----------  Forwarded Message  ----------

Subject: [Milis_Iqra] Seputar Penyebutan Nabi Besar
Date: Wednesday 31 May 2006 07:58
From: "Armansyah" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>

Assalamu'alaykum Wr. Wb.,



Seputar Penyebutan Nabi Besar

Oleh : Armansyah





"Rasul-rasul itu Kami utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (Qs.
 al-Baqarah 2:253)



Setiap Nabi dan Rasul Allah memiliki kelebihannya tersendiri didalam
 menjalankan misi mereka kepada umatnya, tapi walau demikian, al-Qur'an
 justru melarang manusia untuk membeda-bedakan mereka, sebab kesemuanya
 adalah utusan Allah yang Maha Agung. Dan hanya Allah sajalah yang berhak
 untuk menilai derajat dari masing-masing Nabi-Nya itu, aturan tersebut
 berlaku kepada siapa saja tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad Saw selaku
 Nabi terakhir.



Masing-masing Nabi dan Rasul Allah itu memiliki misi yang sama, mengajarkan
 kepada umatnya mengenai Tauhid, bahwa Tidak ada sesuatu apapun yang wajib
 untuk disembah melainkan Allah yang Esa, berdiri dengan sendirinya, tanpa
 beranak dan tanpa diperanakkan alias Esa dengan pengertian yang
 sebenar-benarnya, bukan Esa yang Tiga alias Tritunggal.



Masing-masing utusan Allah itu diberi kelebihan tersendiri yang lebih dikenal
 dengan nama "Mukjizat", dimana tiap-tiap mukjizat ini diberikan sesuai
 dengan konteks jaman, kebudayaan dan cara berpikir manusia kala itu,
 meskipun ada juga beberapa mukjizat yang sama yang dimiliki antar Nabi dan
 Rasul Allah tersebut.



"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
 kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan
 anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari
 Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan
 hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri".

(Qs. Ali Imran 3:84)



"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak
 membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada
 mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs.
 An-Nisa' 4:152)



Tegas dan gamblang sekali penyataan ayat al-Qur'an diatas.

Disini saya ingin mengajak kita semua membahas satu persatu makna yang
 tersurat maupun tersirat dari kedua ayat diatas ini :



"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada
 kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan
 anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari
 Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan
 hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (Qs. ali Imran 3:84)



Ayat 3:84 ini dimulai dengan kata perintah penegas : Kul [Katakan!].



Siapa yang disuruh oleh Allah ini ? Jawabnya adalah merefer pada umat
 Muhammad Saw, yaitu kita kaum Muslimin seluruhnya.



Mari kita periksa ayat tersebut yang secara nyata mewajibkan bagi umat
 Muhammad menghilangkan rasa diskriminasi kenabian.



Kul 'Amanabillahi = Katakanlah! Kami [umat Muhammad] beriman kepada Allah

Wama unzila 'alaina = dan apa yang diturunkan kepada kami [yaitu al-Qur'an
 melalui Muhammad]

Wama unzila 'ala Ibrahim = dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim

Wa Isma'il = dan kepada Ismail

Wa Ishaq = dan kepada Ishaq

Wa Ya'qub = dan kepada Ya'qub

Wal Asbasi wama utiya Musa = dan apa yang diberikan kepada keturunan mereka
 dan juga kepada Musa

Wa 'Isa = dan kepada 'Isa

Wannabiyyu namirrobbihim = serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka

Lanufarriku bayna ahadimminhum = dan kami [umat Muhammad] tidak
 membeda-bedakan diantara mereka [yaitu para Nabi dan Rasul itu].

Wanaghnu lahu muslimun = dan kepada-Nya [Allah] kami menyerahkan diri
 [Muslim]



Sekali lagi, ayat al-Qur'an diatas menafikan kerendahan derajat seorang Nabi
 dan Rasul dengan Nabi dan Rasul Allah yang lainnya, dan itu diberlakukan
 secara menyeluruh dengan kalimah "Lanufarriku bayna ahadimminhum".



Membandingkan antar Nabi yang satu dengan Nabi lainnya seperti yang dilakukan
 oleh banyak jemaah dan manusia rasanya adalah sudah melampaui apa yang
 diperintah oleh Allah sendiri dalam al-Qur'an, dan bertindak demikian
 berarti kita telah menyalahi al-Qur'an (dengan istilah kasarnya kita telah
 berdosa karena mengabaikan perintah al-Qur'an).



Bukan pada tempatnya bagi manusia untuk menilai kemuliaan derajat antar para
 utusan Allah sebab memang manusia pada dasarnya tidak pernah tahu dan tidak
 pernah mengerti mengenai hal tersebut, penegasan 3:84 ini diulang kembali
 oleh Allah pada ayat 2:136.



