Itulah paradigma Cartesian-Newtonian, kalau tidak mau menyebutnya 
phobia-positivism bagi anda, walaupun telah sukses meningkatkan kesejahteraan 
material umat manusia, namun akhirnya menggiring umat manusia ke dalam kubangan 
krisis multidimensional dalam kehidupannya, seperti penghancuran masal oleh 
militer akibat penggunaan senjata nuklir, kimia, biologi militer; kerusakan 
lingkungan hidup oleh polusi, degradasi, exploitation-depletion (eksploitasi 
sampai habis menipisnya Sumber Daya Alam); fragmentasi sosial yang disebabkan 
oleh industrialisasi, urbanisasi, fragmentasi & konflik sosial akut, 
keterasingan psikologis manusia dari hal yang alami, sosial dan tenikal.

saya menawarkan kecelakaan logika anda dengan konsep ‘Irfan (gnosis). Konsep 
Irfan adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera 
maupun pengalaman (positivisme-empirisme & eksperimentasi), tidak pula melalui 
rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani dan 
penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi suatu 
proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan tersebut 
antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat iluminasi 
(Isyraqiyah). Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan karena 
penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan ruhaniyah 
(riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair wa suluk) 
maka yang terakhir ini disebut Irfan ‘Amali (praktik Sufisme/Tashawwuf). inilah 
konsep yang tawarkan sebagai jembatan antara penalaran akal dan wahyu, yang 
memang membatasi akal sekaligus memungkinkan
 penalaran yang tak terbatas dalam dimensi prespektif yang berbeda.

gimana bung....


----- Pesan Asli ----
Dari: qalam26 <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 18 Januari, 2008 2:02:59
Topik: [filsafat] Meanggungkan AKAL Merendahkan WAHYU

Manusia kerap kali meninggikan akalnya dan merendahkan wahyu dengan 
akalnya. padahal akal merupakan bagian dari ciptaan tuhan yang 
menurunkan wahyu tersebut. Dengan akalnya manusia menolak wahyu dan 
menggelarinya dengan kata wahyu tidak lagi relevan dengan zaman.
sehingga ia lebih berpihak pada hukum yang dibuat oleh akalnya dan 
para pemikir barat dalam menentukan HALAL-HARAM, BAIK dan BURUK. 
sehingga tak pelak lagi mereka menghalalkan apa yang diharamkan alloh 
dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh alloh. 

ITULAH NAMANYA ORANG YANG MEMPERTUHAKAN AKALNYA





      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke