Kasihan bagat dasar menghitung jasa/budi baik dengan
kejahatan atau disangkakan jahat, dan seterusnya. Baik
dan jahat adalah relatif. Kebenaran dan kejahatan juga
relatif, selama kita hidup sebagai manusia. Ini bukan
pandangan relativisme, tetapi sekedar mengarahkan kita
berpandangan proporsional: tidak relativistis,
SEBALIKNYA serba mutlak. Kebaikan dan kejahatan
terkadang berdiri tidak sebagai obyek (baca:
obyektivitas), tetapi dari sudut pandang. Jeanne d'Arc
adalah pengkhianat bagi bangsa Perancis (bangsanya
sendiri), tapi ia pahlawan bagi bangsa Inggris (musuh
bangsanya). Sudut pandang memang tidak mutlak. Yang
mutlak adalah obyektivitas yang diteguhkan dengan
totalitas memandang, seperti diantarkan Puteri Roeslan
Abdoelgani. Selama kita melihat pak Harto secara
spesifik/spasial, siapa pun 
akan hanya melihat buruk-buruknya saja, atau
SEBALIKNYA


--- loekyh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Untuk saya, jumlah jasa2 pak Harto ibarat segelas
> air susu sedangkan 
> dosa2-nya ibarat seember, bukan setitik, nila. 
> 
> IMO, jasa pak Harto untuk negara yg terbanyak
> terwujud sebelum 
> beliau jadi presiden, sebelum anak2-nya menjadi
> dewasa - walaupun 
> sudah ada beberapa kroni2 beliau (Ibnu Sutowo, dsb),
> bahkan bu Tien 
> sendiri yang menggunakan kekuasaan negara untuk
> mewujudkan impian 
> sendiri (mis. penggusuran pemukiman terbesar pertama
> demi proyek 
> TMII adalah inisiatif ibu Tien).
> 
> Malam kemaren saya nonton salah stasion TV dengan
> acara yang 
> membahas yayasan2 yang disponsori pak Harto. Daftar
> yayasan2 bisa 
> dilihat di 
> 
>
http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2007/04/04/nrs,20070404-
> 01,id.html
> 
> Walaupun stasion TV (sayang lupa namanya) tsb hanya
> membahas Yayasan 
> Dharmais, tetapi perkiraan dana yang
> di-`sumbang'-kan yayasan 
> Dharmais ke lembaga2 bisnis (group Nusamba, Sempati
> Air, dsb) bagi 
> saya sangat besar (ingat, nilai berikut adalah nilai
> di masa orde 
> baru): 210 M.
> 
> Bukan cuma besar `sumbangan' yang memprihatinkan
> kita, tetapi 
> cara `menyumbang'-kan dana yayasan2 tsb yang lebih
> memprihatinkan. 
> Misalnya, sungguh lucu bin ajaib ketika perusahaan
> bisnis Nusamba 
> milik seorang pengurus Yayasan Dharmais (Bob Hassan)
> mendapat 
> suntikan dana dari Yayasan Dharmais. Lebih parah
> lagi suntikan dari 
> pendiri/ sesepuh (?) Yayasan Dharmais, eyang
> Soeharto, untuk 
> perusahaan milik anak sendiri (Sempati Air).
> 
> Jangan tanya subsidi atau katabelece untuk
> melicinkan impor mobil 
> Timor, pembangunan berbagai jalan tol dg salah satu
> pemilik saham 
> kontraktor utamanya mbak Tutut, jangan tanya aturan
> hukum penyiaran 
> di akhir tahun 1980-an merubah yang memaksa TVRI
> harus bersaing di 
> udara dengan satu2-nya TVswasta (RCTI) dg saham yg
> sebagian dimiliki 
> anak pak Harto. Mungkin karena iri, mbak Tutut ikut
> membidani TPI 
> dengan mengatasnamakan pendidikan :-).
> 
> Salam

Kirim email ke