Iya..bener..kalo namanya jodoh apa mau dikata..biasanya cuma orang sirik nih yang ngomong begini. dia mau jadi pelacur atau siapa pun kan ngga ada urusannya sama anda

Rahmad Setiadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
yg kaya gini nih,
Filsafatnye Orang Sial, Orang kalah,  ..
tipikal banget siy ?
kasihan deh lu !
 
One advise:
G.E.T.A.L.I.F.E !
 
 

From: [EMAIL PROTECTED]s.com [mailto:filsafat@yahoogroups.com] On Behalf Of emabdalah
Sent: Tuesday, September 05, 2006 3:21 PM
To: islamliberal4all@yahoogroups.com
Subject: [filsafat] Pernikahan dan Pelacuran
Pernikahan dan Pelacuran

Hati saya benar-benar hancur melihat kenyataan bahwa
Siti Nurhaliza akhirnya menikah dengan Datuk K. Dalam
hati saya berkata, teganya Siti menjual dirinya kepada
lelaki kaya hidung belang.

Pernikahan tsb membuktikan kebenaran sinyalemen saya
beberapa waktu lalu, bahwa wanita, sekaya apa pun dia,
akan tetap memilih lelaki yang lebih kaya darinya
sebagai suami. Dalam kasus ini, kurang apa lagi “mbak”
Siti, dari segi materi? Kenapa dia lebih suka memilih
lelaki, yang konon, sebetulnya adalah suami orang?

Seperti banyak dirumorkan media Malaysia dan media
jirannya, bahwa CT (Siti) lebih suka nemplok di
pelukan suami orang, daripada di pelukan lelaki yang
masih membujang. Karena kehadiran Siti di hati sang
Datuk lah, maka istri Datuk memilih cerai daripada
dimadu.

Kalau cuma suka pada lelaki beristri, kenapa sih,
bukan memilih saya atau anda saja? Ah, tentu saja
kehadiran saya tidak akan ada artinya bagi
berlangsungnya jaminan sosial sang diva. Financial
security, itulah alasan kebanyakan wanita menikah.
Sedangkan lelaki lebih suka menikah karena bakat
bawaan instink primitifnya yaitu, tertarik "barang"
bagus.

Lelaki berduit mana yang tak menginginkan wanita yang
mirip boneka barbie itu? Jangankan lelaki berduit,
lelaki yang tak berduit pun pasti berkhayal, malu-malu
atau tidak malu-malu, untuk menikah dengan penyanyi
bersuara emas itu. Apalagi karakternya yang anggun
dalam penampilan, sopan dalam bertutur kata, dan tidak
suka pamer aurat itu, pasti menambah hasrat setiap
pria untuk mendapatkan sorga dunia.

Walaupun saya tidak suka mendengar musik, tapi
sepintas saya dapat menilai bahwa si Siti Nurjazila
ini mempunyai bakat besar dalam menyanyi (betul apa
tak betul?). Dan yang saya kagumi juga, dia tak pernah
berpakaian ala barat di setiap kali penampilannya. Dia
tidak terpengaruh untuk ikut-ikutan menggunakan
pakaian yang seksi, minim atau ketat.

Berbeda jauh dengan para penyanyi wanita kita, yang
lebih suka memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya dengan
berpakaian ketat atau minim, dalam rangka mendongkrak
pendapatan belanja rumah tangga. Malah bukan rahasia
lagi kalau para penyanyi wanita yang sudah beristri
pun, rela meninggalkan suami dan anaknya berhari-hari
karena dibooking "manggung" oleh organisasi ini,
organisasi itu.

Di sini terlihat dengan jelas, bahwa berdasarkan salah
satu fenomena tsb, sebetulnya batas antara penyanyi
wanita (artis) dan pelacur sangatlah tipis. Boleh
dibilang tak ada batasnya, sebab keduanya sama-sama
menjajakan sex appeal yang mereka miliki, baik melalui
suara atau tubuh mereka.

Dengan sex appeal (daya tarik seksual) yang menjadi
andalan mereka berbisnis inilah, yang kemudian
mendasari mereka untuk memasang harga, baik ketika
show yang sebenarnya, atau show yang pakai tanda
kutip, "show". Lebih jauh lagi, dalam segala aspek,
harga tinggi tersebut kemudian berdampak pada
tingginya gengsi, sehingga segala sesuatunya, disebut
pantas atau tidak pantas, dengan nominal uang.

Contohnya dalam perkawinan yang dialami banyak kaum
selebritis, tak ada satu pun yang rela menikah dengan
orang miskin, atau katakanlah, dengan orang yang
standar ekonomi menengah. Dan penyakit masyarakat
tersebut ternyata juga bukan menjangkiti para
selebritis yang sering nongol di TV, orang-orang
kampung yang tidak pernah masuk berita pun, mematok
harga tinggi bagi anak gadisnya. Apalagi kalau sang
anak bertampang cantik atau mirip-mirip artis, maka
harga jualnya pun tentu lebih tinggi lagi.

Anda boleh saja protes, tapi hal ini benar adanya.
Banyak orangtua yang bertingkah seperti germo atau
bromocorah yang memasang tarif tinggi bagi siapa yang
hendak meminang anak gadisnya. Terkadang sang anak
gadis pun merasa dirinya cantik dan memang merasa
pantas dihargai dengan harga tinggi.

Jadilah di sini batas pelacuran dan pernikahan jadi
kabur. Dalam kedua event tsb, sang lelaki sebagai
konsumen, sama-sama harus mempunyai budjet yang banyak
untuk mendapatkan seorang wanita. (Berdasarkan
kenyataan ini, barangkali nanti, para “ulama” jaringan
islamliberal akan mengeluarkan fatwa bahwa melacur itu
halal karena, sama-sama mengeluarkan uang, seperti
laiknya pernikahan).

