Iblis adalah mahluk. wajahnya kaya apa, hingga kini tidak ada yang tahu. Biasa jadi rupanya mirip kita, bisa jadi mirip UFO, bisa jadi mirip mahluk bertanduk. semua bisa jadi. Namun yang pasti, hingga kini wajahnya hanya persepsi spasial kita, alias kita benar tidak tahu.
menurut cerita kitab suci, iblis menolak tunduk sama Adam hanya karena dia asalnya tanah. smentara dia dari api. merasa lebih tinggi. hingga menolak perintah Tuhan. Ada dua pelajaran di sini. adalah penegasan akan ketunggalan Tuhan, "Tiada yang patut disembah..." dan penyekutuan, "Saya kurang lebih sama dengan anda Tuhan", yang bertentangan doktrin dasar, "Tuhan tidak bisa disekutukan dengan mahluk". jadi menurut saya, penolah iblis itu tidak salah, yang salah adalah penyekutuan (kesombongan) padahal sifat sombong adalah hanya milik Tuhan. makanya kita tiak dibenarkan sombong alias dosa, kurang lebih sama dengan iblis... ----- Original Message ----- From: temon_brangti To: [email protected] Sent: Friday, November 30, 2007 12:27 PM Subject: [filsafat] Cinta Sang Iblis Bismilahirrahmanirrahim, Iblis.... Serupa mahluk, seperti apakah dia? Mungkin ia buruk rupa, atau bengis tak kenal ampun, tapi kalau aku boleh jujur terhadapnya, aku akan katakan bahwa aku sangat kasihan padanya. Bagaimana tidak ? Tiada mahluk semalang Iblis. Ia lahir dengan cinta dan menyembah atas dasar cinta. Baginya Tuhan adalah satu dan hanya padanya ia menundukan kepalanya. Iblis mencitai Tuhan....Cintanya luar biasa sekali. Gegabahkah aku dengan berkesimpulan seperti itu? Mungkin memang gegabah, tapi aku mengatakannya dengan alasanku sendiri. Seseorang yang tak peduli tak akan menghabiskan hidupnya hanya untuk satu tujuan, sementara Iblis hanya punya satu tujuan ...menyesatkan manusia. Memang betul dalam hal ini, dia adalah musuh mausia, tapi dalam hal kecintaan pada Allah, yang ia coba jauhkan dari manusia, Maka tak ada manusia yang bisa menandinginya. Hanya Iblis yang menolak tunduk pada selain Allah disaat semua malaikat tunduk pada adam. Memang betul itu bukti kesombongan, tapi tak dapat disangkal bahwa itupun bukti kecintaan dan loyalitas seorang hamba pada Tuannya. Hanya saja, betapa bodohnya Ia yang tak menyadari cerminan Tuhan dalam wujud mahluknya, Iblis, termasuk yang terjebak dalam kebodohan itu. Betapa akan lebih mudah bagi Iblis untuk menyetujui saja keputusan Allah ketika berkata "pergilah kau ke neraka...sesungguhnya kau telah dikutuk", tapi ia malah meminta tangguh hanya untuk mengajak manusia besertanya. Kebencian Iblis begitu mendarahdaging pada manusia, sehingga ia rela tersiksa seumur dunia hanya untuk melihat manusia, mahluk yang telah merebut hati kekasihnya, tersiksa bersama dirinya di neraka. Dalam hal kebencian sangat pantas bila Iblis menjadi musuh manusia, tapi dalam hal kecintaan sungguh manusia tiada apa-apanya. Manusia mencintai dan mengabdi karena iming-iming surga sementara Iblis tetap pada kecintaannya walau neraka dihadapkan padanya. Cinta mana yang sanggup melakukan hal seperti itu ? Pada detik-detik kematiannya Al-Hallaj sempat mengatakan bahwa cinta itu membakar atau dibakar. Orang yang sanggup memaparkan cinta sebetulnya belum sampai pada Cinta. Cinta adalah api yang melumatkan serangga yang mendekatinya. Serangga itu bukan tidak menyadari panasnya api , tapi terangnya begitu memabukkan. Orang yang tiba di gelombang Cinta Gagap hendak menjelaskannya Kalau merasa sebagai hamba Wujud menjadi dua Kalau merasa sebagai Tuhan Ia tersekutukan (Suluk Syeh madekur 27)
