Kalau bicara soal tanggung jawab moral, Pak Didik, semua profesi rasa-rasanya 
punya tanggung jawab moral yang sama besar. Dokter juga gitu. urusannya sama 
nyawa orang. hakim pun juga. Kalo salah vonis, orang tak bersalah bisa masuk 
bui. Tukang becak juga. Bawa penumpang itu sam artinya menanggung beban nyawa 
orang lain. Dalam hal ini, guru bukan rprofesi yang unik sendiri dan istimewa.
   
  Demikian juga kalo bicara soal kebanggaan. semua profesi punya ini. Tapi, 
kebanggaan doang tak bisa memberi makan perut yang lapar, melunasi rumah 
kontrakan dan cicilan motor, apalagi bikin guru jadi melek komputer. Kebanggaan 
itu kontekstual, dibentuk juga oleh banyak faktor di luar diri seseorang.
   
  Krisis guru saat ini adalah kebanggaan mereka sebagai guru, sebagai 
"pahlawan" yang nggak pernah dapat tanda jasa, kini sedang mati pelan-pelan. 
Kebanggaan dan tanggung jawab moral yang ada di pundak mereka sudah terlalu 
banyak dimanipulasi oleh macam-macam pihak untuk melestarikan kemiskinan mereka.
   
  Anda ngajar di Bimbel dibayar 17.500 per 1,5 jam itu ngomong-ngomong di 
Bimbel mana dan tahun berapa? Zaman sekarang kalo masih ada Bimbel kaya gitu ya 
aneh bin ajaib aja.
   
  manneke

Didik Muharam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Anda detail ya pak manneke...

FYI, saya tidak menulis 1000% tukang becak mau jadi guru. Tapi masih ada orang 
yang mau jadi guru.

Saya mencoba melihat dari sisi tanggung jawab moral seorang guru. Bahwa ada 
yang harus lebih dipentingkan daripada uang.
Kalau saya yang sudah bekerja, terus terang belum mau berpindah jadi
guru untuk pekerjaan inti saya.
Tapi untuk seorang tukang becak, saya rasa pasti ingin berpindah
pekerjaan inti.

Kalo dibilang mahal, tiap pertemuan saya hanya dibayar 17500,- (per
pertemuan 1,5 jam). Maksimal 10 pertemuan per minggu.
Bandingkan dengan guru yang 30000 per 40 menit (email terdahulu).

Saya sadar kok, Mungkin saya hanya terpaku pada kondisi guru di kota,
khususnya jakarta. 
Pasti di daerah yang lebih kecil dari Jakarta masih banyak guru yang
kurang ekonominya.
Tapi menurut saya, mereka pasti masih memiliki kebanggaan jadi seorang
guru.

Kirim email ke