terkenang pada masa kecilku, yang tinggal bertani dan hobby beternak ayam kecil-kecilan di rumah.
 
Kemarin, aku bertemu Johny, ketika aku sedang duduk-duduk santai di beranda rumah, kami sebenarnya bertetangga, jarak rumahku dengan peternakannya hanya sepelemparan batu saja, tepatnya di belakang rumahku. Dia menyempatkan diri menghentikan laju motornya, sambil tetap duduk di atas sadel motornya, dia menanyakan kabarku.
 
"Hai, kemana saja, kok..nggak pernah kelihatan? Kok.. tidak pernah lagi main ke peternakan?" tanyanya, sambil memborong  pertanyaan.
"Aku ada saja, maklum, sedang musim flu-burung, jadi sedapat mungkin menghindari sumbernya, takut kondisi tubuhku pas sedang turun sehingga bisa tertular flu-burung..", jawabku.
"Tidak perlulah takut semacam itu, gembar-gembor tentang itu kan hanya ramai di media masa saja, kalau memang sudah takdirnya kena flu burung, ngapain harus di tolak?" Jelasnya diplomatis menutup pembicaraan, sambil minta permisi melanjutkan perjalanan.
 
                                            -o0o-
 
Percaya kepada takdir (Arab : Qadha' dan Qadar) , tidak berarti menghilangkan penyebabnya, karena dari sebab akan menghasilkan musabab atau akibat.
 
Ada satu riwayat, ketika Umar bin Khatab pergi ke negara Syria, di tengah perjalanan Beliau mendapatkan informasi bahwa sedang terjadi wabah penyakit di sana, kemudian para sahabat bermusyawarah, apakah perjalanan akan diteruskan atau pulang kembali? Setelah terjadi perselisihan pendapat, akhirnya diputuskan untuk kembali ke madinah.
 
Ketika ada salah seorang bertanya "Kenapa harus kembali ke Madinah?", Umar bin Khatab menjawab "Kami lari dari Qadar Allah, menuju Qadar Allah".
Kemudian datang Abdurachman bin Auf yang menjelaskan bahwa Nabi pernah bersabda tentang wabah penyakit "Bila kamu sekalian mendengar terjangkitnya wabah penyakit di bumi (wilayah) tertentu, maka janganlah kamu mendatanginya".
 
lari dari Qadar Allah atau melaksanakan sebab juga termasuk Qadar Allah, sama saja artinya "Ingin mendapatkan rezeki tapi tidak berikhtiar", percaya kepada takdir, tidak berarti menghilangkan sebab-sebab (syar'iyyah) atau ikhtiar yang benar. Adapun sebab-sebab yang berupa prasangka yang dianggap pelakunya sebagai sebab padahal bukan, maka hal itu di luar perhitungan dan tidak perlu diperhatikan.
 
Bicara takdir, memang rumit, tapi bukan berarti tidak bisa dipahami, kalau anda tertarik uraian secara lengkap, silakan klik http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/94
Uraian ini aku pisahkan karena ditulis terperinci.
 
Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com a>


******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke