mas verry yg baik pa kbr??
saya kurang mengikuti kronologis PERSIS..
krn saya dibesarkan dilingkungan muhamadiyah :)
barangkali rekan lain ada yg bisa membantu..??

Wassalam
-i2n-
--- In [email protected], Verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Mbak I2n,numpang Tanya, M. Natsir ini apa betul pendiri Persis ?
> kalau betul person yang sama, sekalian saja dibahas.. : )
> 
> 
> At 08:38 PM 15/07/08 -0700, Dwi Irwanti wrote:
> >Sobat muda....
> >
> >Sebuah artikel menarik menjadi perenungan kita bersama,....
> >ketika sebuah kteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta...
> >ketika pribadi santun, bersih, toleran, konsisten, teguh pendirian 
> >bukanlah dongeng belaka..
> >perjalanan pengukir sejarah negeri, panutan bangsa indonesia :)
> >
> >Salam cinta tanah air
> >-i2n-
> >
> >Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk
kehidupan,
> >(Annemarie Schimmel)
> >
> >
> >Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
> >
> >Laporan Utama
> >
> >
> >Sebuah Pemberontakan tanpa Drama
> >
> >
> >
> >Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah
Hollywood: 
> >perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang
flamboyan, dan 
> >akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia 
> >santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan 
> >yang jarang.
> >
> >
> >DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang
puritan. 
> >Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak 
> >berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup 
> >menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri.
Karena 
> >Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang
tak 
> >terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik 
> >yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari 
> >jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar
lingkaran 
> >itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.
> >
> >Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, 
> >­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati
pada 
> >perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan 
> >pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan,
berbicara 
> >apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak 
> >bisa lupa adalah penampilan sang menteri. "Ia memakai kemeja
bertambalan, 
> >sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah 
> >mana pun," kata Kahin.
> >
> >
> >Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah
kelahirannya, 
> >15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan
bahwa 
> >Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer kita.
Masing-masing 
> >memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam
garis 
> >keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya 
> >dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir 
> >menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di 
> >kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak 
> >sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari
Partai 
> >Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya mengenang masa 
> >tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini.
Pluralisme, 
> >waktu itu, sesuatu yang biasa.
> >
> >Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal 
> >yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya 
> >antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan 
> >Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh 
> >kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat
dengan 
> >Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin
bertemu. 
> >Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia
biasa minum 
> >kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit
menjabat 
> >Ketua Central Committee PKI ketika itu.
> >
> >
> >Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad
Natsir, 
> >dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu
itu, 
> >pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalis­me-sekularisme dan 
> >Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam 
> >polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang
tampaknya 
> >tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.
> >
> >
> >Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya "bertemu" lagi dalam
keadaan 
> >yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan
Soekarno 
> >presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik.
Puncak 
> >kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi 
> >Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh 
> >model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi 
> >Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk
menghadang 
> >politik pecah-belah Belanda.
> >
> >
> >Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan
tutur 
> >katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari 
> >konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang
dan si 
> >pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta, 
> >terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu
memihak PKI 
> >dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia 
> >ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa 
> >pengadilan.
> >
> >
> >Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah
enam 
> >tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya 
> >digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, 
> >menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto 
> >membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi 
> >tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia 
> >memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.
> >
> >Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno 
> >dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani
Petisi 
> >50 yang kemudian memberinya stempel "musuh utama" pemerintah Soeharto. 
> >Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun 
> >kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar
kabar 
> >Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang
menjadi 
> >gulag tahanan politik peng­ikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, 
> >tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.
> >
> >Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup 
> >panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang 
> >mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat
kita 
> >sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
ber­sahaja 
> >itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari belakangan ini 
> >kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. 
> >Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam 
> >banyak halaman laporan panjang edi­si ini.
> >
> >sumber : Majalah Tempo
> >
> >
>



------------------------------------

******************************************************
Milis Filsafat
Posting     : [email protected]
Arsip milis : http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
Website     : http://filsafatkita.f2g.net/
Berhenti    : [EMAIL PROTECTED]
******************************************************
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/filsafat/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke