Kenaikan kelas di setiap sekolah mempunyai kesibukan yang berkaitan dengan
pengadaan buku, seragam, dan perlengkapan sekolah lainnya yang relevan. Awalnya
saya hanya bertanya kenapa sekolah( dan guru-guru) mau ber-repot-repot ria
ngurusin tetek bengek semuanya itu. Lalu kalau muncul PERSEPSI negatif seperti
yang disebutkan oleh pak Imron (IC) sangat normal ( karena begitulah kita hidup
dan dibesarkan, juga sebagai hasil produk pendidikan tho...kali yeee..).
Aktivitas itu memang menarik untuk dibahas terutama oleh para orang tua
(ibu-ibunya) kadang-kadang sebagai "gosip" bahan tertawaan tapi juga sebagai
reaksi "ketidakberdayaan" menghadapi situasi..Ini hasil "gosip" ibu-ibu di
kantin sebuah sekolah swasta..
Semua kebijakan termasuk pengadaan hal-hal tersebut (buku, seragam,topi,
dasi,..) terlepas ada atau tidak adanya ketelibatan dari Persatuan Orang tua
Murid dan Guru (POMG) tapi mereka berperan..dasar pemikiran pengadaan tersebut
adalah kemudahan para orang tua murid dalam mencari buku (apalagi buku dengan
disain khas sekolah), seragam (apalagi seragam khas sekolah yang bersangkutan),
dan yang menjadi poinnya adalah mereka (para ibu-ibu yang sedang bergosip ria
dikantin sekolah) ok saja---tidak keberatan. Malah menjadi "ritual" yang
"menyenangkan" bagi para ibu-ibu tersebut---sama "menyenangkan"nya ketika
mereka harus ngantri menerima dana BOS yang dibagikan oleh sekolah kalau
dilihat jumlahnya yang hanya sekian puluh ribu rupaih dan tidak sampai seratus
ribu rupiah...dan pengadaan barang-barang tersebut tidak pernah mengatasnamakan
sang guru tapi melalui yang namanya Koperasi Sekolah (salah satu usaha bagi
sang guru untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari---dari sabun mandi
sampai pinjem duit untuk membiayai pendidikan anak sendiri..).
Mengenai kursi, meja...itu hal yang berbeda karena barang-barang tersebut
termasuk dalam sarana dan prasarana yang harus disediakan oleh sekolah sehingga
pengadaannya menjadi tanggung jawab sekolah bukan guru.
salam,
Istiani
Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pungutan dan macam-macam biaya (seragam, buku, kursi) yang Anda sebut
itu tidak dilakukan guru, Boss. Ati-ati kalo bicara. Itu semua dilakukan oleh
lembaga bernama sekolahan. Guru itu pegawainya sekolahan, bukan yang punya
sekolahan.
Bisa nggak disebutkan di sini gaji DPR, menteri, dan presiden itu berapa? Lalu
kita akan lihat keluhan mereka itu masuk akal nggak. Jangan dibanding-bandingin
ama guru, ah. Nggal level! Ntar Anda dikira asbun lho.
manneke