Untuk saya, jumlah jasa2 pak Harto ibarat segelas air susu sedangkan 
dosa2-nya ibarat seember, bukan setitik, nila. 

IMO, jasa pak Harto untuk negara yg terbanyak terwujud sebelum 
beliau jadi presiden, sebelum anak2-nya menjadi dewasa - walaupun 
sudah ada beberapa kroni2 beliau (Ibnu Sutowo, dsb), bahkan bu Tien 
sendiri yang menggunakan kekuasaan negara untuk mewujudkan impian 
sendiri (mis. penggusuran pemukiman terbesar pertama demi proyek 
TMII adalah inisiatif ibu Tien).

Malam kemaren saya nonton salah stasion TV dengan acara yang 
membahas yayasan2 yang disponsori pak Harto. Daftar yayasan2 bisa 
dilihat di 

http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2007/04/04/nrs,20070404-
01,id.html

Walaupun stasion TV (sayang lupa namanya) tsb hanya membahas Yayasan 
Dharmais, tetapi perkiraan dana yang di-`sumbang'-kan yayasan 
Dharmais ke lembaga2 bisnis (group Nusamba, Sempati Air, dsb) bagi 
saya sangat besar (ingat, nilai berikut adalah nilai di masa orde 
baru): 210 M.

Bukan cuma besar `sumbangan' yang memprihatinkan kita, tetapi 
cara `menyumbang'-kan dana yayasan2 tsb yang lebih memprihatinkan. 
Misalnya, sungguh lucu bin ajaib ketika perusahaan bisnis Nusamba 
milik seorang pengurus Yayasan Dharmais (Bob Hassan) mendapat 
suntikan dana dari Yayasan Dharmais. Lebih parah lagi suntikan dari 
pendiri/ sesepuh (?) Yayasan Dharmais, eyang Soeharto, untuk 
perusahaan milik anak sendiri (Sempati Air).

Jangan tanya subsidi atau katabelece untuk melicinkan impor mobil 
Timor, pembangunan berbagai jalan tol dg salah satu pemilik saham 
kontraktor utamanya mbak Tutut, jangan tanya aturan hukum penyiaran 
di akhir tahun 1980-an merubah yang memaksa TVRI harus bersaing di 
udara dengan satu2-nya TVswasta (RCTI) dg saham yg sebagian dimiliki 
anak pak Harto. Mungkin karena iri, mbak Tutut ikut membidani TPI 
dengan mengatasnamakan pendidikan :-).

Salam

--- In [email protected], manneke budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Perhatikan bahwa semua kata kerja yang saya pakai untuk atribut 
Pak Harto diapit oleh tanda kutip. Jadi, mohon tak diartikan secara 
harfiah.
> 
>   1. Korupsi memang telah ada sejak zaman dahulu kala. Tapi, 
korupsi yang disponsori negara baru di Indonesia ada zaman Orba. 
Zaman Belanda, kalo ketauan korupsi langsung digebuk. Zaman Orba, 
korupsi boleh asal direstui dan "bagi-bagi" dengan penguasa 
tertinggi. Jadi, nggak salah kalo dibilang bahwa Orba "melahirkan" 
Indonesia yang korup (bukan Majapahit, bukan VOC, tapi INDONESIA).
> 
>   2. Yang sudah jelas dipalsu secara vulgar dan abis-abisan adalah 
sejarah Indonesia sejak 1945 hingga 1966, dan ini ulahnya Orba. 
Apakah Negarakertagama, Pararaton, dsb, juga memalsukan sejarah? 
Entahlah. Anda punya sumber, atau cuma bermungkin-mungkin saja? 
Jangan lupa, kitab-kitab Pararaton dan Negarakertagama ditulis untuk 
raja-raja penguasa masa itu, bukan untuk pelajaran sejarah rakyat. 
Ilmu sejarah modern bekerja atas dasar ilmiah dan merupakan bagian 
dari pendidikan publik. Jadi, tak sepenuhnya sama dengan kitab-kitab 
kronikel zaman dahulu.
> 
>   3. Ya memang itulah maksud dari tanda kutip pada 
kata "menciptakan". Kalo secara harfiah ditafsirkan bahwa Suharto 
pencipta budaya Jawa, ya memang jadi tak masuk di akal. Hang loose, 
my friend.
> 
>   manneke
> 
> Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Saya kira, pertanyaan saya tidak terbalik. Soeharto 
adalah produk masyarakat dan budayanya. Tanpa ada Soeharto pun, 
penyimpangan-penyimpangan dalam masyarakat (termasuk Jawa) sudah ada 
sejak dulu. Dengan kata lain, penyimpangan (deviance) sebenarnya 
merupakan realita yang "inherent" dalam setiap masyarakat. 

Kirim email ke