Pada malam pergantian tahun Masehi 2008 kemarin Indonesia meniup terompet
"pret-pret-pret" mengucapkan selamat tahun baru. Kembang api dan mercon
triunan rupiah dinyalakan disertai teriak "horee.. selamat tahun baru".
Anak-anak muda kota membuat acara khusus dengan teman dan kekasih. Semua
stasiun televisi swasta membuat acara khusus tahun baru. Ada juga kegiatan
yang lebih "mendalam" berupa renungan akhir tahun bidang politik, ekonomi,
sosial-budaya di setiap sudut koran, majalah dan stasiun televisi, bahkan di
forum seminar atau masjid. Ada juga dzikir menyambut tahun baru 2008.

Sementara itu di malam tahun baru Hijriyah bedug-bedung dibunyikan,
nyanyian-nyanyian "islami" dilantunkan. Aktivis pemuda mengadakan acara
"gerak jalan hijrah". Ada yang menggelar dzikir dan tabligh akbar bertema
hijrah Nabi, ukhuwah islamiyah sampai khilafah. Yang lebih "berbudaya"
menggelar acara malam satu syuro, ada acara "tapa diam keliling beteng",
berdoa kehadirat Tuhan dan merenugi diri. Ada juga grebeg syuro, pagelaran
Reog Ponorogo dan larung do'a di telaga.

Tidak ada yang bisa memberikan argumen ilmiah kenapa acara rame-rame dan
renungan itu diadakan pada saat itu juga, dan tidak di waktu yang lain.
Banyak yang tahu bahwa penanggalan Masehi atau kalender Matahari itu juga
melewati sebuah peristiwa yang rumit dan tidak ilmiah: pemotongan hari dan
tanggal untuk mendapatkan hitungan mula-mula yang pantas.

Juga, penetapan hijrah Nabi sebagai tahun pertama dalam penanggalan Bulan,
kenapa tidak kelahiran Nabi, atau tahun diutusnya Muhammad sebagai Rasul?
Padahal semua bisa diberi argumen. Banyak juga yang tahu bahwa secara
astronomis atau berdasarkan hitungan ilmu falak Nabi tidak hijrah pada bulan
Muharram tapi bulan ke-3 Rabiul Awwal. Semua orang dari berbagai latar
belakang intelektual sepakat "pokoknya" ada sebuah pergantian tahun, titik
mulai baru, titik nol, dan tidak perlu didebat lagi.

Kalau dua-duanya tidak perlu didebat, maka mungkin yang perlu didebat adalah
kenapa rame-rame dan perenungan tahunan itu mesti diadakan dua kali? Orang
Islam semua tahu kalau "gerak" Matahari Bumi dan Bulan yang menjadiacuan dua
kalender yang berbeda itu pun sama-sama ciptaan Tuhan mereka.

Jika kalender Jawa dan Islam bisa disatukan, sayangnya gerak Matahari dan
Bulan (dilihat dari bumi) itu yang menjadi acuan itu tidak mungkin sama
sepadan, paling-paling hanya bergerak bersama dalam waktu yang singkat
selanjutnya berjauhan lagi.

Maka di Bumi ini yang terjadi selamanya adalah sebuah "benturan peradaban
kecil" yang secara ideal tidak perlu terjadi karena melibatkan orang-orang
yang rumit dan bisa jadi oleh subyek yang sama: antara penduduk dunia yang
(sat ini) dominan dan dunia Islam, atau antara Indonesia yang mayoritas
Islam dan umat Islam Indonesia.

Pada saat tertentu benturan kecil itu memang tidak terasa. Perbenturan itu
hanya ada di benak umat Islam sendiri, atau antara umat Islam dengan yang
disangka sebagai tidak Islam. Dan pada saat tertentu pula benturan itu
menjadi sangat terasa. Benturan bisa sangat keras seperti saat benda-benda
langit bertabrakan. "BDuuuuuarrr."

Salam
Anam

Kirim email ke