Setelah telepon itu saya terpaksa berpikir, mengilmiahkan suatu keheranan.
 
Karena mungkin pengertian-pengertian personal mengenai personal, seperti 
bingung, galau, stress, trauma, plin-plan dlsbnya, bisa saja kita artikan 
melalui sesuatu yang generalis. Namun demikian setelah kita selidiki secara 
khusus personal, nilai generalis tersebut bisa saja tidak dapat dipertahankan. 
Karena pada suatu waktu, dalam proses perkenalannya kondisi personal seperti 
bingung bisa saja mengalami perubahan, drastis atau tidak pada intinya suatu 
eskalasi atau bukan, dan untuk mendapatkan ketepatan memang perlu diteliti 
sifat inti yang essensial dari eskalasi tersebut. 
            Dengan demikian bolehlah saya katakan bahwa setiap wujud personal- 
sejauh menyangkut essensinya- dapat saja muncul pada suatu tempat lain dan 
dalam bentuk atau cita rasa lain, bahwa kita bisa dan boleh saja berubah atas 
suatu cara lain, yaitu lain dari cara yang sekarang dialami secara faktual. 
Sifat, wujud, cita rasa, bagi perubahan-perubahan yang mungkin secara apriori 
memang tidak terbatas. Tidaklah mungkin untuk menyatakan, pada 
perubahan-perubahan yang mana suatu wujud personal masih tetap wujud yang sama. 
Fenomena, atau kesan yang berhasil kita tangkap, yang dari beberapa sudut 
pandangan berbeda secara essensial, dapat saja merupakan fenomena atau kesan 
yang sama apabila dilihat dari sudut pandang yang lain. Bukankah demikian 
sihibitku? 
Konsisten dalam inkonsistensi, adalah juga sebuah kepribadian yang mutlak 
fleksibel. Aduh plin-plannya saya...



----- Original Message ----
From: non_sisca <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 20, 2007 2:22:59 AM
Subject: [filsafat] SEANDAINYA SAJA



Yang menjadi masalah dengan kata "seandainya saja", adalah kata 
tersebut tidak akan mengubah apapun juga. 

Baiklah. 

Setiap orang pasti berbuat kesalahan. 
Kesalahan dimana sebenarnya kita bisa mempelajari sesuatu darinya. 

Yang perlu dilakukan adalah keluar dari masa lalu. 

Hapus dan ganti dengan frase "lain kali". 
Ketika berkata 'lain kali', kita sedang dalam perjalanan untuk 
menyelesaikan masalahnya. 
Meskipun menyedihkan atau menyakitkan, namun itu berarti 
menyingkirkan halangan penyesalan, bergerak maju, bertindak, dan 
melanjutkan hidup. 

Seandainya saja. 
Seandainya saja. 
Saat itulah kata2 itu menjadi kata2 yang paling menyedihkan dari 
antara semua kata2. 

Bergerak maju. 
Bertindak. 
Melanjutkan hidup.

Lain kali saya akan berlari lebih cepat. 

Lalu menunggu saat dimana kemudian terdengar suatu bunyi 'klik' 
secara mental. 

Itu dia ! 
Seperti itulah tepatnya !

Dan tentu saja kemudian menutupnya dengan kalimat "kata2 sekaligus 
perbuatan" --nya Ludwig Wittgenstein. 

Dalam hal ini aku ingin mengucapkan kata2 "Oh, biarkan dia datang !" 
yang dipenuhi oleh keinginan2ku. Dan kata2 bisa terperas dari kita -- 
seperti tangisan. 





      
____________________________________________________________________________________
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!   
http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7 

Kirim email ke