Pada ayat 2:253, 17:55 Allah dengan tegas mengatakan bahwa hanya Dia-lah yang
 patut mengadakan penilaian ketinggian derajat antar Rasul-Nya. Dan hal ini
 memang sudah sewajarnya sebab hanya Dia-lah yang lebih mengetahui dan
 memiliki otoritas penuh dalam menilai apa dan bagaimana karakter
 masing-masing utusan-Nya itu.



Kita sering mendengar adanya orang menyebut : "Nabi besar Muhammad...", jika
 begitu apakah ada Nabi kecil ? Tidakkah itu juga sudah melanggar apa yang
 diperintahkan oleh al-Qur'an diatas untuk tidak melebihkan antara para Nabi
 dan Rasul ?



Dalam catatan sejarah al-Qur'an dipaparkan bahwa Allah telah melebihkan serta
 memuliakan para Nabi-Nya seperti Musa [7:144], Daud dan Sulaiman [27:15],
 Isa Almasih [3:45-46], Muhammad [94:4], Ibrahim [2:124] dan lain sebagainya
 [Nuh, Ayyub, Harun dll] yang kesemuanya tercantum dalam ayat 4:163, 33:7 dan
 berbagai ayat lainnya yang tersebar dalam al-Qur'an.



Membeda-bedakan para utusan Allah dalam sudut pandang apapun hanya akan
 menyebabkan diskriminasi yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan manusia
 terjerumus mendewakan salah satu dari mereka dan mencampakkan yang lainnya
 sehingga menimbulkan fitnah, khurafat dan pelecehan kepada mereka. Semua
 Nabi dan Rasul sebelum Muhammad wajib untuk dihormati, mereka semua adalah
 orang-orang yang suci dan telah mengantarkan kaumnya kepada peradaban yang
 mengenal nilai-nilai keTuhanan dan juga sebagai penyampai khabar gembira
 akan kehadiran Rasulullah Muhammad Saw selaku Nabi penutup.



Mungkin memang itu adalah salah satu bentuk kecintaan kita kepada Nabi Saw,
 namun jika apa yang kita lakukan itu justru tidak sesuai, apakah hal ini
 masih bisa diterima ?

Bagaimana pendapat anda jika demi untuk mencari keridhoan Allah maka sholat
 subuh kita tambah menjadi 4 raka'at ?



Ditinjau dari satu sudut, penambahan raka'at ini memang baik, tapi ditinjau
 dari sudut yang lain, maka tindakan ini salah dan tidak dibenarkan, sholat
 kita bukan diterima tapi malah ditolak.



Begitulah kira-kira gambaran surah ali Imran 3:84, dan sekarang kita beralih
 ke Surah an-Nisa' 152 :



"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak
 membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada
 mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs.
 An-Nisa' 4:152)

Pada ayat diatas juga disebutkan bahwa "Orang yang Beriman kepada Allah dan
 para Rasul" ditekankan dengan penambahan kalimat "Dan tidak membedakan
 seorangpun di antara mereka".



Jadi kalimat keberimanan orang kepada Tuhan dan Rasul tidak sempurna jika
 mereka masih saja mengadakan perdebatan mengenai kemuliaan seorang Rasul
 dari Rasul yang lainnya, namun bagaimanapun juga secara manusiawi adalah
 wajar bila suatu saat kita lalai dan melakukannya tanpa kita sadari, untuk
 itulah pada bagian akhir ayat diatas diakhiri dengan pernyataan Allah : "Dan
 adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."



Allah Maha Tahu dan Bijaksana, Dia sadar manusia tidak akan bisa lepas dari
 kefanatikannya kepada para Nabi mereka maka dari itu Allah mengampuni
 perbuatan kita tersebut dan tidak akan menghukum kita, tetapi Allah juga
 memberi persyaratan pengampunannya sebagaimana yang tercantum dalam
 al-Qur'an Surah al-Maidah ayat 39 :



"Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki
 diri Maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha
 Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. al-Ma'idah 5:39)



Setelah sadar kita melakukan kesalahan, kita koreksi diri kita sendiri agar
 tidak mengulanginya kembali dilain waktu maka bertaubatlah kepada Allah atas
 kesalahan yang kita buat maka niscaya, jika kita ikhlas melakukannya, maka
 Allah akan mengampuni kita.


