Tepatnya bukan pendiri. Namun salah satu tokoh persis yang sangat dihormati.
Beliau adalah murid A. Hassan (guru Persis). Selain Natsir, ada tokoh Persis lain yang juga teman Soekarno: Isa Anshari. Semoga membantu Salam Tantan On Wed, Jul 16, 2008 at 1:04 PM, Dwi Irwanti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > mas verry yg baik pa kbr?? > saya kurang mengikuti kronologis PERSIS.. > krn saya dibesarkan dilingkungan muhamadiyah :) > barangkali rekan lain ada yg bisa membantu..?? > > Wassalam > -i2n- > > --- In [email protected] <filsafat%40yahoogroups.com>, Verri DJ > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Mbak I2n,numpang Tanya, M. Natsir ini apa betul pendiri Persis ? > > kalau betul person yang sama, sekalian saja dibahas.. : ) > > > > > > At 08:38 PM 15/07/08 -0700, Dwi Irwanti wrote: > > >Sobat muda.... > > > > > >Sebuah artikel menarik menjadi perenungan kita bersama,.... > > >ketika sebuah kteladanan menjadi langka dinegeri kita tercinta... > > >ketika pribadi santun, bersih, toleran, konsisten, teguh pendirian > > >bukanlah dongeng belaka.. > > >perjalanan pengukir sejarah negeri, panutan bangsa indonesia :) > > > > > >Salam cinta tanah air > > >-i2n- > > > > > >Tiada kata akhir untuk belajar seperti juga tiada kata akhir untuk > kehidupan, > > >(Annemarie Schimmel) > > > > > > > > >Edisi. 21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008 > > > > > >Laporan Utama > > > > > > > > >Sebuah Pemberontakan tanpa Drama > > > > > > > > > > > >Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah > Hollywood: > > >perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang > flamboyan, dan > > >akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia > > >santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu > teladan > > >yang jarang. > > > > > > > > >DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang > puritan. > > >Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak > > >berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang > sanggup > > >menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. > Karena > > >Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang > tak > > >terputus: regenerasi kepemimpinan terjadi, tapi birokrasi dan politik > > >yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari > > >jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar > lingkaran > > >itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja. > > > > > >Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, > > >George McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati > pada > > >perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan > > >pertama yang mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, > berbicara > > >apa adanya tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak > > >bisa lupa adalah penampilan sang menteri. "Ia memakai kemeja > bertambalan, > > >sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah > > >mana pun," kata Kahin. > > > > > > > > >Mungkin karena itulah sampai tahun ini—seratus tahun setelah > kelahirannya, > > >15 tahun setelah ia mangkat—tidak sedikit orang menyimpan keyakinan > bahwa > > >Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontemporer kita. > Masing-masing > > >memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam > garis > > >keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya > > >dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir > > >menyaksikan agresivitas misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di > > >kalangan Islam moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak > > >sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteri dari > Partai > > >Masyumi ini memimpin Dewan Dakwah Islamiyah; seraya mengenang masa > > >tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini. > Pluralisme, > > >waktu itu, sesuatu yang biasa. > > > > > >Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi > bukan hal > > >yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya > > >antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan > > >Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh > > >kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat > dengan > > >Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin > bertemu. > > >Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia > biasa minum > > >kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit > menjabat > > >Ketua Central Committee PKI ketika itu. > > > > > > > > >Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad > Natsir, > > >dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu > itu, > > >pengujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan > nasionalisme-sekularisme dan > > >Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam > > >polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang > tampaknya > > >tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya. > > > > > > > > >Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya "bertemu" lagi dalam > keadaan > > >yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan > Soekarno > > >presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. > Puncak > > >kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi > > >Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh > > >model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi > > >Integral, kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk > menghadang > > >politik pecah-belah Belanda. > > > > > > > > >Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan > tutur > > >katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari > > >konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang > dan si > > >pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuangan Rakyat Semesta, > > >terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu > memihak PKI > > >dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia > > >ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa > > >pengadilan. > > > > > > > > >Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah > enam > > >tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya > > >digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, > > >menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. > Soeharto > > >membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi > > >tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia > > >memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter. > > > > > >Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno > > >dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani > Petisi > > >50 yang kemudian memberinya stempel "musuh utama" pemerintah Soeharto. > > >Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun > > >kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar > kabar > > >Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru—pulau di Maluku yang > menjadi > > >gulag tahanan politik pengikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, > > >tapi dunianya dibuat sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal. > > > > > >Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup > > >panjang, di balik kelemahlembutannya, ada kegigihan seorang yang > > >mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat > kita > > >sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan > bersahaja > > >itu bukan mustahil meskipun penuh tantangan. Hari-hari belakangan ini > > >kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. > > >Sebuah alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam > > >banyak halaman laporan panjang edisi ini. > > > > > >sumber : Majalah Tempo > > > > > > > > > > > -- tantan www.tantanhermansah.co.nr
