Kalau menurut saya, begini : Ada nubuat,
Dia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja, atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi Ia akan menghakimi orang lemah dengan adil, Ia akan menjatuhkan keputusan terhadap orang yang tertindas, dengan jujur. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan. Alkisah, suatu ketika Tuhan berjalan2 di bumi, menyamar sebagai seorang gelandangan tua. Dia berjalan melewati ladang2 di mana kelompok2 orang sedang bekerja, dan memutuskan untuk bersenda gurau dengan mereka. Ia memakai topi yang pada satu sisinya berwarna merah, di sisi lainnya berwarna putih, di depannya berwarna hijau, dan di belakangnya berwarna hitam. Pada malam hari dalam perjalanan pulang, orang2 tersebut berbicara tentang orang tua yang ditemui mereka tadi siang. "Apakah kau melihat orang tua tadi bertopi putih berjalan melewati ladang ?" Yang lain menjawab, "Bukan, topinya berwarna merah." "Jangan begitu," kata yang pertama lagi, "jelas2 putih." "Bukan." Sanggah yang kedua, "Saya melihatnya sendiri dengan kedua mata saya dan topi itu berwarna merah." "Kamu pasti buta !" Kata yang pertama. "Tidak ada masalah dengan mata saya," kata yang kedua, "pasti kamu ! Kamu pasti mabuk!" "Kalian berdua buta," sambung yang ketiga, "Orang itu memakai topi hijau." "Ada apa dengan kalian ini ?" kata yang keempat, "Topinya berwarna hitam dan semua orang bisa melihat itu. Kalian pasti setengah tertidur ketika ia melewati kita. Betapa bodohnya kalian." Perseteruan di antara mereka terus terjadi hingga tanpa disadari kelompok pertemanan mereka menjadi permusuhan. Masing2 kubu bersikukuh dengan apa yang mereka lihat, tidak terbantahkan. Sekarang ini, Tuhan masih berjalan2 di ladang dalam penyamaran tapi sedihnya sekarang para pembenci tersebut terlalu sibuk mempertahankan argumentasi masing2 sehingga tidak memperhatikan lagi. Sehingga kata pepatah manusia, rindu ini siapa yang tahu. Selama berseteru, maka mana yang benar tidak akan menyatakan dirinya. Lebih tepat bila masing2 mencoba hidup sesuai dengan tuntutan dari yang sejati, membuktikan diri dari peri hidup sehari2. Dan kelak akan ada seorang hakim yang memutuskan perkaranya. Salam, sisc --- In [email protected], "temon_brangti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kenapa manusia senang menyimak kisah ? > Kitab suci, majalah, buku, televisi, internet, semua perangkat manusia > selalu menampilkan kisah. > > Suatu saat seorang penulis mematikan tokoh dalam tulisan yang > dibuatnya. Lalu temannya bertanya "Apa kamu benci dengan tokoh itu > samapi kau buat mati" Si penulis memandang penanya dengan tatapan > mempertanyakan pertanyaan aneh itu. > > Penulis berhak mematikan atau menghidupkan tokoh yang ditulisnya, tapi > di saat yang sama, penulis pun kadang tak tahu kenapa tokoh-tokoh > dalam tulisannya harus hidup dan mati. Kadang, tokoh-tokoh itu menjadi > begitu hidup sehingga sang penulislah yang kemudian diatur oleh tokoh- > tokoh yang diciptakan nya sendiri. > > Seperti apakah perasaan Tuhan saat ini, ketika kita yang diciptakannya > saling mempertanyakan dan mencari-Nya ? > > Rindukah Dia ? > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
