Bento

 
   -- sebuah cerita untuk MUI

 
   Bento dilaknat dan dicampakkan ketika ia baru berumur 24. Hari itu, 27 Juli 
1656, majelis para rabbi di Sinagoga Amsterdam memaklumkan bahwa anak muda itu, 
yang pernah jadi murid yang pandai dalam pendidikan agama, dibuang dari 
kalangan Yahudi, dari “bangsa Israel”, karena pendapat dan perbuatannya yang 
dianggap keji.

 
   Pengumuman hukuman itu dibacakan dengan angker. Dari mimbar kata demi kata 
dilafalkan, seraya terompet besar yang meratap menyela sesekali. Sinagoga yang 
terang itu pelan-pelan suram. Lampu satu demi satu dimatikan, sampai akhirnya 
semuanya padam dan ruang jadi gelap: lambang kematian cahaya rohani dalam diri 
orang yang dikutuk. 

 
   “Terkutuklah ia di hari siang dan terkutuklah ia di hari malam. Terkutuklah 
ia ketika ia berbaring dan terkutuklah ia ketika ia bangun. Terkutuklah ia bila 
ia ke luar dan terkutuklah ia bila masuk.” Dan kalimat terakhir keputusan para 
sesepuh Dewan Eklesiastik itu berbunyi: “…Tuhan akan mencoret namanya dari 
kehidupan di bawah Langit.”

 
   Kalimat itu garang, tentu, tapi keliru. Berkali-kali sejarah mencatat, 
dengan keputusan seperti itu para pembesar agama menunjukkan 
keangkaramurkaannya dan juga kekonyolannya. Sejak itu Bento memang mulai harus 
hidup terasing dari sanak saudaranya sendiri. Tapi ia tak mau takluk. Ia 
meninggalkan usaha ayahnya yang pernah ia teruskan dan berhasil. Menumpang sewa 
dari rumah ke rumah di daerah murah, nafkahnya datang dari menatah lensa buat 
teleskop dan mikroskop. Ia mati sebelum umur 45 dan hanya meninggalkan dua 
pasang celana dan tujuh lembar kemeja. Tapi ia, Bento, nama panggilan Portugis 
bagi Baruch de Espinoza, atau Spinoza pemikir yang menulis Tractacus 
Theologico-Politicus, tak pernah tercoret dari muka bumi. Kutukan itu gagal. 

 
   Aneh, (tapi mungkin tidak) para ulama Yahudi Amsterdam itu mengambil 
keputusan sekeras itu. Mereka sendiri berasal dari para pengungsi Spanyol dan 
Portugal, tempat Gereja Katolik dengan lembaga Inkuisisinya membakar orang yang 
dianggap murtad hidup-hidup, tempat raja dan gereja memaksa orang Yahudi dan 
muslim memeluk iman Kristen. Pada suatu hari di tahun 1506, di Lisabon, 20.000 
anak dipaksa dibaptis, sementara 2.000 orang Yahudi dibantai. 

 
   Tapi toh para tetua Yahudi di Amsterdam itu, yang punya kakek-nenek yang 
lari dari aniaya di Semenanjung Iberia, menunjukkan sikap tak toleran yang sama 
terhadap Spinoza, meskipun tak sekejam membakar orang di api unggun.

 
   Mungkin ada dalam agama-agama Ibrahimi yang membuat iman seperti gembok: 
kita hidup dalam bilik yang tertutup dan terpisah. Di situ Tuhan pencemburu 
yang tak tenteram hati. 

 
   Tentu saja bagi pandangan macam itu suara Spinozayang diejek sebagai espinas 
(“duri-duri”)bisa sangat mengganggu. Ia dianggap atheis.

 
   Spinoza akan membantah itu. Ia percaya Tuhan adadan tak hanya itu. Novalis 
bahkan menganggap Spinoza “orang yang gandrung-akan-Tuhan”. Tapi Tuhan baginya 
tak mengadili dan mempidana orang per orang. “Tuhan tak memberikan hukum kepada 
manusia untuk menghadiahi mereka bila patuh dan menghukum mereka bila 
melanggar,” tulis Spinoza. Tuhan bukan person. Sebagaimana Ia tak bisa 
diwujudkan dalam arca, Ia tak bisa dibayangkan secara antroposentris. Siapa 
yang memandang Tuhan dengan memakai sifat dan fiil manusia sebagai model 
akhirnya membuat iman jadi absurd: bagaimana Tuhan cemburu dan menuntut 
dipatuhi bila Ia mahakuasa? 

 
   Bagi Spinoza, Tuhan itu “substansi”. Substansi itu mengambil “modus”, dan 
Tuhan mengambil modus sebagai Natura naturans, Alam kreatif yang membuahkan 
“alam yang di-alam-kan”, Natura naturata. Ada kesatuan ontologis antara Tuhan 
dan ciptaannya.

 
   Tapi dengan demikian Tuhan bagi Spinoza bukanlah Tuhan yang akan mencintai, 
atau membenci, atau membuat mukjizat. Pada saat yang sama, Tuhan ada di 
mana-mana, dalam segala yang ada.  
     

   Suara Spinoza tak akan diberangus seandainya ia hidup di zaman lain. Tapi 
seperti dikisahkan dengan mengasyikkan oleh Matthew Stewart dalam The Courtier 
and the Heretic, tentang pertemuan dan konflik pemikiran Leibnitz dan Spinoza, 
Tuhan adalah “nama persoalan abad ke-17”. 

 
   Waktu itu Gereja telah dijatuhkan monopolinya oleh banyak aliran 
protestanisme; ilmu pengetahuan mulai mengguncang Kitab Suci; ekonomi dan 
politik mulai bebas dari intervensi lembaga agama. 

 
   Ada kebebasan berpikir, tapi juga rasa cemas menghadapi kebebasan. Spinoza 
sejenak merasakan kemerdekaan justru ketika ia dikeluarkan dari jemaat 
Yahudidan bersyukur ia hidup di negeri yang tak akan membinasakan orang 
“murtad”. Namun pada akhirnya ia tahu: tak akan ada rasa aman begitu ia jadi 
duri bagi iman orang ramai.

 
   Pada suatu hari seorang fanatik mencoba menusuknya dengan belati. Ia 
selamat. Tapi ia tahu ia harus berhati-hati. Ia, yang tinggal menumpang di 
Rhinsburg, dekat Leiden, dan di Den Haag, praktis menghabiskan waktunya menulis 
di kamarnya sambil tak henti-hentinya merokokdan menyelesaikan beberapa buku. 
Tapi selama 10 tahun Spinoza tak berusaha menerbitkannya. Seorang penerbit yang 
mencetak pendapat yang dianggap berbahaya bagi iman telah dipenjarakan 10 
tahun. Di tahun 1675, ketika Spinoza ke Amsterdam untuk mencetak satu karyanya, 
ia dengar desas-desus tersebar di kalangan para pakar theologi Kristen bahwa 
buku itu berusaha membuktikan Tuhan tak ada. Spinoza pun membatalkan niatnya. 

 
   Baru setelah ia meninggal karyanya yang penting, Ethica, terbit di tahun 
1677. Sementara itu Tractacus-Theologico-Politicus yang terbit di tahun 1670, 
ketika ia masih hidup, muncul dengan tanpa namadan segera masuk buku terlarang.

 
   Tak mengherankan, bila sejalan dengan pikirannya tentang Tuhan yang terpaut 
erat dengan manusia dan semestaartinya Tuhan tak bisa digambarkan sebagai raja 
yang bertakhtaSpinoza menganggap kekuasaan politik para ulama dan pendeta harus 
ditiadakan. Iman yang tulus hanya tumbuh dalam kebebasandan justru pada kisah 
Bento yang diusir, kita tahu Spinoza benar.

 
   Goenawan Mohamad  
   (Majalah Tempo, 14 Januari 2008)

Mohamad Guntur Romli
Jl Utan Kayu No 68H, Jakarta
[EMAIL PROTECTED]
http://guntur.name/
       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke