Tujuan saya menulis " terlepas dari bagaimana cara menikmatinya." maksudnya fokus pembicaraan saya bukan cara menikmatinya tapi fokus pada cara protes atau komentar komentar atau protes menurut saya sebaiknya tidak berupa sindiran kasar dengan tujuan untuk menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain misalnya menyinggung pendidikan mereka atau lainnya. atau sterotype terhadap pihak tertentu karena tidak semua orang dalam populasi tertentu berkelakuan sama
Mengenai Hal Kedua: Poin yang ingin saya sampaikan Kalau melihat suatu persoalan janganlah terlalu sempit Ukuran kaya atau miskin sangatlah luas tergantung dari persepsi masing masing pihak mengartikannya, orang yang sudah memiliki Mercedes Benz E 320 mungkin masih merasa miskin karena teman sejawatnya memiliki S 600 atau Bentley Tapi orang yang tinggal di rumah petak merasa sudah kaya karena bisa makan 3x sehari tidur cukup anak yang berbakti dll. Kita Hidup dinegara Demokrasi, dampak dari hal tersebut adalah Kapitalisme, kecuali negara kita menganut paham sosialis ceritanya pasti akan berbeda Terima kasih ----- Original Message ----- From: "stephanus_mulyadi" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, March 07, 2007 12:40 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Konvoi Motor Harley Davidson - Pak Harry & Didi > Rekan Jachja dan Rekans, > > Ikut nimbrung juga ya, > Benar sekali pendapat saudara Jachya, bahwa semua orang berhak > menikmati apa saja yang sudah dicapai. Namun sambungan kalimatnya agak > mengganjal bagi saya, " terlepas dari bagaimana cara menikmatinya." > > Menurut saya, bahwa setiap orang MEMILIKI HAK untuk menikmati apa saja > yang sudah dicapai, tidak ada yang menyangkalnya. Namun ketika HAK itu > mau diwujudkan, harus juga melihat dan mempertimbangkan HAK ORANG > LAIN. Nah konvoi PARA Pemilik Harley ini sebagai bentuk pemenuhan HAK > mereka untuk MENIKMATI apa yang telah mereka capai, adalah SAH-SAH > saja. Itu HAK mereka. > Namun, ketika pemenuhan HAK mereka itu terasa menggangu HAK orang lain > pemenuhan hak ini lalu dipertanyakan. Apakah konvoi ini dirasa lebih > baik, lebih bijak dari pada melakukan aktivitas lainnya? > > Mengapa ada sebagian orang yang mendapat keistimewakan di jalan raya > karena memiliki kekayaan (HD juga simbol kekayaan) bahkan dikawal > polisi segala? Sementara para pemakai jalan lainnya harus minggir > untuk memberi jalan pada mereka, bahkan harus menerima kemacetan > gara-gara konvoi itu, atau harus merasa pekak telinganya karena bising? > > Belum lagi menyangkut masalah perasaan, sementara semakin banyak > saudara kita makan nasi aking, sementara banyak ibu-ibu yang antre > beli beras, pada saat yang sama ada sebagian orang yang berkonvoi ria > menunjukkan kekayaan mereka. Di mana rasa persaudaraan kita? Perasaan > ini yang menurut saya justru ingin diwakili oleh Saudara Perpi Thomas > dan mbak Yuliati. > > Hal kedua, menyangkut "kesombongan" dan "arogansi" ibu-ibu RT yang > antre beli beras dan masuk TV. > Saya mencoba memposisikan diri sebagai saudara kita yang makan nasi > aking, dan rasanya juga sulit melihat bahwa ibu-ibu RT itu sedang > menunjukkan kesombongannya atau arogansinya. > Masuk TV karena antre beli beras, apa yang bisa disombongkan dari > situ? Mau sombong karena masih punya kemampuan (uang) untuk beli > beras? Apakah masuk TV itu kemauan mereka sendiri? Lalu apakah mereka > merasa senang bahwa mereka bisa masuk TV karena antre beras? > > Kembali kemasalah konvoi pemilik HD. Tak ada yang salah pada konvoi > tersebut, KALAU konvoi ini TIDAK MENGGANGU HAK orang lain. > > Mohon pencerahannya. > > Salam > Mulyadi
