Saya bukan Guntur, namun mohon izinkan untuk menyampaikan pendapat, yang mungkin disetujui, mungkin pula tidak, tidak masalah, karena masing2 punya kebebasan utk berpendapat
Tuhan adalah kepercayaan,Pemahaman akan Tuhan adalah lewat agama. Syarat yang diperlukan adalah "percaya" Tentu tidak semua orang memiliki kepercayaan yang sama, dan selama rasa respek/toleransi antar agama ada, maka dunia aman tenteram, dan masing2 menjadi lebih baik lewat agama atau kepercayaan masing2. Karena sifatnya percaya/yakin, maka segala apa yang diajarkan agama adalah absolut dan sakral, apapun agamanya atau kepercayaannya Disinilah mulai ada diskrepansi, karena masing2 agama menganggap paling benar, dan diluar itu adalah berhala, kafir ataupun salah Siapa yang benar, secara obyektif susah dicari tahu, bahkan bisa menimbulkan perpecahan/pertumpahan darah. Karena itu agama baik jika ditujukan utk keyakinan diri sendiri dan bukan utk org lain. Jika diri sendiri baik menurut pandangan orang, baru org lain akan mengadopsi keyakinannya, buat apa beragama kalau malah menyusahkan orang lain. Sayangnya agama sering dijadikan alat politik utk kekuasaan tanpa disadari penganutnya Kenyataan yang ada setiap timbul kepercayaan baru, maka ada resistansi dari existing kepercayaan, apalagi kalau mayoritas Dari agama Samawi sendiri, pada aliran Yahudi timbul kepercayaan yg berlainan dari Musa, Daud sampai Jesus maupun Islam, masing2 mengambil sebagian dari agama asal. Bila kepercayaan baru itu berkembang, maka sipengajar awal akan menjadi nabi, bila tidak maka akan dihujat. Filsafat adalah buah pikiran dari orang2 yang mencoba memahami hakekat hidup manusia, berasal dari mana dan menuju kemana serta bagaimana. Filsafat bermula dari pandangan anthroposentris, manusia. Yunani lebih kearah kosmologis sbg induk, dan pd abad pertengahan induk pemikiran berpusat pada agama.Yg menyalahi akan bertemu maut. Lalu disambung dengan masa pembentukan subyektivitas "aku" sbg pusat pemikiran, perasaan, kehendak&tindakan. Baru setelah zaman Barok, manusia mulai menggunakan akal, Descartes yg semboyannya aku berpikir maka aku ada, Spinoza dan Leibniz, hanya Pascal yang agak anti rasional dan menggunakan 'hati'. Berdasar itu maka mulai abad 18 timbul gabungan pemikiran itu menjadi zaman Fajarbudi/Enlightment atau Aufklärung. Spinoza mengarang buku Tractatus theologia politicus, filsafatnya adalah gabungan dari rasionalism dan mistik (pemikiran ttg Tuhan) Asal pemikirannya dari org2 Arab dan Yahudi, penggali Pantheisme, yg menganggap Tuhan bukan dari eksistensinya, namun dari peranannya pada alam Allah dan alam adalah satu substansi.Allah adalah aturan2 yg ada pada kosmos Amor Dei = amor fati. Paham ini jadi dasar dari pemikiran filsafat Hegel, salah satunya. Disini juga Spinoza menolak Kitab suci yg hanya dijadikan pembenaran politik dari kaum konservatif. Dalam buku berikutnya "Ethica,ordine geometrico demonstratea" (Etika dalam tolok ukur) Spinoza mencoba memikirkan bgmn manusia bisa bahagia, selalu diawali dengan axioma2 lalu dalil2 dan bukti penerapannya, namun hakekatnya kebahagiaan adalah kebebasan. Bebas dari emosional, bila manusia mengerti tujuannya dan memiliki 3 macam pengetahuan, pengetahuan melalui panca indra, melalui akal budi dan intuisi. Ada lagi sebuah pengetahuan yaitu kontemplasi, yaitu pengetahuan keseluruhan dari ketiganya, disini manusia mendapatkan kebahagiaan antara pengertian, cinta kepada Allah dan kebebasan. Ada buku ketiga Spinoza, yaitu Tractatus politicus. Sewaktu zamannya tentu Spinoza mendapat tentangan2 keras, namun akhirnya diterima, bahkan banyak filsuf2 yg mengadopsinya, dari Hegel, Schilling sampai Bertrand Russel. Salam Kusnady Dharmawan --- In [email protected], qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Maaf nih Numpang komentar bung guntur... > > hebat ya spinoza mendeifisikan apa itu tuhan lewat akalnya