Terima kasih banyak atas infonya Mas Tantan, jadi rasa keingintahuan kami sudah terselesaikan.

Salam,
Dj



At 10:22 AM 21/08/08 +0700, you wrote:
Tepatnya bukan pendiri. Namun salah satu tokoh persis yang sangat dihormati.
Beliau adalah murid A. Hassan (guru Persis). Selain Natsir, ada tokoh Persis lain yang juga teman Soekarno: Isa Anshari.

Semoga membantu

Salam
Tantan

On Wed, Jul 16, 2008 at 1:04 PM, Dwi Irwanti <<mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]> wrote:

mas verry yg baik pa kbr??
saya kurang mengikuti kronologis PERSIS..
krn saya dibesarkan dilingkungan muhamadiyah :)
barangkali rekan lain ada yg bisa membantu..??

Wassalam
-i2n-

--- In <mailto:filsafat%40yahoogroups.com>[email protected], Verri DJ <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak I2n,numpang Tanya, M. Natsir ini apa betul pendiri Persis ?
> kalau betul person yang sama, sekalian saja dibahas.. : )
>
>
> At 08:38 PM 15/07/08 -0700, Dwi Irwanti wrote:
> >Sobat muda....
> >
> >Sebuah artikel menarik menjadi perenungan kita bersama,....
> >ketika sebuah kteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta...
> >ketika pribadi santun, bersih, toleran, konsisten, teguh pendirian
> >bukanlah dongeng belaka..
> >perjalanan pengukir sejarah negeri, panutan bangsa indonesia :)
> >
> >Salam cinta tanah air
> >-i2n-
> >
> >Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk
kehidupan,
> >(Annemarie Schimmel)
> >
> >
> >Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008
> >
> >Laporan Utama
> >
> >
> >Sebuah Pemberontakan tanpa Drama
> >
> >
> >
> >Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah
Hollywood:
> >perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang
flamboyan, dan
> >akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia
> >santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu
teladan
> >yang jarang.
> >
> >
> >DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang
puritan.
> >Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
> >berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang
sanggup
> >menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri.
Karena
> >Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang
tak
> >terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik
> >yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari
> >jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar
lingkaran
> >itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.
> >
> >Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan,
> >­Ge­orge McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati
pada
> >perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan
> >pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan,
berbicara
> >apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak
> >bisa lupa adalah penampilan sang menteri. "Ia memakai kemeja
bertambalan,
> >sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah
> >mana pun," kata Kahin.
> >
> >
> >Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah
kelahirannya,
> >15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan
bahwa
> >Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontempo­rer kita.
Masing-masing
> >memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam
garis
> >keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya
> >dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir
> >menyaksikan agresivitas ­misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di
> >kalangan Islam ­moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak
> >sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari
Partai
> >Masyumi­ ini memimpin Dewan Dakwah­ Islamiyah; seraya mengenang masa
> >tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini.
Pluralisme,
> >waktu itu, sesuatu yang biasa.
> >
> >Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi
bukan hal
> >yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya
> >antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan
> >Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh
> >kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat
dengan
> >Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin
bertemu.
> >Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia
biasa minum
> >kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit
menjabat
> >Ketua Central Committee PKI ketika itu.
> >
> >
> >Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad
Natsir,
> >dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu
itu,
> >pe­ngujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan
nasionalis­me-sekularisme dan
> >Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam
> >polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang
tampaknya
> >tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.
> >
> >
> >Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya "bertemu" lagi dalam
keadaan
> >yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan
Soekarno
> >presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik.
Puncak
> >kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi
> >Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh
> >model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi
> >Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk
menghadang
> >politik pecah-belah Belanda.
> >
> >
> >Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan
tutur
> >katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari
> >konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang
dan si
> >pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuang­an Rakyat Semesta,
> >terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu
memihak PKI
> >dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia
> >ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa
> >pengadilan.
> >
> >
> >Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah
enam
> >tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya
> >digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat,
> >menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu.
Soeharto
> >membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi
> >tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia
> >memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.
> >
> >Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno
> >dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani
Petisi
> >50 yang kemudian memberinya stempel "musuh utama" pemerintah Soeharto.
> >Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun
> >kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar
kabar
> >Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang
menjadi
> >gulag tahanan politik peng­ikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir,
> >tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.
> >
> >Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup
> >panjang, di balik kelemahlembut­annya, ada kegigihan seorang yang
> >mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat
kita
> >sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan
ber­sahaja
> >itu bukan mustahil meskipun penuh tantang­an. Hari-hari belakangan ini
> >kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh.
> >Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam
> >banyak halaman laporan panjang edi­si ini.
> >
> >sumber : Majalah Tempo
> >
> >
>



--
tantan

<http://www.tantanhermansah.co.nr>www.tantanhermansah.co.nr

Kirim email ke