maap nih kalo ternyata yang saya cerita gak nyambung,..cuman pas kesempatan 
baca email dari pak Mul, saya bisa mengerti dengan cerita pak Mul, jadi pengen 
komen, berdasarkan pengalaman sendiri aja sih ...
 
saya juga sering bikin perbandingan dengan kondisi di Indonesia dengan waktu 
saya tinggal di luar...memang ujung2 nya pualing enak tinggal di sini.
 
generasi indonesia baru yang pergi menimba ilmu dan tidak (mau) kembali, 
sebenernya bukan karena gak cinta indonesia sih.. tapi karena mereka berhak 
untuk mengambil keputusan demi kebaikan diri sendiri dulu..di luar sana itu 
hidup lebih susah dari pada di negara sendiri.. saya yakin mereka2 ini tetap 
kangen makan kenyang 5000 rupiah di sini, cuci masak strika ada pembantu, dari 
pada 15.000 - 20.000 rupiah kalo terpaksa beli 1 botol kecil air putih, cuci 
baju sendiri, strika sendiri... apa enak nya kan :) ..

surat sakti yang pernah di terima pak Mul itu pun saya juga sering dapat waktu 
saya kerja di perusahaan swasta juga, juga termasuk titipan2 sakti dari kerabat 
saya...cuman lama2 saya gerah, saya hanya membuat orang enjoy life dengan 
menjadi 'parasit'..kalau bagus sih gak apa2, tapi banyakan justru cuman duduk 
rapi enak karena merasa ada 'back up' nya..
waah rasa nya kok gak pengen banget melahirkan orang2 yang seperti ini 
ya...sekarang saya gak mau terima2 surat/titipan sakti 

-- wah lega aku uda kasi komen di forum ini... :) .. sekali lagi maaf kalo 
ternyata email komen saya rada basi..

have a good day

casa.

 


www.elephire.blospot.com
www.asia-antiques.blogspot.com
www.aladinpictures.com
www.pobsolution.com




----- Original Message ----
From: mulyadi stephanus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 6, 2007 3:03:20 AM
Subject: RE: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: More than half Singaporeans hate 
Indonesian workers?

Salam, 

dugaan saya, ke depan akan semakin banyak putera-puteri terbaik Indonesia 
bekerja di luar negeri. Ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Antara lain 
saya kira kejadian seperti yang diceritakan pak Wal itu.

Program beasiswa oleh negara maju untuk putera-puteri terbaik Indonesia adalah 
salah satu program negara tersebut untuk mencari bibit "unggul" untuk bekerja 
di negeri pemberi beasiswa. 

Saya punya 2 orang teman puteri, satunya dapat beasiswa saat dia masih kelas 1 
SMU dari Singapura. Dia memang pintar. Dia dapat beasiswa sampai PT, dan 
sekarang bekerja di perusahaan bagus di Singapura. Karena sudah langsung 
dipesan oleh perusahaan saat dia masih kuliah.

Teman kedua juga puteri. Atas biaya sendiri kuliah Tehnik Arsitektur di Weimar, 
Jerman. Selesai kuliah hanya dua minggu di Indoesia, dan langsung terbang ke 
Singapura. Sekarang dia sudah menjadi Arsitek jajaran kelas Internasional dan 
berkantor di Singapura.

Ketika saya tanya kenapa tidak mau kerja di Indonesia, keduanya kompak bilang 
di LN mereka merasa lebih aman, nyaman, dapat tantangan untuk terus 
berprestasi, dan terakhir juga jujur diakui....pendapata n lebih baik dari di 
Indonesia.

Saya pernah punya pengalaman kerja di salah satu BUMN di Indonesia. Memang 
gajinya untuk ukuran lulusan baru sangat besar. Saat itu saya dapat gaji bersih 
lebih dari 3 juta/bulan, belum ditambah tunjangan ini-itu.
Tapi saya hanya tahan kerja di sana dua tahun, dan hampir stress. Kebetulan 
tugas saya bagian penerimaan pegawai baru. Setiap hari dapat "surat sakti" dari 
orang penting, agar saya memberi nilai tertinggi bagi calon titipan, dengan 
demikian calon diterima. Karena tidak bisa melakukan itu kalau calonnya payah, 
saya terus diancam, dimarah dan bertengkar dengan atasan, dll. Akhirnya saya 
pilih keluar dari pada mati muda.

Sekarang saya tenang di negeri orang. Bukan tidak cinta tanah air, tapi di sini 
saya bisa memperoleh hidup, dan hidup dalam kedamaian. Kenapa tidak?

Sedikit info bagi yang minat, untuk negara Jerman dalam 5-10 tahun kedepan akan 
mengalami krisis tenaga kerja. Karena tenaga yang sekarang akan tua, dan di 
Jerman kekurangan anak muda. Hal itu terjadi juga di bidang tenaga kerja 
profesional/ ahli. Ini menurut saya peluang bagi putera-puteri Indonesia yang 
berkualitas untuk bersaing memperoleh pekerjaan itu.
Tak tahu saya, apakah info saya ini baik atau buruk atau tidak cinta tanah air, 
silahkan masing-masing menilainya.

Salam
Mulyadi

Kirim email ke