Salam, 

dugaan saya, ke depan akan semakin banyak putera-puteri terbaik Indonesia 
bekerja di luar negeri. Ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Antara lain 
saya kira kejadian seperti yang diceritakan pak Wal itu.

Program beasiswa oleh negara maju untuk putera-puteri terbaik Indonesia adalah 
salah satu program negara tersebut untuk mencari bibit "unggul" untuk bekerja 
di negeri pemberi beasiswa. 

Saya punya 2 orang teman puteri, satunya dapat beasiswa saat dia masih kelas 1 
SMU dari Singapura. Dia memang pintar. Dia dapat beasiswa sampai PT, dan 
sekarang bekerja di perusahaan bagus di Singapura. Karena sudah langsung 
dipesan oleh perusahaan saat dia masih kuliah.

Teman kedua juga puteri. Atas biaya sendiri kuliah Tehnik Arsitektur di Weimar, 
Jerman. Selesai kuliah hanya dua minggu di Indoesia, dan langsung terbang ke 
Singapura. Sekarang dia sudah menjadi Arsitek jajaran kelas Internasional dan 
berkantor di Singapura.

Ketika saya tanya kenapa tidak mau kerja di Indonesia, keduanya kompak bilang 
di LN mereka merasa lebih aman, nyaman, dapat tantangan untuk terus 
berprestasi, dan terakhir juga jujur diakui....pendapatan lebih baik dari di 
Indonesia.

Saya pernah punya pengalaman kerja di salah satu BUMN di Indonesia. Memang 
gajinya untuk ukuran lulusan baru sangat besar. Saat itu saya dapat gaji bersih 
lebih dari 3 juta/bulan, belum ditambah tunjangan ini-itu.
Tapi saya hanya tahan kerja di sana dua tahun, dan hampir stress. Kebetulan 
tugas saya bagian penerimaan pegawai baru. Setiap hari dapat "surat sakti" dari 
orang penting, agar saya memberi nilai tertinggi bagi calon titipan, dengan 
demikian calon diterima. Karena tidak bisa melakukan itu kalau calonnya payah, 
saya terus diancam, dimarah dan bertengkar dengan atasan, dll. Akhirnya saya 
pilih keluar dari pada mati muda.

Sekarang saya tenang di negeri orang. Bukan tidak cinta tanah air, tapi di sini 
saya bisa memperoleh hidup, dan hidup dalam kedamaian. Kenapa tidak?

Sedikit info bagi yang minat, untuk negara Jerman dalam 5-10 tahun kedepan akan 
mengalami krisis tenaga kerja. Karena tenaga yang sekarang akan tua, dan di 
Jerman kekurangan anak muda. Hal itu terjadi juga di bidang tenaga kerja 
profesional/ahli. Ini menurut saya peluang bagi putera-puteri Indonesia yang 
berkualitas untuk bersaing memperoleh pekerjaan itu.
Tak tahu saya, apakah info saya ini baik atau buruk atau tidak cinta tanah air, 
silahkan masing-masing menilainya.

Salam
Mulyadi


walsuparmo <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:                                  Salam,
 
 Putera kawan saya yang lulus suatu Universitas Tehnik di Jerman 
 karena berpestasi baik menjadi asisten pengajar di universitas 
 itu.Karena ia  belum menikah dan orang tuanya mengendaki ia segera 
 pulang ke Indonesia. Dengan susah payah ayahnya dapat memasukkan 
 bekerja di suatu industri di Bandung karena kebetulan ayahnya kenal 
 dengan tokoh industri itu apalagi si putera adalah semacam adik 
 kelasnya.
 
 Berlangsung kurang lebih 3 bulan dan suatu malam si ayah menerima 
 tilpon dari puteranya, dan ayah bertanya: "bagaimana  kabarnya di 
 Bandung?". Jawaban si putera: "Maaf pak saya tidak tahan bekerja  di 
 Bandung dan sekarang sudah kembali di Aachen(Jerman) lagi.Kalau saya 
 bicara dengan Bapak terlebih dulu, pasti jadi ribut karena pasti 
 bapak tidak setuju."
 
 Wasalam,
 Wal Suparmo
 
                
---------------------------------
NEU: Fragen stellen - Wissen, Meinungen und Erfahrungen teilen. Jetzt auf 
Yahoo! Clever.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke