Note: forwarded message attached.


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis :
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************




SPONSORED LINKS
Philosophy beauty product Philosophy Philosophy beauty
Philosophy of Philosophy amazing grace Philosophy hope in a jar


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
IN-THE-NAME-OF-THE-PSYCHOLOGY
 
OLEH:
AUDIFAX
Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra)
 
 
Psikologi, adalah sebuah disiplin ilmu yang hingga saat ini masih sering mendengung-dengungkan kemampuannya untuk understanding human being. Menariknya, di tengah rentetan permasalahan bangsa yang makin menunjukkan nirhumanitas, mulai kerusuhan Mei dan perkosaan massal di dalamnya, pembantaian etnis di Sambas dan Sampit, Ambon, berbagai pengeboman, RUU APP, berbagai isyu pornografi yang makin meresahkan dan mengancam sejumlah pihak karena agresivitas pihak-pihak tertentu, hingga demo buruh yang baru saja terjadi; justru tak banyak orang-orang psikologi yang menunjukkan perannya, terutama mengungkapkan solusi atau penjelasan pada semua hal yang jelas-jelas berhubungan dengan psike dan human being itu.
 
Fakultas-fakultas Psikologi terus bermunculan, hingga saat ini tercatat 64 Fakultas Psikologi. Bayangkan jika dalam satu semester masing-masing dari mereka meluluskan 10 orang saja, maka per enam bulan ada 640 ilmuwan psikologi, dalam setahun ada 1280 ilmuwan psikologi. Itu dengan asumsi masing-masing hanya meluluskan 10, pada kenyataannya dalam satu semester satu fakultas saja ada yang bisa meluluskan hingga ratusan. Dan semestinya, sejak ada lebih dari 20 tahun lalu, pendidikan understanding human being ini sudah menghasilkan ratusan ribu bahkan jutaan ilmuwan yang menggeluti ilmu ini. Pertanyaannya: Ada di mana mereka semua?
 
Psikologi, ternyata justru turut berperan menimbulkan nirhumanitas dalam kehidupan masyarakat. Dunia psikologi, berikut pendidikannya, sedikit banyak telah berubah menjadi institusi penjinak manusia melalui mekanisme pendisiplinan. Kita bisa melihat bahwa manusia mulai dibentuk dalam platform-platform tertentu yang menafikkan perbedaan dan keunikan. Platform-platform ini muncul dari cara berpikir yang berbasis pengategorian. Manusia yang sejatinya unik, coba dikategorikan. Lalu berlomba-lombalah orang psikologi membuat cara pengategorian: psikotes, observasi, Kitab PPDGJ, foto aura dan banyak cara lagi. Bahkan manusia yang memiliki keunikan ekstrim pun coba dikategorikan dengan melabelnya indigo, golden, dll. Semakin sophisticated pengategorian berikut penamaannya, semakin menjual.
 
Psikologi yang mengedepankan pengategorian ini, lupa bahwa psike itu tak pernah sama antara individu satu dengan yang lain. Lupa bahwa masing-masing psike ini memiliki alur kisah yang terbangun secara diakronis dan idiosinkretis. Lupa bahwa hal-hal yang nomotetik dan sinkronik tak bisa dilepaskan dari apa yang diakronis dan idiosinkretis. Psikologi sudah saatnya berhening dari hingar-bingar industri yang menempatkan manusia tak lebih dari sekrup sebuah mesin besar. Psikologi sudah saatnya merenungkan dosa-dosanya, seberapa banyak nasib manusia yang telah secara salah diputuskan melalui berbagai pengategorian di dalamnya. Psikologi sudah saatnya memberi perhatian pada bagaimana individu-individu unik ini, berkisah tentang dirinya.
 
Psikologi, jika masih mengklaim sebagai ilmu yang understanding human being, maka ia harus memberi perhatian pada bagaimana masing-masing dari manusia harus berkisah dan bagaimana manusia bisa menerima kisah dari manusia lain. Manusia, hanya bisa berkisah untuk memberi gambaran siapa dirinya, dan sungguh sayang jika manusia tak mampu berkisah, terbisukan oleh narasi-narasi yang mengatakan dirinya indigo, schizophrenia, superior, borderline, dsb. Psikologi (yang understanding human being itu] dapat menyumbang bagi tumbuhnya humanitas jika mampu mengajak manusia untuk [berani] berkisah dengan tulus, dengan caranya masing-masing, sesuai hidupnya masing-masing. Psikologi dapat mengambil peran dalam humanitas hanya jika mampu mengajak mereka yang terbisukan oleh kekuasaan, untuk mampu berkisah dan mendengarkan kisah.
 
Sayangnya, psikologi justru turut bermain dalam kekuasaan yang membisukan manusia dalam narasi-narasi besar. Psikologi, bahkan mulai menjadi prototipe agama. PPDGJ, sabda para tokoh dan teorinya, UU Profesi, Psikotes dan sejumlah hal lain, [diperlakukan] tak ubahnya bagai dogma, kitab suci, litani dan pujian layaknya dalam agama. Melalui itu semua, psikologi juga bicara “dosa” dengan menempatkan manusia sebagai devian, schizo, paranoid, borderline, dan sejenisnya. Inilah sebabnya dalam segala permasalahan nirhumanitas pada bangsa ini, psikologi tak mampu bicara banyak. Ini karena sama dengan agama, psikologi juga turut memberi kontribusi bagi nirhumanitas tersebut.
 
Psikologi dapat menjadi “understanding human being” hanya jika mengurangi bicara tentang “dosa-dosa”. Jika para dosennya memberi contoh dan mengajarkan pada para mahasiswanya bagaimana secara tulus berhadapan dengan pluralitas. Jika psikologi mampu melepaskan dari narasi-narasi besar tentang etika semu dalam berbagai label seperti “profesi”, “master”, “guru besar” dan mulai mengembangkan serta berkompetisi berdasarkan keunikan kemampuan masing-masing. Jika psikologi bisa mengajarkan bagaimana untuk berkisah dan mendengarkan kisah dengan segala ketulusan.
 
Psikologi semestinya malu bahwa segala masturbasi dengan label-label “S. Psi”, “profesi”, “master”, “guru besar” di tengah-tengah silang-sengkarut masalah bangsa, seperti pemerkosaan massal perempuan Cina, Sampit, Sambas, Poso, RUU APP, Playboy, Inul, Kartun Nabi, Kartun SBY, Papua, Aceh. Malu karena tak banyak [bahkan bisa dibilang hampir tak ada] dari orang psikologi yang bisa mengemukakan solusi atau penjelasan akar masalah dari hal-hal yang jelas-jelas menyangkut psike atau understanding human being ini. Atau lebih tajam lagi tak ada yang bisa mengambil peran kunci untuk memberi suatu understanding pada semua masalah nirhumanitas itu. Setiap ada peristiwa, baik itu pemerkosaan massal, Bom Bali, Tsunami (dan mungkin nanti meletusnya Merapi), saya hanya melihat “kawanan psikologi” datang dengan panji-panji institusinya, berlomba satu sama lain mempertontonkan metode sulap psikologi yang menjadi ciri institusinya, namun tak pernah menyentuh akar permasalahannya, apalagi menghasilkan solusi.
 
Saya mulai curiga, jangan-jangan psikologi ini [yang seperti saya singgung mulai jadi prototipe agama] mulai mengenakan pula atribut-atribut keagungan, keadilan, dan kerahiman “Allah”. Berperan sebagai Bapa [Father] pengampun dan penolong, memilah yang suci dan berdosa, karena orang-orang psikologi ini bisa jadi merasa sama dengan “Allah Bapa”, sama-sama menguasai “ilmu tentang manusia”. Terapi-terapi psikologi  atau training-training menjadi ajang ‘pertobatan’ atau ‘api penyucian’ agar mereka yang ‘berbeda’ merubah keberbedaannya dan konform dengan kerumunan. Berbagai orang psikologi sibuk berbisnis “penyembuhan Ilahi” ini, dengan membangun biro-biro, rumah-rumah terapi, klinik-klinik. Inilah psikologi yang berbicara tentang anak yang hilang dan bertobat pulang.
 
Apakah psikolog/ilmuwan psikologi hasil didikan 64 fakultas psikologi yang ada di Indonesia saat ini dapat menyumbang sesuatu dalam permasalahan nirhumanitas dan problem penerimaan kemajemukan yang tengah melanda bangsa ini? Saya pribadi berpendapat, dalam kondisi seperti sekarang, tak banyak yang bisa mereka lakukan. Bahkan oleh mereka yang telah menempuh magister atau doktoral sekalipun. Tak juga yang sekarang memegang posisi dosen atau guru besar. Satu-satunya kemungkinan agar psikologi dapat mulai menyumbang pada penyelesaian masalah nirhumanitas dan penerimaan kemajemukan bangsa ini, adalah dengan mulai belajar berpikir inklusif.
 
Saya justru merasa seorang Mbok Suminem di Ledok Sayidan, seperti dikisahkan Bernhard Kieser dalam diskusi di Jogja beberapa waktu lalu, jauh lebih bisa menyumbang bagi permasalahan nirhumanitas dan bagaimana menerima pluralitas. Rumah Mbok Sum menjadi warung, pagi hari ibu-ibu berkumpul di situ untuk belanja dan ngrumpi; malam hari tuan-tuan kampung bertemu di situ untuk ngopi dan ngrasani. Di rumah warung Mbok Sum dibangun ketetanggaan; di situ semua sama tahu; yang tidak cocok pun ketemu di situ, menjadi sesama warga.
 
Jadi, penyelesaian masalah nirhumanitas dan bagaimana menerima kemajemukan pada bangsa ini, tidak membutuhkan kehadiran ribuan lulusan dari pendidikan psikologi manapun di Indonesia saat ini. Apa yang dibutuhkan Indonesia adalah berpuluh juta Mbok Sum untuk 200 juta jiwa penduduk yang terdiri dari sekian ribu etnis dan adat yang mencirikannya masing-masing, untuk lima agama dan berbagai kepercayaan berikut perbedaannya satu sama lain; untuk keunikan masing-masing manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya; serta untuk menjaga tetap hidupnya ke-Bhinneka-an bangsa ini dan bagaimana masing-masing bisa berkisah sesuai kehidupan dan keunikan diri.
 
© Audifax – 4 Mei 2006
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 


Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.
--- End Message ---

Kirim email ke