dia > sendiri...trus dia buat paham teologi baru menyelisihi paham tuhan > agama yahudi...hehe nanti semua orang juga bisa buat konsep dewe2 > tentang apa itu tuhan...toh tuhan itu masuk akal dan akal itu barang > kali sudah dipertuhankan... > > Tapi untuk lebih jelasnya > maaf nih bung guntur boleh tanya ga? > > Bung guntur siapa yang berhak mendefinisikan sifat dan nama2 tuhan? > > apakah manusia dan imajinasinya tentang tuhan? > > Apa sih sumber penetapan nama dan sifat2 tuhan menurut bung guntur? > > Apakah agama menurut bung guntur merupakan buah akalbudi manusia? > > Apakah nabi merupakan pemikir dan filosof? > > Apakah agama hanyalah sebuah produk pemikiran akal manusia? > > Apakah hukum halal dan haram merupakan produk akal manusia? > > jawab diforum donk... > mohon maaf jika ada salah kata.. > trimakasih > > --- In [email protected], Mohamad Guntur Romli <indunisi@> > wrote: > > > > > > Bento > > > > > > -- sebuah cerita untuk MUI > > > > > > Bento dilaknat dan dicampakkan ketika ia baru berumur 24. Hari > itu, 27 Juli 1656, majelis para rabbi di Sinagoga Amsterdam > memaklumkan bahwa anak muda itu, yang pernah jadi murid yang pandai > dalam pendidikan agama, dibuang dari kalangan Yahudi, dari "bangsa > Israel", karena pendapat dan perbuatannya yang dianggap keji. > > > > > > Pengumuman hukuman itu dibacakan dengan angker. Dari mimbar kata > demi kata dilafalkan, seraya terompet besar yang meratap menyela > sesekali. Sinagoga yang terang itu pelan-pelan suram. Lampu satu demi > satu dimatikan, sampai akhirnya semuanya padam dan ruang jadi gelap: > lambang kematian cahaya rohani dalam diri orang yang dikutuk. > > > > > > "Terkutuklah ia di hari siang dan terkutuklah ia di hari malam. > Terkutuklah ia ketika ia berbaring dan terkutuklah ia ketika ia > bangun. Terkutuklah ia bila ia ke luar dan terkutuklah ia bila masuk." > Dan kalimat terakhir keputusan para sesepuh Dewan Eklesiastik itu > berbunyi: " Tuhan akan mencoret namanya dari kehidupan di bawah > Langit." > > > > > > Kalimat itu garang, tentu, tapi keliru. Berkali-kali sejarah > mencatat, dengan keputusan seperti itu para pembesar agama > menunjukkan keangkaramurkaannya dan juga kekonyolannya. Sejak itu > Bento memang mulai harus hidup terasing dari sanak saudaranya sendiri. > Tapi ia tak mau takluk. Ia meninggalkan usaha ayahnya yang pernah ia > teruskan dan berhasil. Menumpang sewa dari rumah ke rumah di daerah > murah, nafkahnya datang dari menatah lensa buat teleskop dan > mikroskop. Ia mati sebelum umur 45 dan hanya meninggalkan dua pasang > celana dan tujuh lembar kemeja. Tapi ia, Bento, nama panggilan > Portugis bagi Baruch de Espinoza, atau Spinoza pemikir yang menulis > Tractacus Theologico-Politicus, tak pernah tercoret dari muka bumi. > Kutukan itu gagal. > > > > > > Aneh, (tapi mungkin tidak) para ulama Yahudi Amsterdam itu > mengambil keputusan sekeras itu. Mereka sendiri berasal dari para > pengungsi Spanyol dan Portugal, tempat Gereja Katolik dengan lembaga > Inkuisisinya membakar orang yang dianggap murtad hidup-hidup, tempat > raja dan gereja memaksa orang Yahudi dan muslim memeluk iman Kristen. > Pada suatu hari di tahun 1506, di Lisabon, 20.000 anak dipaksa > dibaptis, sementara 2.000 orang Yahudi dibantai. > > > > > > Tapi toh para tetua Yahudi di Amsterdam itu, yang punya kakek- > nenek yang lari dari aniaya di Semenanjung Iberia, menunjukkan sikap > tak toleran yang sama terhadap Spinoza, meskipun tak sekejam membakar > orang di api unggun. > > > > > > Mungkin ada dalam agama-agama Ibrahimi yang membuat iman seperti > gembok: kita hidup dalam bilik yang tertutup dan terpisah. Di situ > Tuhan pencemburu yang tak tenteram hati. > > > > > > Tentu saja bagi pandangan macam itu suara Spinozayang diejek > sebagai espinas ("duri-duri")bisa sangat mengganggu. Ia dianggap > atheis. > > > > > > Spinoza akan membantah