Romantisme Masyarakat Adil Makmur Perparah Situasi http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/08/humaniora/3369969.htm ======================
Jakarta, Kompas - Delusi kemegahan yang muncul di tengah permasalahan kemiskinan kian mempersulit upaya pemberantasan kemiskinan itu sendiri. Padangan yang cenderung ilusif tentang fakta dan realitas itu justru semakin menyisakan akumulasi masalah kemiskinan yang ironis. "Delusi kemegahan, baik dari teori-teori maupun pemahaman ilusif tentang fakta serta realitas, terebut membuat kita rabun terhadap kenyataan," kata Gumilar Rusliwa Somantri ketika dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu sosiologi perkotaan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP-UI), di Kampus UI Depok, Rabu (7/3). Rapat sidang terbuka yang dipimpin Rektor UI Usman Chatib Warsa tersebut juga ditandai pengukuhan Parwatri Wajono Widyonagoro sebagai guru besar tetap bidang ilmu susastra pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI. Lewat pidato pengukuhan berjudul "Beyond Delusion of Grandeur: Menuju Indonesia Baru 'Bebas' Kemiskinan", Gumilar mengatakan bahwa narasi teoritis tentang kemiskinan turut dibentuk oleh ilmu-ilmu sosial dengan segala turunannya; mulai dari Marxisme, teori Hernando de Soto, dan Muhammad Yunus. "Ilmu sosial banyak mengimpor teori pengentasan kemiskinan dari luar negeri, kemudian menjadi resep yang setengah dikeramatkan. Pendewaan itu tak lepas dari struktur teori yang mengharamkan falsifikasi dan tak jarang diberi perisai besi yang membuatnya kebal terhadap pengujian empiris," ujarnya. Hal itu ikut menyilaukan pandangan atas realitas khas kemiskinan di Indonesia. Teori dan pengalaman yang sukses dalam konteks masyarakat tertentu lalu menjadi utopi yang ingin diterapkan tanpa refleksi. Romantisme kebangsaan Delusi kemegahan lainnya tak lepas dari ilusi tentang fakta seperti romantisme masyarakat adil dan makmur, euforia demokrasi dan keterberian modal sosial. Romantisme kebangsaan berupa utopi masyarakat adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi yang dikaitkan dengan suatu fase tertentu dalam sejarah Indonesia, bagi kebanyakan orang sering dipersepsikan sebagai hal riil. Padahal, hampir dipastikan tidak demikian atau bersifat relatif. Contoh lain ialah euforia demokrasi yang berlebihan dan diartikan keliru. Demokrasi seakan langsung menciptakan rasa keadilan, pemerataan, dan kebahagiaan. Padahal, demokrasi adalah alat mencapai kesejahteraan dan perlu perjuangan yang panjang. Ilusi lain ialah modal sosial yang seakan sudah terberi atau tersedia. Kepercayaan, nilai, dan jaringan dianggap telah ada pada tingkat akar rumput. Padahal, ditataran kenyataan justru egoisme merebak, persaingan tidak sehat dan konflik bermunculan. Menurut Gumilar, menangani kemiskinan harus secara sistematik, konkret, konsisten dan dengan komitmen yang kuat. Upaya pengentasan kemiskinan di perkotaan, misalnya, perlu dimulai dengan langkah legalisasi hak atas tanah dan pemberdayaan ekonomi rumah tangga. Adapun di pedesaan dimulai dengan reformasi agraria (land-reform), modernisasi pertanian, "industrialisasi" pascapanen, pengembangan industri kecil dan transmigrasi dengan format berbeda, yakni dengan model penumbuhan ruang sosial baru. (ksp/INE)