Kalau jiwa pelacur dan germo sudah menguasai, maka
segalanya harus serba wah, termasuk memilih calon
suami, seperti yang menimpa Siti Nurhalija. Sopan
santun dalam bertutur kata, elok dalam berpakaian,
hanyalah kamuflase untuk mendapatkan uang yang lebih
banyak dari lelaki hidung belang. Pengetahuan agamanya
hanya dijadikan umpan untuk menjaring konsumen yang
lebih banyak.

Menyinggung tipisnya batas pernikahan dan pelacuran,
berarti menyinggung sebuah kosa kata lain, yaitu
kebaikan yang diwakili polisi,lawan kejahatan yang
diwakili penjahat. Batas antara kebaikan dan kejahatan
hanyalah sebuah benang yang transparan.

Seorang polisi dan seorang penjahat sama saja
statusnya, sama-sama merugikan masyarakat. Penjahat
merugikan orang lain tanpa menggunakan institusi
resmi, sedangkan polisi, pejabat pemerintah, anggota
DPR/DPRD, hakekatnya adalah penjahat juga, sebab
mereka suka memakan uang rakyat dengan menjual hukum.

Bahkan ketika seorang terpidana harus masuk penjara
untuk bertobat, segala infra strukturnya tidak
mendukung sama sekali untuk bertobat. Seorang
terpidana, yang seharusnya segala nafsu kriminalnya
dibelenggu oleh aparat, masih bisa melakukan segala
bentuk criminal, baik sebagai bandar narkoba, atau
yang kecil-kecilan, jualan rokok.

Lebih edan lagi, dosa dan kejahatan itu juga menjadi
kewajiban bagi penjaga penjara, karena mereka
mewajibkan para pengunjung membayar sekian rupiah
untuk sekali bezuk. Jadi sebetulnya semua mata rantai
dalam penjara itu, baik polisi, hakim, yang terpidana,
sipirnya, ketua lapasnya, dan pengunjungnya sama-sama
tukang criminal.

Jadi seseorang masuk penjara bukanlah sebuah jaminan
akan terbebas dari menebus sebuah dosa, sebab dosa
yang lain sedang menanti.

Well, bagaimana pun juga kehidupan terus berjalan.
Pelacuran dan perkawinan tak akan pupus dari dunia,
selama para wanita cantik dan tidak cantik masih
merasa sebagai barang yang mahal. Polisi, pejabat,
anggota dewan dan penjahat tetap saja masih satu
derajat, selama mereka tidak menyadari betapa
berharganya secuil nasi tetangga yang tercecer di atas
meja.

Kembali ke soal perkawinan Siti Nurhaliza vs |Datuk K.
Sebagai seorang muslim yang baik, mustinya Datuk K
tidak hanya sekedar melegitimasi perkawinan untuk
melampiaskan nafsunya. Sebagai anggota dari umatan
wasatan, mustinya Datuk K, dan juga kita, dalam hal
perkawinan mempunyai sebuah misi, baik itu misi
sosial, ekonomi maupun pendidikan.

Bukan hanya sharing, maaf, alat kelamin, dengan
bayaran yang mahal, tapi juga musti sharing
harta-benda dan intelektual. Dengan kata lain,
mustinya seorang yang kaya menikah dengan seorang yang
miskin. Orang pandai menikah dengan orang yang kurang
pandai. Seorang ahli agama mustinya kawin dengan
seorang yang buta agama. Dengan demikian terjadi
sharing ekonomi, sosial dan intelektual.

Kalau seorang kaya kawin dengan orang kaya, orang
miskin musti kawin dengan orang miskin, ustadz kawin
dengan ustadzah, menurut saya mereka bukan termasuk
orang-orang yang beruntung, dan tidak mengerti makna
visi dan misi beragama.

Dalam hal ini saya salut dengan orang-orang Singapura
yang mau menikahi para janda miskin dari bangsa
Indonesia. Padahal para janda itu rata-rata bertampang
jauh memprihatinkan dari Siti Nurhaliza (dan tak bisa
menyanyi). Dan dari segi ekonominya pun tergolong
pas-pasan, karena mereka kebanyakan tadinya berprofesi
sebagai pembantu rumah tangga, baby sitter, tukang
masak, dll.

Kalau seorang Siti Nurhaliza dan yang senasib
dengannya masih juga mencari lelaki yang lebih kaya,
menurut saya, mereka tak ada beda dengan pelacur.
Walau mereka nampak terhormat, tapi mental mereka
mental pelacur. Begitu juga Datuk Khalid, walaupun
kedudukannya terpuji di mata Malaysia, tapi mentalnya
tetap mental hidung belang.

Sebagai Penutup, walaupun saya kurang setuju dengan
keputusan yang diambil oleh “dik” Siti dan datuknya,
saya tetap berlaku sportif. Saya ucapkan semoga
pasangan Datuk K dan Siti boleh berkekalan
selama-lamanya Siti mampu bertahan. Dan sebagai
seorang lelaki, saya selalu berkeyakinan bahwa,
kesempatan kedua itu selalu ada, jadi… saya menunggu
jandanya sajalah!

wassalam

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



Ika Dinayanti
GSM +6281348510953


All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster. __._,_.___

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************





SPONSORED LINKS
Philosophy Philosophy of Philosophy book
Citizens of humanity Citizens of humanity jeans

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke