|
Selalu demikian. Ketika ada bencana di Aceh, Tuhan
disangkut-pautkan. Ketika ada bencana banjir di Jember, lagi, Tuhan
disangkutpautkan. Dan implikasi ketika kita mengkaitkan Tuhan dalam berbagai
fenomena alam itu kadang menyesakkan hati. Ada yang bilang Tuhan murka karena
negara kita sudah sedemikian bobrok, ada yg bilang ini ujian (Unas?) buat kita.
Ada yg marah, kenapa Tuhan menghukum terlalu berat, melewati batas kemampuan
manusia. Ada lagi yang bilang Tuhan nggak adil kenapa juga bukan Jakarta yg kena
bencana - sarangnya koruptor. Mungkin ada orang yang menjadi nggak percaya Tuhan
setelah kejadian itu. Mungkin
Dan Mas Verri - mencoba mengambil jalan lain -
secara nggak langsung mengatakan bahwa lewat bencana Tuhan punya maksud lain.
Tapi esensinya saya rasa sama. Karena begitu
sulitnya bencana alam untuk dipahami, sebaliknya, dengan mudah kita kemudian
menyeret Tuhan untuk masuk dalam logika sebab-akibat.
Padahal, jauh lebih mudah jika kita tidak
mengkaitkan Tuhan dalam peristiwa ini.
salam,
johan
----- Original Message -----
Sent: Monday, May 29, 2006 10:13 AM
Subject: [filsafat] CSFTS : Dibalik
Tragedi Jogjakarta
Dibalik Tragedi Jogjakarta Pagi ini aku masih berada
di jalan tol BSD, ketika mendengar berita telah terjadi gempa bumi berkekuatan
5.9 skala richter melalui radio RRI. Dalam benakku, ku bertanya, kenapa harus
Jogja yang mengalaminya, bukankah peristiwa meletusnya Gunung Merapi juga
belum berakhir? Apa karena sama-sama Propinsi daerah Istimewa seperti Daerah
Istimewa Aceh yang terkena tsunami itu? Kenapa Tuhan tidak adil dalam
mengingatkan umat manusia di muka bumi ini? Kemana kebijakan Tuhan telah
berpihak? Ketika aku menulis artikel ini, adikku bercerita bahwa
salah seorang sahabatnya, mengalami musibah, ayah mertuanya di Bantul
tertimpa musibah sehingga meninggal dunia, sementara Ibundanya masih belum
ditemukan. Aku merasakan kesedihan yang mendalam atas musibah yang menimpanya.
Semoga saja arwah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,
Amin
-o0o- Membicarakan keadilan Tuhan, seperti membicarakan misteri,
jangankan kita yang awam ini, para pemikirpun dibuat pusing tujuh keliling
memikirkannya. Andaikan Tuhan itu adil, kenapa harus ada bencana dan kesusahan
ditimpakan pada umatnya? Resolusi pemikiran ini, apa bila
diteliti maka berdiri pada posisi non akademik. Kalau di dalam pemikiran
akademik, maka Tuhan melakukan sesuatu hal dengan kriteria-kriteria tertentu.
Seperti misalnya seorang direktur yang memutus hubungan kerja
karyawannya seenaknya, direktur tidak bisa main pecat seenaknya, karena ada
sistem dan prosedur yang mengaturnya. Apabila direktur tersebut melakukannya
berarti telah ada kedzaliman direktur itu terhadap karyawannya. Tetapi Tuhan
bukanlah direktur, hubungan manusia dengan Tuhannya bukan hubungan struktural,
Tuhan memiliki standarNya sendiri, dan bekerja melalui standarNya, Tuhan
memiliki standar untuk memberi bencana dan tidak memberi bencana. Keadilan
yang kita pertanyakan, patut mengemuka apa bila ada hubungan struktural atau
hubungan timbal balik. Jika ada musibah, Tuhan dipertanyakan keadilannya,
tetapi Ke Maha BijaksanaanNya, tidak dipertanyakan, jadi semestinya pertanyaan
kita ini yang semestinya dibenahi. Prinsip kebijaksanaan Tuhan
adalah Tuhan memberi rahmat. Jadi yang perlu kita urai adalah hikmah yang
diberikan. Kemahabijaksanaan Tuhan, bahwa alam ini diciptakan agar sisi
kebaikannya lebih dominan dibandingkan sisi keburukannya, alam diciptakan
dengan masing-masing tempat memiliki ciri khas, ciri tersebut menyifati alam,
tidak bisa dipisah-pisahkan. Contohnya fenomena alam, tumbuhan perlu cahaya
untuk tumbuh, apabila pemberian cahaya dihentikan maka tumbuhan akan mati,
tentunya selain cahaya ada beberpa zat lain yang diperlukannya, umpamanya
oksigen. Pertumbuhan tumbuhan ini dialami juga oleh hewan maupun manusia.
Dengan matinya tumbuhan tidak berhenti disitu, karena ada yang
menggantungkan kehidupannya yaitu hewan dan manusia. Ada siklus kehidupan di
sana. Fenomena alam ini dibuat untuk memudahkan kita berfikir,
proses mahluk yang mati itu akan dimanfaatkan oleh yang lainnya.
Kejadian di Yogyakarta, adalah gempa tektonik, hanya lantaran
beberapa lempeng bumi bergerak sedikit saja, menimbulkan gempa dengan kekuatan
5.9 skala richter. Efek yang ditimbulkan rumah-rumah runtuh, sekitar tiga
ribuan nyawa melayang. Pilihan yang diberikan Tuhan memang sulit
untuk difikirkan, pertama atas meninggalnya ribuan manusia. Ke dua, ada lagi
yang menggantikannya, artinya akan terjadi perubahan. Ada contoh
study kasus, yang mudah diikuti, ada seorang karyawan pabrik yang tangannya
terputus karena kesalahan prosedur sehingga mengakibatkan kecelakaan, apakah
bijaksana kalau perusahaan tersebut kita tutup, padahal perusahaan itu tempat
menambatkan hidup ribuan karyawannya ? Adanya musibah itu tidak ada
hubungannya dengan Kebijaksanaan Tuhan, karena dibaliknya ada manfaat yang
lebih besar, Tuhan Yang Maha Bijaksana memberikan hikmah dan berkat dibalik
kejadiannya. Apa akibat dari musibah-musibah itu? Mari kita
kupas satu per satu, akan ada pembangunan rumah-rumah yang telah berubah
menjadi puing-puing, akan ada pergantian pekerja didalam perusahaan yang
ditinggalkan oleh karyawan sebelumnya, dokter-dokter bisa bekerja, bertambah
ilmuwan yang memikirkan masalah rahasia ilmu Allah SWT, dan masih banyak lagi
lainnya. Bencana-bencana yang terjadi pada manusia, merupakan berkah bagi
manusia yang lainnya, dengan syarat manusia lain itu tidak malas, di sisi lain
juga terkuak rahasia ayat-ayatNya, bahwa bencana-bencana itu untuk menguji
keterikatan manusia, untuk menguji kesabaran mengalami musibah seperti itu,
bagi yang selamat dari musibah mereka juga dapat tugas, berbagi rasa dengan
sesama yang selamat, pengungsi-pengungsi masih memerlukan uluran tanganmu, ada
yang menjenguk orang yang sakit, ada yang membantu sesama, pekerjaan-pekerjaan
sosial semacam itu akan menciptakan kenaikan derajat manusia yang beramal
baik. Bagi yang memahami masalah cinta kasih sesama manusia,
disini kehidupan cinta kasih dibuka. Bukankah pengejawantahan rasa cinta
adalah menanggung orang lain, disini ada pengorbanan bagi yang mencintai
terhadap yang dicintai, pengorbanan ini bukti ungkapan rasa cinta
itu? Bagi yang merasa cinta terhadap tuhannya, saat ini adalah
saat yang tepat untuk mengungkapkan cintanya secara
makrifat. Wahai tuhan dengan cintaku padaMu, aku mau menanggung
sakit karena rasa cinta ini terhadap Mu, kalau kita arif tentu akan tahu
bahwa bukti rasa cinta itu harus ada pengorbanan, dan pengorbanannya adalah
bencana. Melalui perantaraannya kita akan tahu bagaimana proses terciptanya
dunia ini dan proses akan berakhirnya dunia, mari kita renungkan kehidupan
kita yang singkat ini. Setiap mahluk hidup pasti akan
mengalami kematian, kalau telah datang ajal maka tak bisa lagi ditunda, jalan
menuju kematian memang banyak, bencana alam adalah salah satu
diantaranya. Hidup ini nyatanya seperti tukang parkir kendaraan,
pada jam kerja dia memiliki banyak kendaraan, dan pada akhirnya harus
merelakan kendaraan yang dimilikinya harus pergi satu per satu, tentu
sungguh akan menyakitkan bila dia bergantung pada kendaraan itu. Apabila ingin
bergantung tentu sebaiknya kepada Dzat Yang Meminjamkan kehidupan itu.
Sehingga kita bisa rela dan ikhlas atas kepergiannya. Hikmah
kejadian di Yogyakarta diluar pikiran kita, pada saat orang meyakini bahwa
paling aman adalah di kota Yogyakarta, dari bencana wedus gembel, ternyata
justru yang dekat pantai terkena musibah. Kemana kita harus lari mencari
tempat yang aman? Sementara negara kita adalah negara labil, dimana-mana ada
patahan? Kita mesti sadar bahwa kita hidup diatas marabahaya yang selalu
mengancam? Wedusnya masih gembel dan masih aktif, janganlah engkau kira bahwa
bumi dan gunung ini diam, melainkan terus bergerak... Kenapa kita
lalai, ada satu tempat yang aman yang sudah kita lupakan, peganglah dada
(baca: hati) ini, disitulah rumah yang aman dan nyaman. Disitulah tempat
yang aman untuk berlindung, ada satu riwayat yang menyatakan bahwa orang yang
cerdas adalah orang yang mengingat mati dan menyiapkan kematiannya dengan
baik, tentunya paling bijak tidak perlu kita tunda untuk
bertaubat. Ada satu nasihat yang mudah untuk diingat, ingat lima
sebelum lima, pertama, ingat masa sehatmu sebelum datang masa
sakitmu, ingat masa mudamu sebelum datang masa tuamu, ingat masa kayamu
sebelum datang masa miskinmu, ingat masa lapangmu sebelum datang masa
sempitmu, dan terakhir adalah ingat masa hidupmu sebelum masa
matimu.
-o0o- Tulisan di atas, terinspirasi atas dialog yang diberikan
oleh Ayatulah MT Mishbah Yazdi, filosof Islam kontemporer asal negara Iran,
yang telah memberikan General Studium, pada ICAS Paramadina belum lama
berselang, setelah kunjungannya ke Universitas Gajahmada dan sebelum
memberikan dialog dengan Civitas Akademika Universitas
Indonesia. Terakhir, mari kita bersama-sama, bahu membahu,
menolong sesama saudara kita di Yogyakarta. Uluran tangan anda sangatlah
berharga untuk mereka. Semoga Tuhan YME memberkahi kita semua,
Amin. Jakarta, 27 Mei 2006 Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com
******************************************************
Milis Filsafat
Posting : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|