Salam kenal bung Muhammad Friss,
 
saya ingin mengerti lebih dalam tentang irfan, tegasnya mengapa irfan
menurut anda bisa menjembatani akal dan wahyu? apa alat analisis irfan? juga
bagaimana penjelasan lebih jauh dari penyaksian ruhani dan penyingkapan
batin? menarik nampaknya. 
terakhir, jika anda mengatakan bahwa irfan adalah pengetahuan yang tidak
melalui indra, pernahkah anda sendiri mengalami irfan? 
mudah-mudahan bung muhammad berkenan menjelaskan kepada saya.
Salam..
 


  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Muhammad Friss
Sent: 18 Januari 2008 16:02
To: [email protected]
Subject: Bls: [filsafat] Meanggungkan AKAL dan menegosiasikannya





Itulah paradigma Cartesian-Newtonian, kalau tidak mau menyebutnya
phobia-positivism bagi anda, walaupun telah sukses meningkatkan
kesejahteraan material umat manusia, namun akhirnya menggiring umat manusia
ke dalam kubangan krisis multidimensional dalam kehidupannya, seperti
penghancuran masal oleh militer akibat penggunaan senjata nuklir, kimia,
biologi militer; kerusakan lingkungan hidup oleh polusi, degradasi,
exploitation-depletion (eksploitasi sampai habis menipisnya Sumber Daya
Alam); fragmentasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi, urbanisasi,
fragmentasi & konflik sosial akut, keterasingan psikologis manusia dari hal
yang alami, sosial dan tenikal.

 

saya menawarkan kecelakaan logika anda dengan konsep 'Irfan (gnosis). Konsep
Irfan adalah ilmu pengetahuan tertentu yang diperoleh tidak melalui indera
maupun pengalaman (positivisme-empirisme & eksperimentasi), tidak pula
melalui rasio atau cerita orang lain, melainkan melalui penyaksian ruhani
dan penyingkapan batiniah. Kemudian fakta tersebut digeneralisasikan menjadi
suatu proposisi yang bisa menjelaskan makna penyaksian dan penyingkapan
tersebut antara lain melalui argumentasi rasional (misalnya dalam filsafat
iluminasi (Isyraqiyah). Inilah yang disebut dengan Irfan (teoritis). Dan
karena penyaksian dan penyingkapan tersebut dicapai melalui latihan-latihan
ruhaniyah (riyadah) khusus dan perilaku perjalanan spiritual tertentu (syair
wa suluk) maka yang terakhir ini disebut Irfan 'Amali (praktik
Sufisme/Tashawwuf). inilah konsep yang tawarkan sebagai jembatan antara
penalaran akal dan wahyu, yang memang membatasi akal sekaligus memungkinkan
penalaran yang tak terbatas dalam dimensi prespektif yang berbeda.

 

gimana bung....


----- Pesan Asli ----
Dari: qalam26 <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 18 Januari, 2008 2:02:59
Topik: [filsafat] Meanggungkan AKAL Merendahkan WAHYU



Manusia kerap kali meninggikan akalnya dan merendahkan wahyu dengan 
akalnya. padahal akal merupakan bagian dari ciptaan tuhan yang 
menurunkan wahyu tersebut. Dengan akalnya manusia menolak wahyu dan 
menggelarinya dengan kata wahyu tidak lagi relevan dengan zaman.
sehingga ia lebih berpihak pada hukum yang dibuat oleh akalnya dan 
para pemikir barat dalam menentukan HALAL-HARAM, BAIK dan BURUK. 
sehingga tak pelak lagi mereka menghalalkan apa yang diharamkan alloh 
dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh alloh. 

ITULAH NAMANYA ORANG YANG MEMPERTUHAKAN AKALNYA





  _____  

Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>
Answers 

 

Kirim email ke