Kebahagiaan Dalam Keluarga
 
By: M. Agus Syafii
 
Dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu 
sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan najah (berhasil). 
Jika saadah (bahagia) mengandung nuansa anugerah Allah setelah terlebih dahulu 
mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang dicari 
(idrak al bughyah). Falah ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah duniawi 
adalah memperoleh kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni 
menemukan (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus, kebutuhan 
tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi dari yang 
dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial. 
 
Sedangkan falah ukhrawi terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian tanpa 
batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c) kehormatan tanpa ada 
unsur kehinaan dan (d) pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui. 
Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas 
dari ancaman yang menakutkan, misalnya ketika ternyata seluruh keluarganya 
selamat dari gelombang tsunami. Adapun najah adalah perasaan bahagia karena 
yang diidam-idamkan ternyata terkabul, padahal ia sudah merasa pesimis, 
misalnya keluarga miskin yang sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua.
 
Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi horizontal 
dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi kesenangan yang 
diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian kebahagiaan yang 
dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud ketidakmampuan kata-kata. Prof. 
Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan 
kenapa beliau menangis di depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami 
berdimensi vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi. Banyak 
mempelai menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang 
tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.
 
Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. Kebahagiaan 
sesungguhynya dalam kehidupan keluarga bukan ketika akad nikah, bukan pula 
ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu 
mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia 
mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita 
ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan 
hidup susah, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses 
story. Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan 
yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan yang 
sebenarnya.
 
Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah tangga (1) 
isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) lingkungan sosial yang 
sehat dan (4) rizkinya dekat. Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, 
anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang 
sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, 
idealisme dan kegigihan.
 
Wassalam,
M. Agus Syafii
--
Yuk, hadir di kegiatan 'Salam Amalia (SALMA)' jam 8 s.d 11 siang, Ahad, 26 Juni 
2011, di Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. 
Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda sangat berarti bagi kami. Info: 
[email protected] atau SMS 087 8777 12 431, http://agussyafii.blogspot.com/

Kirim email ke