itu. Ia percaya Tuhan adadan tak hanya > itu. Novalis bahkan menganggap Spinoza "orang yang gandrung-akan- Tuhan > ". Tapi Tuhan baginya tak mengadili dan mempidana orang per orang. " > Tuhan tak memberikan hukum kepada manusia untuk menghadiahi mereka > bila patuh dan menghukum mereka bila melanggar," tulis Spinoza. Tuhan > bukan person. Sebagaimana Ia tak bisa diwujudkan dalam arca, Ia tak > bisa dibayangkan secara antroposentris. Siapa yang memandang Tuhan > dengan memakai sifat dan fiil manusia sebagai model akhirnya membuat > iman jadi absurd: bagaimana Tuhan cemburu dan menuntut dipatuhi bila > Ia mahakuasa? > > > > > > Bagi Spinoza, Tuhan itu "substansi". Substansi itu mengambil " > modus", dan Tuhan mengambil modus sebagai Natura naturans, Alam > kreatif yang membuahkan "alam yang di-alam-kan", Natura naturata. Ada > kesatuan ontologis antara Tuhan dan ciptaannya. > > > > > > Tapi dengan demikian Tuhan bagi Spinoza bukanlah Tuhan yang akan > mencintai, atau membenci, atau membuat mukjizat. Pada saat yang sama, > Tuhan ada di mana-mana, dalam segala yang ada. > > > > > > Suara Spinoza tak akan diberangus seandainya ia hidup di zaman > lain. Tapi seperti dikisahkan dengan mengasyikkan oleh Matthew > Stewart dalam The Courtier and the Heretic, tentang pertemuan dan > konflik pemikiran Leibnitz dan Spinoza, Tuhan adalah "nama persoalan > abad ke-17". > > > > > > Waktu itu Gereja telah dijatuhkan monopolinya oleh banyak aliran > protestanisme; ilmu pengetahuan mulai mengguncang Kitab Suci; ekonomi > dan politik mulai bebas dari intervensi lembaga agama. > > > > > > Ada kebebasan berpikir, tapi juga rasa cemas menghadapi > kebebasan. Spinoza sejenak merasakan kemerdekaan justru ketika ia > dikeluarkan dari jemaat Yahudidan bersyukur ia hidup di negeri yang > tak akan membinasakan orang "murtad". Namun pada akhirnya ia tahu: > tak akan ada rasa aman begitu ia jadi duri bagi iman orang ramai. > > > > > > Pada suatu hari seorang fanatik mencoba menusuknya dengan belati. > Ia selamat. Tapi ia tahu ia harus berhati-hati. Ia, yang tinggal > menumpang di Rhinsburg, dekat Leiden, dan di Den Haag, praktis > menghabiskan waktunya menulis di kamarnya sambil tak henti-hentinya > merokokdan menyelesaikan beberapa buku. Tapi selama 10 tahun Spinoza > tak berusaha menerbitkannya. Seorang penerbit yang mencetak pendapat > yang dianggap berbahaya bagi iman telah dipenjarakan 10 tahun. Di > tahun 1675, ketika Spinoza ke Amsterdam untuk mencetak satu karyanya, > ia dengar desas-desus tersebar di kalangan para pakar theologi > Kristen bahwa buku itu berusaha membuktikan Tuhan tak ada. Spinoza > pun membatalkan niatnya. > > > > > > Baru setelah ia meninggal karyanya yang penting, Ethica, terbit > di tahun 1677. Sementara itu Tractacus-Theologico-Politicus yang > terbit di tahun 1670, ketika ia masih hidup, muncul dengan tanpa > namadan segera masuk buku terlarang. > > > > > > Tak mengherankan, bila sejalan dengan pikirannya tentang Tuhan > yang terpaut erat dengan manusia dan semestaartinya Tuhan tak bisa > digambarkan sebagai raja yang bertakhtaSpinoza menganggap kekuasaan > politik para ulama dan pendeta harus ditiadakan. Iman yang tulus > hanya tumbuh dalam kebebasandan justru pada kisah Bento yang diusir, > kita tahu Spinoza benar. > > > > > > Goenawan Mohamad > > (Majalah Tempo, 14 Januari 2008) > > > > Mohamad Guntur Romli > > Jl Utan Kayu No 68H, Jakarta > > mohamad@ > > http://guntur.name/ > > > > --------------------------------- > > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > > > ****************************************************** Milis Filsafat Posting : [email protected] Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ Website : http://filsafatkita.f2g.net/ Berhenti : [EMAIL PROTECTED] ****************************************************** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
