Saya tidak tahu persis apakah persoalan bahasa juga mempengaruhi nasionalisme seseorang. Kalau memang bahasa menjadi salah satu indikator nasionalisme, akan banyak sekali orang Indonesia yang bisa dikatakan kurang nasionalis. Tapi mungkin tidak adil jika berkata demikian. Hampir di seluruh pojok nusantara ini sedikit banyak menggunakan bahasa atau minimal kata-kata asing meskipun dirubah pengucapannya sehingga menjadi kata serapan yang akhirnya masuk dalam kamus ilmiah populer.
Hampir seluruh perusahaan swasta ini menggunakan istilah-istilah yang hampir tidak ada bahasa Indonesia yang murni. Dalam dunia perbankan, keuangan, politik, pendidikan dan sebagainya kebanyakan menggunakan bahasa serapan yang biasa kita sebut kata ilmiah. Bahasa Indonesia asli itu sendiri yang mana, apakah istilah-istilah yang dipakai di Kepolisian, TNI atau Pramuka seperti catur prasetya, sapta marga, bhayangkara, trikora, dwikora, dan seterusnya? Kalau tidak salah itu adalah bahasa Sansekerta. Istilah-istilah ilmiah yang kita gunakan sekarang hampir semuanya adalah bahasa serapan yang kebanyakan dari bahasa Inggris. Apakah ini juga menunjukkan keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia sehingga tidak mampu mewakili kata-kata ilmiah tersebut dalam bahasa Indonesia? Misalkan kata-kata seperti; sinergi, intertekstualitas, filantropi, humaniora dan masih banyak lagi yang bisa saudara-saudara sebutkan jauh lebih banyak dari saya.. Dunia semakin berkembang dengan berbagai macam bentuk istilah-istilah baru yang mewakili penjelasan-penjelasan yang panjang. Bukanlah hal yang mudah membuat istilah-istilah baru itu dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah ilmiah yang sering kita gunakan itu juga hasil dari kerangka-kerangka berpikir yang panjang, hasil dari penelitian-penelitian yang terus menerus. Berapa sih hasil penelitian orang Indonesia dan menjadi satu kerangka berpikir lalu menjadi satu istilah ilmiah yang mengglobal? Seandainya penelitian-penelitian dan proses-proses berpikir seperti itu dilakukan oleh orang Indonesia dan digunakan secara global karena terbukti berguna dan bermanfaat, mungkin istilah-istilah itu akan berbahasa Indonesia. Tapi kenyataannya, kita adalah bangsa yang masih muda, yang masih harus menentukan istilah-istilah kita sendiri. Buah karya pemikiran dari bangsa kita pun masih kalah jauh dalam hal jumlah maupun kualitas. Memang orang-orang pintar bangsa kita semakin banyak, intelektual semakin banyak. Kebanyakan intelektual dari bangsa kita hanya mengolah dan bermain-main dengan sumber, referensi dan data yang tidak kita pungkiri kebanyakan dari luar. Penelitian yang bersifat mendasar sangat kurang. Bangsa kita harus mencetak profesor lebih banyak lagi, orang-orang yang berdedikasi dalam dunia penelitian-penelitian mendasar dan menghasilkan teori-teori baru sehingga akan menghasilkan istilah-istilah baru pula dalam bahasa kita. Kita selalu menerjemahkan buku-buku asing untuk mendapatkan referensi yang lebih banyak dan lengkap. Banyak pula istilah-istilah yang sulit ditemukan padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Ini juga berpengaruh dalam pembentukan popularitas bahasa. Mungkin saja pada masa pak Harto dulu sangat memimpikan bahasa Indonesia bisa menggema, banyak istilah-istilah dalam pemerintahan beserta program-programnya yang berbau entah bahasa Indonesia, bahasa Sansekerta, bahasa serapan Jawa ataupun bahasa daerah lainnya.. Jika memang demikian, saya salut terhadap beliau terlepas dari segala kekurangannya. Kalau memang bahasa sangat berpengaruh terhadap nasionalisme, mungkin harus ada pengkajian mendalam oleh ahli bahasa dan budayawan kita bersama dengan pemerintah. Yang jelas, meskipun sudah dicanangkan suatu program untuk membuat bahasa Indonesia lebih bergema tanpa diimbangi mengembangkan penelitian-penelitan dan pemikiran-pemikiran yang bisa mengalahkan pemikiran-pemikiran asing, maka program itu toh juga juga hanya akan sekedar kembali menjadi wacana bahkan hilang. Karena pada dasarnya manusia akan lebih memilih yang lebih baik. Globalisasi menciptakan ruang pertarungan yang sangat ketat. Bahasa pun tidak lepas dari jerat pertarungan dalam ruang globasasi ini. Maka dari itu marilah bersama-sama kita mengembangkan terus dunia pemikiran dan penelitian sehingga melahirkan istilah-istilah kita sendiri. Kalau punya anak, diberi nama yang berbau Indonesia seperti, Kinanti Pitaloka, Dyah Seka Mawar, Abdi Bangsa, Lintar Sastra. Indonesia banget geto loh he he he --------------------------------- Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta. [Non-text portions of this message have been removed]