Wassalam.,


Armansyah
http://armansyah.swaramuslim.net


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
 bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari
 segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar
 dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu -Qs. 96
 al-alaq : 1 - 5

Anda menerima posting ini berarti anda tergabung dalam "Milis_Iqra".
Untuk bergabung dimilis ini silahkan kirim email ke :
 [EMAIL PROTECTED] Untuk berhenti berlangganan maka kirim email
 [EMAIL PROTECTED] Informasi lebih lanjut silahkan
 kunjungi  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
 -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

-------------------------------------------------------




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/pyIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Assalamu'alaykum Wr. Wb.,

 

Seputar Penyebutan Nabi Besar

Oleh : Armansyah

 

 

"Rasul-rasul itu Kami utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (Qs. al-Baqarah 2:253)

 

Setiap Nabi dan Rasul Allah memiliki kelebihannya tersendiri didalam menjalankan misi mereka kepada umatnya, tapi walau demikian, al-Qur'an justru melarang manusia untuk membeda-bedakan mereka, sebab kesemuanya adalah utusan Allah yang Maha Agung. Dan hanya Allah sajalah yang berhak untuk menilai derajat dari masing-masing Nabi-Nya itu, aturan tersebut berlaku kepada siapa saja tanpa terkecuali kepada Nabi Muhammad Saw selaku Nabi terakhir.

 

Masing-masing Nabi dan Rasul Allah itu memiliki misi yang sama, mengajarkan kepada umatnya mengenai Tauhid, bahwa Tidak ada sesuatu apapun yang wajib untuk disembah melainkan Allah yang Esa, berdiri dengan sendirinya, tanpa beranak dan tanpa diperanakkan alias Esa dengan pengertian yang sebenar-benarnya, bukan Esa yang Tiga alias Tritunggal.

 

Masing-masing utusan Allah itu diberi kelebihan tersendiri yang lebih dikenal dengan nama "Mukjizat", dimana tiap-tiap mukjizat ini diberikan sesuai dengan konteks jaman, kebudayaan dan cara berpikir manusia kala itu, meskipun ada juga beberapa mukjizat yang sama yang dimiliki antar Nabi dan Rasul Allah tersebut.

 

"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri".

(Qs. Ali Imran 3:84)

 

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. An-Nisa' 4:152)

 

Tegas dan gamblang sekali penyataan ayat al-Qur'an diatas.

Disini saya ingin mengajak kita semua membahas satu persatu makna yang tersurat maupun tersirat dari kedua ayat diatas ini :

 

"Ucapkanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (Qs. ali Imran 3:84)

 

Ayat 3:84 ini dimulai dengan kata perintah penegas : Kul [Katakan!].

 

Siapa yang disuruh oleh Allah ini ? Jawabnya adalah merefer pada umat Muhammad Saw, yaitu kita kaum Muslimin seluruhnya.

 

Mari kita periksa ayat tersebut yang secara nyata mewajibkan bagi umat Muhammad menghilangkan rasa diskriminasi kenabian.

 

Kul 'Amanabillahi = Katakanlah! Kami [umat Muhammad] beriman kepada Allah

Wama unzila 'alaina = dan apa yang diturunkan kepada kami [yaitu al-Qur'an melalui Muhammad]

Wama unzila 'ala Ibrahim = dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim

Wa Isma'il = dan kepada Ismail

Wa Ishaq = dan kepada Ishaq

Wa Ya'qub = dan kepada Ya'qub

Wal Asbasi wama utiya Musa = dan apa yang diberikan kepada keturunan mereka dan juga kepada Musa

Wa 'Isa = dan kepada 'Isa

Wannabiyyu namirrobbihim = serta Nabi-nabi dari Tuhan mereka

Lanufarriku bayna ahadimminhum = dan kami [umat Muhammad] tidak membeda-bedakan diantara mereka [yaitu para Nabi dan Rasul itu].

Wanaghnu lahu muslimun = dan kepada-Nya [Allah] kami menyerahkan diri [Muslim]

 

Sekali lagi, ayat al-Qur'an diatas menafikan kerendahan derajat seorang Nabi dan Rasul dengan Nabi dan Rasul Allah yang lainnya, dan itu diberlakukan secara menyeluruh dengan kalimah "Lanufarriku bayna ahadimminhum".

 

Membandingkan antar Nabi yang satu dengan Nabi lainnya seperti yang dilakukan oleh banyak jemaah dan manusia rasanya adalah sudah melampaui apa yang diperintah oleh Allah sendiri dalam al-Qur'an, dan bertindak demikian berarti kita telah menyalahi al-Qur'an (dengan istilah kasarnya kita telah berdosa karena mengabaikan perintah al-Qur'an).

 

Bukan pada tempatnya bagi manusia untuk menilai kemuliaan derajat antar para utusan Allah sebab memang manusia pada dasarnya tidak pernah tahu dan tidak pernah mengerti mengenai hal tersebut, penegasan 3:84 ini diulang kembali oleh Allah pada ayat 2:136.

 

Pada ayat 2:253, 17:55 Allah dengan tegas mengatakan bahwa hanya Dia-lah yang patut mengadakan penilaian ketinggian derajat antar Rasul-Nya. Dan hal ini memang sudah sewajarnya sebab hanya Dia-lah yang lebih mengetahui dan memiliki otoritas penuh dalam menilai apa dan bagaimana karakter masing-masing utusan-Nya itu.

 

Kita sering mendengar adanya orang menyebut : "Nabi besar Muhammad...", jika begitu apakah ada Nabi kecil ? Tidakkah itu juga sudah melanggar apa yang diperintahkan oleh al-Qur'an diatas untuk tidak melebihkan antara para Nabi dan Rasul ?

 

Dalam catatan sejarah al-Qur'an dipaparkan bahwa Allah telah melebihkan serta memuliakan para Nabi-Nya seperti Musa [7:144], Daud dan Sulaiman [27:15], Isa Almasih [3:45-46], Muhammad [94:4], Ibrahim [2:124] dan lain sebagainya [Nuh, Ayyub, Harun dll] yang kesemuanya tercantum dalam ayat 4:163, 33:7 dan berbagai ayat lainnya yang tersebar dalam al-Qur'an.

 

Membeda-bedakan para utusan Allah dalam sudut pandang apapun hanya akan menyebabkan diskriminasi yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan manusia terjerumus mendewakan salah satu dari mereka dan mencampakkan yang lainnya sehingga menimbulkan fitnah, khurafat dan pelecehan kepada mereka. Semua Nabi dan Rasul sebelum Muhammad wajib untuk dihormati, mereka semua adalah orang-orang yang suci dan telah mengantarkan kaumnya kepada peradaban yang mengenal nilai-nilai keTuhanan dan juga sebagai penyampai khabar gembira akan kehadiran Rasulullah Muhammad Saw selaku Nabi penutup.

 

Mungkin memang itu adalah salah satu bentuk kecintaan kita kepada Nabi Saw, namun jika apa yang kita lakukan itu justru tidak sesuai, apakah hal ini masih bisa diterima ?

Bagaimana pendapat anda jika demi untuk mencari keridhoan Allah maka sholat subuh kita tambah menjadi 4 raka'at ?

 

Ditinjau dari satu sudut, penambahan raka'at ini memang baik, tapi ditinjau dari sudut yang lain, maka tindakan ini salah dan tidak dibenarkan, sholat kita bukan diterima tapi malah ditolak.

 

Begitulah kira-kira gambaran surah ali Imran 3:84, dan sekarang kita beralih ke Surah an-Nisa' 152 :

 

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. An-Nisa' 4:152)

Pada ayat diatas juga disebutkan bahwa "Orang yang Beriman kepada Allah dan para Rasul" ditekankan dengan penambahan kalimat "Dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka".

 

Jadi kalimat keberimanan orang kepada Tuhan dan Rasul tidak sempurna jika mereka masih saja mengadakan perdebatan mengenai kemuliaan seorang Rasul dari Rasul yang lainnya, namun bagaimanapun juga secara manusiawi adalah wajar bila suatu saat kita lalai dan melakukannya tanpa kita sadari, untuk itulah pada bagian akhir ayat diatas diakhiri dengan pernyataan Allah : "Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 

Allah Maha Tahu dan Bijaksana, Dia sadar manusia tidak akan bisa lepas dari kefanatikannya kepada para Nabi mereka maka dari itu Allah mengampuni perbuatan kita tersebut dan tidak akan menghukum kita, tetapi Allah juga memberi persyaratan pengampunannya sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur'an Surah al-Maidah ayat 39 :

 

"Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri Maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Qs. al-Ma'idah 5:39)

 

Setelah sadar kita melakukan kesalahan, kita koreksi diri kita sendiri agar tidak mengulanginya kembali dilain waktu maka bertaubatlah kepada Allah atas kesalahan yang kita buat maka niscaya, jika kita ikhlas melakukannya, maka Allah akan mengampuni kita.

 

Wassalam.,
 
 
Armansyah
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan,  Dia ciptakan manusia dari segumpal darah.  Bacalah karena Tuhanmu itu sangat mulia; Yang mengajar dengan Qalam.  Dia mengajar manusia apa yang mereka tidak tahu -Qs. 96 al-alaq : 1 - 5  

Anda menerima posting ini berarti anda tergabung dalam "Milis_Iqra".
Untuk bergabung dimilis ini silahkan kirim email ke : [EMAIL PROTECTED]
Untuk berhenti berlangganan maka kirim email [EMAIL PROTECTED]
Informasi lebih lanjut silahkan kunjungi  http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke