--- In [email protected], "Rahmad Setiadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > yg kaya gini nih, > > Filsafatnye Orang Sial, Orang kalah, .. > > tipikal banget siy ? > > kasihan deh lu ! > > > > One advise: > > G.E.T.A.L.I.F.E ! > hidup memang sebuag misteri, 50 psikolog pun dikumpulkan untuk membaca pemikiran manusia, manusia yang satu tidka akan mampu mengetahui seberapa dalam keinginan manusia yang paling terdalam. Realitas itu memang misteri kata Filsuf Thomas Aquinas. Realitas itu nisbi, alam bawah sadar manusia sangat kompleks dan sulit untuk ditelaah.
parlapo > > > > > _____ > > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf > Of emabdalah > Sent: Tuesday, September 05, 2006 3:21 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [filsafat] Pernikahan dan Pelacuran > > Pernikahan dan Pelacuran > > Hati saya benar-benar hancur melihat kenyataan bahwa > Siti Nurhaliza akhirnya menikah dengan Datuk K. Dalam > hati saya berkata, teganya Siti menjual dirinya kepada > lelaki kaya hidung belang. > > Pernikahan tsb membuktikan kebenaran sinyalemen saya > beberapa waktu lalu, bahwa wanita, sekaya apa pun dia, > akan tetap memilih lelaki yang lebih kaya darinya > sebagai suami. Dalam kasus ini, kurang apa lagi "mbak" > Siti, dari segi materi? Kenapa dia lebih suka memilih > lelaki, yang konon, sebetulnya adalah suami orang? > > Seperti banyak dirumorkan media Malaysia dan media > jirannya, bahwa CT (Siti) lebih suka nemplok di > pelukan suami orang, daripada di pelukan lelaki yang > masih membujang. Karena kehadiran Siti di hati sang > Datuk lah, maka istri Datuk memilih cerai daripada > dimadu. > > Kalau cuma suka pada lelaki beristri, kenapa sih, > bukan memilih saya atau anda saja? Ah, tentu saja > kehadiran saya tidak akan ada artinya bagi > berlangsungnya jaminan sosial sang diva. Financial > security, itulah alasan kebanyakan wanita menikah. > Sedangkan lelaki lebih suka menikah karena bakat > bawaan instink primitifnya yaitu, tertarik "barang" > bagus. > > Lelaki berduit mana yang tak menginginkan wanita yang > mirip boneka barbie itu? Jangankan lelaki berduit, > lelaki yang tak berduit pun pasti berkhayal, malu-malu > atau tidak malu-malu, untuk menikah dengan penyanyi > bersuara emas itu. Apalagi karakternya yang anggun > dalam penampilan, sopan dalam bertutur kata, dan tidak > suka pamer aurat itu, pasti menambah hasrat setiap > pria untuk mendapatkan sorga dunia. > > Walaupun saya tidak suka mendengar musik, tapi > sepintas saya dapat menilai bahwa si Siti Nurjazila > ini mempunyai bakat besar dalam menyanyi (betul apa > tak betul?). Dan yang saya kagumi juga, dia tak pernah > berpakaian ala barat di setiap kali penampilannya. Dia > tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan menggunakan > pakaian yang seksi, minim atau ketat. > > Berbeda jauh dengan para penyanyi wanita kita, yang > lebih suka memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya dengan > berpakaian ketat atau minim, dalam rangka mendongkrak > pendapatan belanja rumah tangga. Malah bukan rahasia > lagi kalau para penyanyi wanita yang sudah beristri > pun, rela meninggalkan suami dan anaknya berhari-hari > karena dibooking "manggung" oleh organisasi ini, > organisasi itu. > > Di sini terlihat dengan jelas, bahwa berdasarkan salah > satu fenomena tsb, sebetulnya batas antara penyanyi > wanita (artis) dan pelacur sangatlah tipis. Boleh > dibilang tak ada batasnya, sebab keduanya sama-sama > menjajakan sex appeal yang mereka miliki, baik melalui > suara atau tubuh mereka. > > Dengan sex appeal (daya tarik seksual) yang menjadi > andalan mereka berbisnis inilah, yang kemudian > mendasari mereka untuk memasang harga, baik ketika > show yang sebenarnya, atau show yang pakai tanda > kutip, "show". Lebih jauh lagi, dalam segala aspek, > harga tinggi tersebut kemudian berdampak pada > tingginya gengsi, sehingga segala sesuatunya, disebut > pantas atau tidak pantas, dengan nominal uang. > > Contohnya dalam perkawinan yang dialami banyak kaum > selebritis, tak ada satu pun yang rela menikah dengan > orang miskin, atau katakanlah, dengan orang yang > standar ekonomi menengah. Dan penyakit masyarakat > tersebut ternyata juga bukan menjangkiti para > selebritis yang sering nongol di TV, orang-orang > kampung yang tidak pernah masuk berita pun, mematok > harga tinggi bagi anak gadisnya. Apalagi kalau sang > anak bertampang cantik atau mirip-mirip artis, maka > harga jualnya pun tentu lebih tinggi lagi. > > Anda boleh saja protes, tapi hal ini benar adanya. > Banyak orangtua yang bertingkah seperti germo atau > bromocorah yang memasang tarif tinggi bagi siapa yang > hendak meminang anak gadisnya. Terkadang sang anak > gadis pun merasa dirinya cantik dan memang merasa > pantas dihargai dengan harga tinggi. > > Jadilah di sini batas pelacuran dan