sumber:
http://lpmhayamwuruk.com/2008/01/diperlukan-kajian-khusus-sastra.html
  <http://lpmhayamwuruk.com/2008/01/diperlukan-kajian-khusus-sastra.html>
Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku
"Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" (8/1). Menurutnya, dewasa ini
banyak sekali buku-buku sastra hasil terjemahan yang bisa dengan mudah
ditemukan di rak-rak toko buku, namun hingga kini belum ada satu kajian
khusus terhadap karya-karya sastra hasil terjemahan itu.

Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya
terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari
pihak akademisi atau kritikus.

"Masalahnya, kita akan meletakkan buku ini di rak mana. Di jurusan
Sastra Inggris Undip tak ada satu kajian tentang sastra terjemahan.
Seharusnya ini diperlukan. Bisa dibuka untuk Jurusan Sastra Inggris
maupun Sastra Indonesia".

Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil
terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama
halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas,
selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.

Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang
lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih
jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling
mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target
sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan
situasi cerita secara lebih dekat.

Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai
istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam
bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang
terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan
yang dikenal oleh orang Indonesia.

"Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?" tanya Siswo

Selain itu, Siswo juga mengritik beberapa bagian yang hilang yang
membuat kesatuan dalam buku itu menjadi rusak. Mula-mula ia memberikan
catatan pada cover, apakah lukisan karikatur di sampul itu berdifat
ikonis atau indeksikal. Bagian yang hilang yakni adalah alusi nietchzean
yang seharusnya dipertahankan. Ini akan mampu menjelaskan bagaimana Poe
bisa keluar dari penderitaan.

Mengenai penerjemahan dalam buku ini, Aulia memberikan masukan agar
penerjemah berani menerjemahkan teks dengan tidak terikat dari teks
asal. Menerjemah tidak cukup memindahkan kata atau mencari padanan. Tapi
lebih jauh dari itu, bagaimana bisa memindahkan impresi-impresi saat
membaca karya tersebut ke dalam hasil terjemahan.

Menanggapi kritikan-kritikan dari para pembicara, Tia Setiadi justru
merasa berterima kasih kepada kedua pembicara yang menurutnya sangat
kritis. "Dari dua kali diskusi buku yang diadakan di Yogya dan Solo,
baru kali ini saya mendapatkan kritikan yang pedas. Ini forum yang
paling cerdas," katanya.

Namun demikian, baginya dalam penerjemahan tetap akan ada yang hilang
dan semuanya tak bisa seperti asalnya. Dan ia mengatakan, penulisan
biografi dari sumber terjemahan belum banyak dilakukan di Indonesia
bahkan dia berani mengklaimnya sebagai penulis yang pertema
melakukannya.

Ia mengakui menyusun buku ini sebagai upaya untuk membuat dokumentasi
proses kreatif para penulis yang menurutnya tradisi ini di Indonesia
masih sangat kurang.

Sebelum buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" ini, dia sudah
menerjemahkan buku pelukis Van Gogh yang hidupnya juga amat dramatis.
Setelah buku yang kedua ini dia merencanakan akan membuat seri yang
sama, yakni biografi penyair Amerika Walt Whitman.

Apa yang dilakukan oleh Tia Setiadi ini adalah usaha yang patut
diapresiasi. Buku ini memberikan kontribusi yang amat berharga untuk
khasanah sastra di negeri ini. Apa yang dilakukannya sangat berbalik
arah dengan mereka yang menggarap buku yang dipastikan akan banyak
pembacanya karena mengangkat topik-topik populer. Sementara buku ini
kecil kemungkinan untuk mendapatkan pembaca dari kalangan luas. Tak
salah memang jika Tia menulisnya karena kecintaan.

Kirim email ke