pernikahan jadi > kabur. Dalam kedua event tsb, sang lelaki sebagai > konsumen, sama-sama harus mempunyai budjet yang banyak > untuk mendapatkan seorang wanita. (Berdasarkan > kenyataan ini, barangkali nanti, para "ulama" jaringan > islamliberal akan mengeluarkan fatwa bahwa melacur itu > halal karena, sama-sama mengeluarkan uang, seperti > laiknya pernikahan). > > Kalau jiwa pelacur dan germo sudah menguasai, maka > segalanya harus serba wah, termasuk memilih calon > suami, seperti yang menimpa Siti Nurhalija. Sopan > santun dalam bertutur kata, elok dalam berpakaian, > hanyalah kamuflase untuk mendapatkan uang yang lebih > banyak dari lelaki hidung belang. Pengetahuan agamanya > hanya dijadikan umpan untuk menjaring konsumen yang > lebih banyak. > > Menyinggung tipisnya batas pernikahan dan pelacuran, > berarti menyinggung sebuah kosa kata lain, yaitu > kebaikan yang diwakili polisi,lawan kejahatan yang > diwakili penjahat. Batas antara kebaikan dan kejahatan > hanyalah sebuah benang yang transparan. > > Seorang polisi dan seorang penjahat sama saja > statusnya, sama-sama merugikan masyarakat. Penjahat > merugikan orang lain tanpa menggunakan institusi > resmi, sedangkan polisi, pejabat pemerintah, anggota > DPR/DPRD, hakekatnya adalah penjahat juga, sebab > mereka suka memakan uang rakyat dengan menjual hukum. > > Bahkan ketika seorang terpidana harus masuk penjara > untuk bertobat, segala infra strukturnya tidak > mendukung sama sekali untuk bertobat. Seorang > terpidana, yang seharusnya segala nafsu kriminalnya > dibelenggu oleh aparat, masih bisa melakukan segala > bentuk criminal, baik sebagai bandar narkoba, atau > yang kecil-kecilan, jualan rokok. > > Lebih edan lagi, dosa dan kejahatan itu juga menjadi > kewajiban bagi penjaga penjara, karena mereka > mewajibkan para pengunjung membayar sekian rupiah > untuk sekali bezuk. Jadi sebetulnya semua mata rantai > dalam penjara itu, baik polisi, hakim, yang terpidana, > sipirnya, ketua lapasnya, dan pengunjungnya sama-sama > tukang criminal. > > Jadi seseorang masuk penjara bukanlah sebuah jaminan > akan terbebas dari menebus sebuah dosa, sebab dosa > yang lain sedang menanti. > > Well, bagaimana pun juga kehidupan terus berjalan. > Pelacuran dan perkawinan tak akan pupus dari dunia, > selama para wanita cantik dan tidak cantik masih > merasa sebagai barang yang mahal. Polisi, pejabat, > anggota dewan dan penjahat tetap saja masih satu > derajat, selama mereka tidak menyadari betapa > berharganya secuil nasi tetangga yang tercecer di atas > meja. > > Kembali ke soal perkawinan Siti Nurhaliza vs |Datuk K. > Sebagai seorang muslim yang baik, mustinya Datuk K > tidak hanya sekedar melegitimasi perkawinan untuk > melampiaskan nafsunya. Sebagai anggota dari umatan > wasatan, mustinya Datuk K, dan juga kita, dalam hal > perkawinan mempunyai sebuah misi, baik itu misi > sosial, ekonomi maupun pendidikan. > > Bukan hanya sharing, maaf, alat kelamin, dengan > bayaran yang mahal, tapi juga musti sharing > harta-benda dan intelektual. Dengan kata lain, > mustinya seorang yang kaya menikah dengan seorang yang > miskin. Orang pandai menikah dengan orang yang kurang > pandai. Seorang ahli agama mustinya kawin dengan > seorang yang buta agama. Dengan demikian terjadi > sharing ekonomi, sosial dan intelektual. > > Kalau seorang kaya kawin dengan orang kaya, orang > miskin musti kawin dengan orang miskin, ustadz kawin > dengan ustadzah, menurut saya mereka bukan termasuk > orang-orang yang beruntung, dan tidak mengerti makna > visi dan misi beragama. > > Dalam hal ini saya salut dengan orang-orang Singapura > yang mau menikahi para janda miskin dari bangsa > Indonesia. Padahal para janda itu rata-rata bertampang > jauh memprihatinkan dari Siti Nurhaliza (dan tak bisa > menyanyi). Dan dari segi ekonominya pun tergolong > pas-pasan, karena mereka kebanyakan tadinya berprofesi > sebagai pembantu rumah tangga, baby sitter, tukang > masak, dll. > > Kalau seorang Siti Nurhaliza dan yang senasib > dengannya masih juga mencari lelaki yang lebih kaya, > menurut saya, mereka tak ada beda dengan pelacur. > Walau mereka nampak terhormat, tapi mental mereka > mental pelacur. Begitu juga Datuk Khalid, walaupun > kedudukannya terpuji di mata Malaysia, tapi mentalnya > tetap mental hidung belang. > > Sebagai Penutup, walaupun saya kurang setuju dengan > keputusan yang diambil oleh "dik" Siti dan datuknya, > saya tetap berlaku sportif. Saya ucapkan semoga > pasangan Datuk K dan Siti boleh berkekalan > selama-lamanya Siti mampu bertahan. Dan sebagai > seorang lelaki, saya selalu berkeyakinan bahwa, > kesempatan kedua itu selalu ada, jadi. saya menunggu > jandanya sajalah! > > wassalam > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail. <http://mail.yahoo.com> yahoo.com > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
